Satu Pohon Seribu Manfaat Sejuta Kehidupan

 

IMG_4986

Satu Pohon Seribu Manfaat Sejuta Kehidupan

Musim hujan tahun ini tidak menjadi jaminan stok air bertambah di Dam penampungan. Bibir Dam kini ditumbuhi semak dan rumput liar. Beberapa pohon malah mengering. Tahun lalu, ya itulah tahun terakhir saya menyaksikan saat naik motor ketika pulang bekerja dan melintasi jalan yang penuh air karena limpahan air dari dam yang tak sanggup menampung air hujan.

Tahun 1997 ketika menyampaikan orientasi kepada karyawan baru mengenai sistem ekologi di Pulau ini, saya katakan bahwa stok air terbatas. Bila jumlah jumlah penduduk melebihi angka satu juta orang maka pulau ini kekurangan air bersih. Tahun 2016 ketika jumlah penduduk sudah menembus angka satu juta ramalan itu benar. Beberapa warga kesulitan sumber air.

Di sisi lain pertumbuhan perumahan bagaikan pesawat jet. Tak terasa sejumlah bukit di pulau ini menjadi rata. Berubah jadi bangunan. Sebuah bukit yang saya anggap hutan lindung pun jadi perumahan elit. Harga jual rumahnya tidak ada di bawah satu Miliar rupiah.

Ada kekecewaan di hati. Saat menjadi koordinator pemuda yang bergabung di salah satu program CSR saya sempat menularkan pesan  pentingnya menanam pohon. Saya katakan menanam satu pohon akan memunculkan seribu manfaat bagi sejuta kehidupan.

Hati menjadi hancur ketika dengan mata kepala sendiri menyaksikan hutan lindung yang diperjuangkan bersama teman teman Pencinta Alam Cumfire, tiba tiba rata oleh kendaraan penghancur. Sesaat lahan itu berubah menjadi Rusun. Hati menangis. Karena saat penanaman pohon semua dilakukan dengan uang pribadi, menghabiskan tenaga dan waktu yang banyak. Bahkan kadang kadang tidak ada bounding dengan keluarga. Hm… Ngelus dada.

Tahun lalau saat musim kering saya masuk ke hutan lindung. Sebuah hutan yang didalamnya terdapat pancuran. Duduk di atas batu bekas aliran air di sela sela batu hanya membisu. Bebatuan jadi kering. Monyet monyet menyerbu saya, kelaparan. Tas saya dibongkar. Ada sepuluh monyet kelaparan. Makanan yang kubawa kulemparkan ke arah monyet lapar. Biskuit pun menjadi santapan di kala buah biji bijian mulai langka, pohon besar sebagai sumber makanan monyet tiba tiba tumbang dan bekas serbuk gergaji masih berserakan di tanah.

Save Batam. Kita Bisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: