Map Merah

Oleh M. Rusli

Pagi usai sholat subuh saya tidak beranjak dari meja kerja.  Kutarik  Cat air, Kuas  dan Kertas Gambar.  Melakukan ritual  pagi hari. Melatih  kesabaran, prioritas dan  standard operational procedure  melalui  cat  air , kuas dan kertas gambar. Lho kok bisa?   Ya  dibalik  proses lahirnya  lukisan cat air  yang saya buat ada sebuah proses  yang  terus kulatih. Di balik proses  lahirnya lukisan cat air sesungguhnya  saya   fokus   latihan kesabaran, melatih  prioritas.  Saat saya gagal  dalam kondisi  gelombang  pikiran alfa  karya lukis pun  gagal.  Ketika  hati, pikiran dan sikap  dalam  frekuensi  negatif maka yang kuperoleh adalah  kegagalan.  Hanya coretan   buruk.  Coretan buruk  membuahkan pemborosan.

IMG_5285

Melukis  adalah sebuah  Art Therapy bagi  saya. Melukis  adalah  penyembuhan.   Dengan melatih  secara teratur, maka  gelombang  pikiran  alfa  akan terbuka. Hormon Endorfin akan mengalir. Kebahagiann  akan  kudapat.  Saat larut  dalam  tarikan garis, warna dan bentuk  , tak terasa  saya berada ladam  kondisi trance.  Maka  lahirlah  lukisan  yang  menarik secara visual dan makna. 

Melukis  adalah sebuah  proses  Art Therapy yang sangat  efektif sebagai pengobatan.  Melalui lukisan   bisa mencegah pikiran negatif, sikap negatif, menghalau stres dan penyakit.  Melukis  adalah  kegiatan yang  sangat bermanfaat.  Melalaui lukisan  saya bisa  menemukan ide  dan konsep  tentang  pengembangan Sumber Daya Manusia. Melalui  rutinitas Lukisan   konsep  tentang  materi pelatihan di Ayo Kita Kerja   tumpah bagai air bah.

Pagi itu jam di tangan saya  tidak terasa sudah berada di angka 07.00.  Sebuah lukisan cat air  sudah rampung. Lalu kufoto  dan  upload  ke dalam  Blog  Marumpa.wordpress.com.  Laptop  kumatikan. Kembali  ke rutinitas ke dua  olahraga ringan. Hanya push up  sebanyak 50  hingga  100 kali.  Bandan terasa hangat. Lalu mandi  pagi.  Bersiap berangkat kerja.

Kopi  mix  sudah kusiapkan,  perlengkapan  kerja sudah rapi.  Pikiranku melayang ke  Gedung Serba Guna  di Pujasera  Lama   Muka Kuning. Sebentar lagi  akan berbaur dengan para pencari kerja.   Ada  tugas  bersama dengan Tim Ayo Kita Kerja Batch ke-3  untuk melakukan promosi  program Ayo Kita Kerja.  Terlibat di acara ini  selalu  menarik.  Di saat  sebagian para  Praktisi  Human Resource    tak  peduli.  Saya  justru melihat  ada  lorong terang  di program Ayo Kita Kerja.

Iya,  saya akui bahwa   program yang  ditempuh  oleh  stakeholder  selama ini  tidak  mengalami perubahan. Karena  cara tidak berubah maka hasilnya pun tidak berubah.  Pemerintah masih asik dengan  Bursa Kerja yang  budgetnya   bisa sampai ratusan juta.  Para  Eksekutif  Human Resource  di perusahaan  juga masih  mengandalkan   iklan  bernilai  jutaan untuk  merekrut  kandidat.

Semua  serba instant,    Ha ha ha…… saya  jadi  tertawa dalam hati. Jaman berubah  namun  cara  masih  sama dengan cara   dua  puluh tahun yang lalu.

Well. Perlu  ada terobosan. Di balik  wajah lelah para pencari kerja   yang jumlahnya ribuan.  Hanya  ada satu kata   yang  terngiang di dalam kepala. Terimalah saya bekerja dan jauhkan saya dari pengangguran.

Saya  mengenakan  pakaian kerja.  Rambut di sisir rapi.  Kusambar helm  dan motor.  Memastikan kondisi rumah sudah aman. Pintu rumah sudah terkunci. Lampu sudah kumatikan.  Kompor  sudah kupadamkan.  Matahari  pagi  bersinar  cerah.  Se cerah  hatiku, ha ha ha.  Perasaan  senang menjalar  dalam diri. Terlibat dalam proyek sosial  adalah sebuah  tugas pelayanan  yang  bernilai ibadah. Yess. Kukepalkan  tanganku.

 

Datang lebih awal.  Sebelum Tim Ayo Kita Kerja   dari CSR Batamindo  tiba di lokasi.  Sengaja aku  melakukan  tugas  observasi.  Yang kuperhatikan adalah  membaca  eksepresi dan bahasa tubuh  para pencari kerja   yang jumlahnya  ada ratusan.  Pujasera  Lama  adalah  sebuah bagunan  yang   sudah di sulap  menjadi  Gedung Serba Guna.  Gedung yang  bisa dipakai sebagai  tempat melaksanakan berbagai acara. Halal bihalal,  pementasan musik.  Bangunan yang bersih. Selalu dirawat oleh  pasukan  Prima Jasa Mandiri.  Lantai selalu di pel  bersih.   Daun daun   dan sampah  dengan cepat  dimasukkanke tong sampah  oleh pasukan Prima Jasa Mandiri.

Para pencari kerja  tinggal  datang. Duduk di lantai bersih dengan tenang.  Membaca  info lowongan kerja yang telah tersedia  di papan informasi yang tertutup kaca.  Doa para  pencari kerja  adalah, “Semoga  ada  salah satu staf HRD  yang datang  mengumumkan  info lowongan  kerja dan  menerima berkas   merah mereka.”

Dari ratusan  pencari kerja  terlihat  ekspresi  wajah yang  tidak  tenang.  Tak ada  senyum. Wajah lelah dan  demotivasi menghias  wajah para pencari kerja.  Duduk  di lantai  di sejumlah  pojok. Ada yang bergerombol, ada yang diam sendiri. Hand phone  menjadi sahabat mereka.  Satu dua  orang  sibuk menulis  surat lamaran  kerja. Meniru  lamaran  temannya.  Ada  Map merah yang dibolak balik. Ada Map Merah  yang dipeluk.  Sebagian   sibuk membaca layar  HP masing masing.  Mungkin mereka bermain game  atau membuat status di sosial media, pikirku.

 

Saya  memprediski   pikiran utama para pencari kerja adalah mendapatkan lowongan kerja  secepat mungkin.  Hanya  satu kata itu yang menjadi prioritas mereka.  Ada  yang mengaku  sudah berbulan bulan  di Batam  namun  hingga sekarang belum berhasil mendapatkan  pekerjaan. Tabungan  dan biaya  operasional  makin menipis.

Ada  perasaan  kecewa  dan  marah karena  setiap  staf HRD  datang menemui  mereka  yang  diterima   hanya untuk calon karyawan   wanita.  Pencari kerja  pria  sebetulnya tahu itu. Tapi sudah putus  asa. Tidak tahu  harus  ke mana. Mind set  terbatas.  Bahkan  cara cara kotor pun siap di tempuh demi mendapatkan pekerjaan.  Membayar  alias nyogok  jutaan rupiah  pun  mau asalkan diterima bekerja. Ya  pikiran sudah gelap.  Tuntutan  untuk lepas  dari  status menganggur  sangat mengganggu.

Pikiranku kembali melayang. Berbagai konsep terlintas dalam  pikiran. Konsep lukisan  mulai menari dalam  diri.  Terbelenggu  dalam Comfort Zone.  Membuat lukisan,  “Terperangkap dalam Comfort Zone    atau  Map Merah ,”  Terlintas dalam  benakku.

Saya mengngingat  kegiatan yang pernah  kulakukan beberata tahun silam. Bursa kerja,  Pertemuan dengan  anggota Dewan dan Tim  IPSM. Diskusi dengan  sahabat  Pejabat Disnaker. Pertemuan dengan  Praktisi  Human Resource. Diskusi dengan Teman Teman Serikat Pekerja. Sejumlah pertemuan dan  kegiatan   demi meningkatkan kualitas Sumber Daya  Manusia  Batam.  Ternyata  sangat  kompleks, menguras tenaga, biaya dan  pikiran.  Saya berpikir  kegiatan tersebut  belum maksimum.  Jaman berubah. Tuntutan berubah. Aturan berubah.  Para  Praktisi  sudah mulai pensiun. Pencari kerja  di generasi Internet terus bertambah. Sayang  mindset  tidak mengalami  perubahan. Hanya  tahun yang berganti  namun  mindset   tentang “Bekerja”   tidak  berubah hingga  kini.

Mind set  itu adalah. Lulus sekolah, punya ijasah, melamar  kerja,  bekerja diperusahaan  yang berkelas,  jadi karyawan, punya seragam kerja,  punya badge name, terima   gaji setiap bulan.  Punya  harga diri.

Bekerja  informal  dianggap  tidak bergengsi.  Di situlah masalahnya.  Jumlah pekerjaan  formal  sangat  sedikit dengan jumlah pencari kerja yang sangat melimpah. Sedangkan    pekerjaan di sektor informal  sangat melimpah  tapi sedikit peminat.  Pencari kerja  di sektor  formal  memiliki  keterbatasa   kompetensi. Kalau  membuka  si  map merah.  Isisnya hanya  surat lamaran kerja dan ijasah . Bahkan ada yg berani melakukan pemalsuan ijasah.

Dari  situ saya  bisa  menyimpulkan   cara cara lama  tidak bisa mengatasi  pengangguran. Pengangguran   tidak bisa diatasi dengan anggaran melimpah, pengangguran tidak bisa diatasi dengan meeting  di  DPRD ,   pengangguran  di kota Batam tidak bisa diatasi dengan  Bursa Kerja. Pengangguran tidak bisa di atasi dengan  Peraturan  Pemerintah.  Pengangguran   seharusnya diselesaikan melalui perubahan Mindset pekerja, Calon Pekerja Itu sendiri.

Resiko itu pun  jadi kenyataan. Saat  Mas Heru  Relawan dari Ayo Kita Kerja  batch Ke Tiga  mengambil mic  lalu dengan suara kerasnya  memanggil  kerumunan pencari kerja untuk mendekat. Sesaat  ratusan  pencari kerja yang  sangat lapar  dengan informasi kerja   berhamburan  meninggalkan tempatnya   dan membentuk lingkaran sambil   mengangkat  Map merah.

Tibalah waktu  yang ditunggu tunggu. Saat Manager CSR  PT Tunaskarya  Indoswasta   Riko Jaya Saputra   di dampingin  Tim Ayo Kita Kerja  menyampaikan maksud    rencana pelaksanaan  program Ayo Kita Kerja.  Spontan  teriakan  keras  secara serentak itu pun  keluar , “WOOOWWW.”

Ya  sudah di duga  para pencari kerja  sudah stres. Mereka hanya ingin  langsung  bekerja. Mind set mereka masih  lama.  Mereka yang berteriak ‘”Wooooo’” pun  mengumpat dengan wajah asam, lalu meninggalkan  kerumunan.

Namun alhamdulillah  beberapa orang  bertahan, dengan sabar mendengar penjelasan  dari Tim Ayo Kita  Kerja Batch Ke-3.  Saya pun  tersenyum. Ya , masih ada  harapan  dan sinar  di tengah  lorong  gelap   pengangguran. Contagious.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: