Engagement

Pernah dengar kata engagement? Bagian HRD pasti familiar dengan istilah ini. Staf rekruitment terbiasa hunting tenaga kerja yang memiliki jiwa Engaged. Agar mudah dan gampang paham makna kata tersebut bagus kita kupas dulu pengertian Engagement.

Mudahnya begini. Saat usia remaja beranjak dewasa. Sebelum memasuki jenjang permikahan ada proses tunangan. Tunangan sebagai langkah mencari kecocokan visi, kepercayaan dan Care atau cinta. Bertunangan itu langkah menentukan. Kadang kadang saat proses tungangan tidak berjalan mulus. Karena tidak sejalan. Pernikahan tidak jadi dilangsungkan.

Nah kalau di perusahaan ada karyawan tidak cocok dan sejalan dengan perusahaan itu tandanya sang karyawan tidak engaged.

Bukankah kita sering melihat karyawan meninggalakan perusahaan, atau menceraikan perusahaan. Ya Engagement itu adalah tunangan antara perusahaan dengan karyawan.
Namanya juga tunangan makanya harus memiliki kecocokan.
Secara harfiah, terjemahan kata Engagement adalah “pertunangan”, yakni sebuah komitmen awal untuk berjalan menuju ikatan pernikahan secara resmi.

Bagian recruitment menjadi ujung tombak mencari calon tenaga kerja untuk perusahaan. Pekerjaan bagian recruitment tidak mudah dan sederhana. Kadang kadang untuk mendapatkan tiga orang tenaga kerja saja harus melakukan psikotes terhadap puluhan pencari kerja. Begitulah, mencari yang pas dan cocok juga butuh proses dan kompetensi.

Tak sekadar comot begitu saja di pinggir jalan.
Mudahnya agar lebih paham makna Engagement maka kita coba lihat uraian di bawah ini berdasarkan Om Gallup. Apa sajakah itu.

Menurut Gallup ada tiga jenis karyawan di dalam sebuah organisasi. Yang pertama adalah karyawan yang engaged, yaitu mereka yang bekerja dengan semangat tinggi dan merasakan ikatan kuat dengan perusahaannya.

Karyawan model begini menurut saya adalah andalan perusahaan. Sayang kalau karyawan engaged diterlantarkan atau tak dijaga. Dialah asset penting penting. Model begini tak bermain politik kantor. Fokusnya pada peningkatan kinerja dan performance perusahaan.

Kedua adalah karyawan yang not-engaged, . Mereka menjalankan rutinitas pekerjaan sehari-hari semata-mata kewajiban belaka, tidak lebih. Mereka menghabiskan waktunya di tempat kerja, tanpa mencurahkan energi dan semangat kerja sebagaimana mestinya. Makan gaji buta. Datang ke kantor, absen, duduk, akhir bulan gajian. Tak fokus kontribusi ke perusahaan. Model begini banyak lho. Wk wk wk .

Ketiga adalah karyawan yang actively-disengaged, yaitu mereka yang tidak puas dan bahagia lagi di tempat kerja. Mereka sibuk mengumbar ketidakpuasan, dan bahkan ikut mempengaruhi dan merusak moral teman-teman kerja di sekitarnya.

Banyak saya amati model begini yang biasanya mengkompori pekerja dan akhirnya dapat melumpuhkan moral karyawan dan pada akhirnya membuat perusahaan benar benar lumpuh karena tak ada gairah kerja.

Saya menyebut karyawan begini adalah racun di perusahaan. Kalau kena racunya bisanya bisa melumpuhkan. Demotivasi, amarah, kesal, jadi berpikiran negatif. Tipe begini kadang kadang terlihat pintar dan menguasai banyak pengetahuan. Kalau mengkritik orang lain pedes tapi tak bisa kerja. Mungkin mendekati Istilah Rhenald Kasali kali, type FIX Mindset.

Kalau dalam istilah Kid jaman now mungkin type karyawan actively-disengaged itu adalah pekerja yang kebanyakan makan micin.

Survei Gallup’s State of Global work place menunjukkan secara keseluruhan di dunia, jumlah karyawan kelompok Karyawan bekerja secara Engaged, hanya sekitar 13%. Kecil banget ya bro.

Ya begitulah gambaran pekerja di perusahaan. Makanya kalau sudah punya karyawan kategori Engaged ya di rawat. Sayang lho kalau akhirnya mengakhiri pertungangan dan pindah ke lain hati alias perusahaan.

Karyawan yang berkategori engaged itu tak merepotkan kok. Mereka punya kepedulian untuk mandiri dan terus belajar. Karyawan jenis ini memang langka. Mereka punya Visi, Care sama perusahaan dan memiliki Karakter. Ketiga nilai nilai itulah yang membuat karyawan engaged selalu bersinar di mata Pelanggan external. Tapi kadang kadang jadi musuh di dalam perusahaan. Ya, dimusuhi oleh Pelanggan Internal sendiri. Biasanya di negeri ini banyak orang reaktif. Kalau melihat orang lain sukses bukanya mendukung tapi panas hati. Nah lho.

Kalau Anda berada di bagian HRD tentu bisa memetakan karyawan type Engaged. Kalau tak memiliki datanya anda sungguh terlalu. Wk wk wk . Peace.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: