RIP Budaya Literasi

Ketika usianya 4 tahun ia telah membaca seribu buku. Namanya adalah Daliah Marie Arana. Perpustakaan Nasional Amerika Serikat (Library of Congress) mengundangnya untuk melakukan tur dan memberikan kartu anggota Perpustakaan Nasional kepada Daliyah. Saya begitu kagum kepada orang tuanya. Angkat topi buat si cantik Daliah. Andai orang tua di negeri ini mengutamakan hadiah buku ke anak anaknya, bisa jadi tingkat literasi Bangsa ini, bisalah di urutan atas. Semoga.

 

Daliah

Kalau tak salah waktu saya berada di Batam ada rencana membangun gedung perpustakaan besar. Bagaimana kabarnya sekarang ya? Malah yang terjadi pengangguran banyak dan kesannya warga Batam menolak perubahan. Terjebak di zona nyaman (comfort zone). Apakah Batam akan menjemput kematiannya seperti kisah Kurcaci dalam buku who move my cheese. Ah semoga tidak lha ya. Sayang sekali Batam yang sudah susah susah dibangun malah terkesan berjalan ke belakang.

Di tahun 1999 saya inisiatif membangun komunitas Ikatan Penggemar Jurnalistik Batamindo (IPJB) membernya sedikit dari 15.000 warga dormitory hanya 30 -an orang yang mau belajar jurnalistik. Warga dorm lainnya memilih komunitas sesuai selera masing masing. Namun lebih banyak yang suka ke Pantai dan mall. Setelah 18 tahun kutelusuri mantan anak IPJB sudah banyak sukses. Tidak sia sia juga belajar menulis yang modalnya adalah wajib membaca secara teratur (budaya Literasi).

Kini IPJB tinggal nama alias sejarah.

Kini ketika budaya hedonis dan daya saing makin rendah serta kompetensi yang juga masih jalan di tempat, modal utama belajar dan membaca (literasi) tidak menampakkan tanda tanda kebangkitan. Entah sembunyi di mana.

Kecewa.

Kuingin mendatangi arwah Ki Hajar Dewantara agar hidup kembali dan melecut semangat anak anak muda. Ku ingin berlutut di depan Buya Hamka agar kembali bangkit dan mendorong Anak Bangsa menjadi manusia pembelajar. Ku ingin berteriak di kuburan Pramoedya Ananta Toer agar bangkit dan mendorong pemuda menjadi penulis produktif. Agar Bangsa ini tetap utuh sebagai NKRI. Agar negeri ini tetap satu tanpa dikoyak oleh Sudut pandang yang dangkal, karena lebih suka memilih jadi bangsa yang paling cerewet di banding bangsa yang kuat di Bidang Literasi.

Otakku panas ketika tahu ada Guru Besar hanya jago memasang dan membeli gelar akademik tanpa bekerja keras (Proses). Membeli gelar pendidikan di kampus yang punya Nama. Alangkahnya murahnya sebuah gelar Akademik saat ini.

Ternyata keinginan menghidupkan visi Tokoh Bangsa di atas tak gampang. Jangan jangan budaya Literasi bangsa kita sudah masuk liang Kubur alias Rest In Peace (RIP). Seharusnya Perpustakaan dan Lembaga Pendidikan di negeri ini mengibarkan bendera hitam .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: