Dua Matahari

Rini  Widyawati seorang pelukis.  Dia dalah sosok wanita yang kukagumi selain  Istriku. Rini  kini  bekerja magang  sebagai  staf  di perusahaan  manufacturing. Dia  ingin menambah wawasan  di dunia  industri.   Rini  wanita cantik  yang selalu  membuat suasana kantor  jadi hidup. Ia ceria, murah senyum, ramah sama  customer. Gesit.  Kalau jalan   seperti roket. Cepat  sekali.

IMG_7937

Pandangan  Rini  kalau berjalan  lebih banyak  ke bawah  ke arah keramik . Karena pengaruh sepatu hak tinggi, gaya  jalan Rini  mirip  Soimah.  Ha ha ha.

Semua orang suka sama Rini. Atasan dia, teman kerja  hingga  customer.  Di  hari sabtu dan minggu  ia suka menemani saya  melukis. Tepatnya  membimbing  saya  melukis.  Saya  sejak dulu  sangat pingin  melukis  seperti  Basuki Abdullah. Basuki Abdullah Pelukis  hebat  tanah air.  Sebagai  pembimbing  saya  melukis,  Rini lagi lagi  kelihatan  sinarnya. Ia  sabar  dan  pandai memberi dorongan  kepada saya  ketika  mengalami   kesulitan memadukan warna. Ah Rini.

Aku selalu betah berada di sampingmu.  Kadang saya   suka menggodanya  mencubit pipinya   yang  putih kemerahan.  Rini   jarang  marah.  Lama kemudian   Rini  melototkan matanya sambil  berkata, “Nggak boleh  Bram, belajar melukisnya nanti gagal.”  Kalau  Rini sudah melotot   kembali  saya  memainkan  kuas dan cat di atas kanvas. Oh asiknya  dibimbing melukis  teman kerja   yang cantik.

Tadinya saya tak begitu suka dengan melukis. Tapi saya kagum dengan karya  lukisan. Saat melihat lukisan  yang dipajang di  hotel  saya suka berlama  lama mengamati arti dan makna  lukisan tersebut. Lukisan  memang sungguh menarik.  Lukisan  lahir  dari  rasa  sang pelukis.

Garis dan warna yang dituangkan di atas  kanvas  selalu  penuh arti. Ya  sebuah karya  yang didasari dengan rasa  selalu menarik. Ada kekuatan yang muncul  karenanya.

Tak heran  kini lukisan  menjadi  barang  investasi  yang mahal.  Harga lukisan kini ada  yang  bernilai hingga  900 miliar rupiah. Wow.

Tak terasa   kini  Rini   berstatus  karyawan permanen.  Ketika   masih magang   saya adalah teman yang paling sering  jalan bersama.  Setiap makan siang pasti berdua. Sarapan pagi juga begitu.  Dimana  ada saya  disitu ada  Rini.  Seperti perangko. Lengket ke mana  mana.  Karena  sering bareng  itulah   akhirnya saya tahu kalau Rini jago gambar.  Makanya saya  langsung  dekati  dia. Memberi  perhatian. Membelikan  makanan  kecil. Berikan coklat  yang diam diam saya masukkan ke dalam laci mejanya.  Setelah itu.  Ada  coklat   ya nemani dirimu  bekerja, kataku  di telpon.

Ah Rini  gadis cantik  yang  jago melukis. Entah kenapa  diam- diam  timbul rasa kagum padanya. Pertama,  karena ia cerdas,  jago melukis,  tekun beribadah,  dan  memiliki wajah yang cantik. Groomingnya  mantap.  Kala pagi  jam  delapan saat  Rini tiba di kantor ,  aku suka perhatikan kesibukan kecilnya.  Rini  mengambil  tas  lalu menghilang ke toilet. Lima menit  ia di sana. Merias  diri. Lalu  balik ke meja kerja  dengan wajah  cerah, rambut yang rapi,  bibir tipisnya pun  diolesi  lispstik  yang  berwarna  merah muda. Aroma badannya  pun  wangi.  Wow cantik sekali.  Begitu Rini duduk di mejanya  aku  dekati lalu mengajak  sarapan di pantri. Rini  pun tersenyum  lalu beranjak  ke pantri. Menyantap  sarapan pagi  yang telah  kupesankan dari  kantin kantor.

Usai  sarapan  kami  kembali ke meja  masing masing  mengerjakan tugas  yang sudah menumpuk.

Rini  menyadari kalau aku  baik padanya. Ia pun merespon. Ia  dengan senang hati  mengajariku  melukis. Sudah enam bulan berlalu. Sudah  enam lukisan yang  aku kerjakan berkat bimbingan Rini. Aku akhirnya  paham  jenis jenis  alat  melukis  yang harus  kugunakan.  Awalnya  saya  hanya diajari  membuat   sketsa.   Alat mengambar yang kupakai   kertas  dan  pensil.  Lalu  beranjak ke  media  yang lebih  bervariasi. Aku  dikenalkan pada  berbagai  material  lain.  Lama lama  akrab dengan  pinsil konte, serbuk pinsil,  pinsil mesin,  cat air, cat  acrylic dan  cat minyak.  Aku  jadi mengerti berbagai jenis kuas, pisau palet. Untuk melahirkan karya bagus  ternyata ditunjang dengan  alat  yang berkualitas.

Bahan  yang berkualitas  harganya juga  mahal.  Satu  cat  minyak merek  Winton  yang berukuran  200 ml  harganya  tembus  160.000 rupiah di pasar on line. Kalau pakai  cat  minyak   yang  lebih berkelas  harganya  juga  lebih mahal.  Pantas  saja banyak pelukis  yang  senang  bila memiliki material melukis yang berkualitas.

Membuat sebuah  lukisan berukuran  100 cm  kali  80 cm  butuh pengeluaran   yang  lumayan.  Kanvas  ukuran 80cm kali 100cm  harga di  toko  Stationary  berharga  200 ribu rupiah.  Nah  kalau  cat minyak  menggunakan  sepuluh  warna   maka modal yang dikeluarkan sudah di atas  satu juta.

Meski mahal  saya tak keberatan.  Saya  suka dengan  seni lukis  dan  memiliki  pembimbing cantik, Rini.  Sang  pembimbing  bagai matahari. Ia memberi  energi kekuatan. Memberikan semangat. Apalagi  kalau sudah tersenyum.  Memamerkan deretan giginya yang putih.  Dia begitu  menawan.  Betah aku  belajar  melukis. Ha ha ha.

 

Waktu berlalu begitu cepat.  Rini dipindahkan ke bagian  lain.   Kebersamaan   yang selama ini  selalu  kunikmati di kantor berakhir.  Tak ada lagi  jalan bareng, tak ada lagi sarapan  pagi  bersama, tak ada lagi  makan  siang  bersama.

 

Setelah satu bulan. Terasa  ada yang  hilang.  Aku  mencoba  menghubungi  melalui  telpon. Telpon  tak diangkat. SMS  dikirim juga tak di balas.  WA  di kirim juga tak di balas. Inbox di Facebook juga  tak ditanggapi. Ada  apa  gerangan.   Penasaran. Aku datangi  kantornya. Rini  menjawab, “Bram  kita tidak bisa seperti dulu lagi. Sekarang  aku sibuk.  Terkadang  hand phone  aku charge  dan tertinggal di laci  meja. Maafkan aku Bram.”

Aku tak menyangka  jawaban Rini  mengalir  begitu saja tanpa  beban. Kuharap  ia merindukanku  dan bergembira  atas kunjunganku. Namun  ia seolah tak  senang  dengan kehadiranku.  Ok, baik kalau kehadiranku menganggu  aku  pergi, kataku.

Aku  tak bisa  tidur. Rini  menganggu   pikiranku. Sudah seminggu aku  kesulitan  tidur  malam. Rata rata  baru bisa tertidur  pada  pukul 2   atau 3  pagi.   Di kantor   kurang fokus.  Saat  mengerjalan laporan   bayangan Rini  menari  di  layar laptop. Hmm. Kok  jadi begini.  Aku  jadi  takut kehilangan. Padahal  aku  lagi  getol getolnya membuat lukisan  untuk pameran.  Aku   butuh masukan  dan  dorongan Rini. Sebagai sahabat  di kantor  dan di studio lukis   Rini  sangat berarti bagiku. Tapi  ia berubah.

Meski Rini bukan  istriku  atau pacarku  namun   ia  adalah sahabat  yang kuandalkan. Aku masih ingat saat pertama kali  berbicara di kantin  perusahaan usai jam kerja.  Waktu itu hujan. Sambil menunggu reda. Aku traktir Rini  makan bakso.  Ia  menerima tawaran.  Kalau lagi makan bakso   ia makan hanya setengah sisanya  aku yang habiskan.  Waktu itu  Rini baru  bergabung bekerja  selama satu bulan.  Aku katakan  ke Rini  kalau aku  senang  bersahabat dengannya. Aku  ceritakan  tentang istri dan anak anaku. Tidak ada  yang kututupi. Aku berjanji  akan menjadi sahabat  yang  terbaik bagi Rini. Melindungi Rini. Rini mengangguk setuju. Ia tersenyum memamerkan  deretan giginya yang putih.  Aku bahkan  bercanda  ke Rini, seandainya aku  bujangan  aku akan datang ke orang tuamu  untuk melamar. Karena   kau adalah wanita yang sempurna.  Rini  lagi lagi  tersenyum  manis.  Sampai akhirnya   hujan reda. Kami pun  pulang ke rumah masing masing.

Di satu sisi  saya juga menceritakan  tentang sahabatku ke istri. Sampai akhirnya  Istriku dan Rini berkenalan. Istriku percaya  pada  Rini.

Begitu banyak kenangan bersama  Rini.  Masa masa indah  persahabatan itu berlalu  begitu cepat. Seolah kapas  yang disapu  tiupan  angin kencang. Hilang  tanpa bekas.

Kemarin  hari selasa  minggu kedua  April  setelah  sekian lama  tidak  menelpon.  Aku teringat Rini. Aku  telpon ke hand phonenya. Ia tak merespon.  Aku bingung. Ada apa gerangan. Kenapa ia bersikap seperti itu. Kenapa ia menjauh. Kenapa  ia  tidak mengangkat telpon saat ku hubungi.  Jauh  berbeda  dibanding  awal bergabung di perusahaan.

Aku tak  nyaman dengan kondisi ini. Kembali kuambil  handphone. Kutekan nomor dia sekali lagi mengharap  ada jawaban.  Rini  mengangkat telponnya.

“Halo  selamat siang  Rin.”

“Ya  apa kabar  Bram,” jawab Rini.

“Rini tak marah kan padaku, aku   call tapi  tak direspon, sms tak dijawab, inbox tak direspon. Pls  ditanggapi  dong pertanyaanku.”

“Maaf aku sibuk banget. Aku tak ada waktu untuk santai.” Kata Rini.

“Kuajak makan bareng, kau bilang panas.  Cuaca  Batam kurang  bersahabat lah.  Beberapa minggu  lalu  kuajak  Karaoke  bareng teman teman  juga  tak mau  karena sibuk dengan urusan domestik di rumah  menemani  ponakan. Rin!   Sesungguhnya  aku tahu kok kalau dirimu tidak sibuk. Aku tahu kalau dirimu  pergi dengan sahabat   barumu saat  pulang kerja  lalu berkaraoke ria di Inul Vista dengan  mereka.  Rin!  aku juga tahu  kok  kalau  saat makan siang  kau jalan  dengan si Konsultan itu kan.  Well,  no problem  itu hak mu Rin.  Tapi sebagai sahabat  aku tak mau dibohongi. Ya  aku sadar  bila Rini  bukan istriku atau pacarku.  Aku takut kehilangan dirimu Rin. Kau  adalah matahariku   yang  mampu  memberikan  semangat  untuk berkarya. Pls  jangan  tinggalkan aku. Aku takut kehilangan dirimu.”

“Bram,  terima kasih atas  kebaikanmu.   Kau memang baik,” jawab  Rini.

“Nanti pulang kerja  kita  ketemu di  kantor perusahaan  ya. Aku mau ngobrol tentang rencana pameran,” Ajak  Baram

Rini  menyanggupi.

Telpon di matikan.

Bram kembali meneruskan pekerjaan  kantor. Hatinya  lega. Kali ini ia  mendapat respon dari sahabatnya  yang sudah  mulai menjauh.

Bram  merasa  waktu begitu lama. Bram ingin  cepat cepat  jarum jam  di pergelangan tangannya menunjukkan angka lima. Bram ingin segera  bertemu dengan  Rini.

Pukul lima sore.  Cuaca  panas masih terasa. Bram milirk  jam di lengan tangannya.  Lalu  mengambil  handphone dari  tas.  Menelpon  Rini. Rini  mengangkat telpon. Namun kali ini  Rini  meminta maaf karena   ia masih berada di luar kantor  setelah visit marketing, saat balik kantor   terjebak  di lampu merah.  Rini  menjadwal  ulang pertemuan dengan Bram.  Rini  mengajukan agar  pertemuan pada hari Kamis saja.  Bram mengiyakan meski kecewa.

 

******

 

Kamis  minggu  kedua April.  Bram seolah   tak sabar.  Usai makan siang   dia menghubungi  Rini  di kantornya.  Bram  mendatangi  kantor  Rini.  Bram  harus menunggu setengah jam.  Ternyata Rini memang  super sibuk. Pantas  ia  selalu  tidak merespon saat kutelpon, pikir  dalam hati Bram.

 

Bram ingin memastikan  pertemuan dengan Rini pada hari  kamis  sore usai jam kerja.  Bisa  kan  hari ini kita ngobrol di kantin  perusahaan,” harap  Bram kepada Rini.  Rini  tak mengangguk. Rini menggeleng,  Dengan ekspresi datar  dan  seolah tak mau diganggu  Rini  membatalkan  pertemuan dengan  Bram.  “Sorry  , hari ini  ada  mau  makan malam dengan  pimpinan. Pimpinan  ulang tahun.”

Rini  pergi begitu saja. Ia bergabung  dengan  teman kerjanya  sambil jalan  tergesa gesa.  Bram tersentak. Muka Bram terasa panas.  Bram  memutar  badan.  Bram kembali ke kantornya.

Kehilangan semangat. Hati  Bram tertusuk.  Ia  tidak menyelesaikan  tugas kantor. Ia ijin pulang  awal.

Tak enak badan.

Esoknya  kondisi badan Bram kembali  drop. Usai  dari sholat jumat  ia memilih  tidur  untuk memulihkan  tenaga. Bram merasa bodoh. Bram merasa  konyol  di jauhi teman temannya. Bram kecewa berat.  Bram  kecewa berat  karena  Rini  malah bergabung dengan  para konsultan   yang pernah membully   dan  merendahkan Bram.  Bram  berusaha meghirup  nafas. Mengalirkan oskigen ke otak.

 

Usai  bangun tidur. Bram mencoba  untuk rileks.  Bram mengambil  kertas.  Membuat sebuah sketsa  tentang lelaki  yang penuh  tenaga  mematahkan  rantai besi  setelah  disinari  kekuatan dari dua  matahi. Ya dua matahari membuat Bram menjadi  kuat  dan  energik. Dua  matahari  itu  adalah  simbol dari  Sang Istari  dan Rini  Sang Sahabat.

 

Setelah menggambar dua  matahari. Bram merasa lega  dan  sedikit  rileks. Bram tahu  bahwa  melukis  bisa menjadi  terapi  untuk  melepaskan  ketegangan.  Dengan melukis  otak kanan akan aktif. Saat  otak kanan aktif akan mengeluarkan  hormon bahagaia  yang disebut endorfin.

Tak lama kemudian Bram  mulai  tersenyum.  Lalu ia mengambil  kertas  yang  ia sudah lukis. Lalu merobek sebagian  kertas tersebut.  Gambar  yang awalnya terdiri  dari dua matahari  kini tinggal satu. Satu matahari sinarnya jauh lebih hangat. Jauh lebih  powerful. Satu matahari adalah simbol  dari istri Bram.

Bram  mengambil  sebuah foto yang  berbingkai.  Sambil  meraba  wajah  foto  istrinya  Bram berkata,  “Kaulah  Matahariku.”

Batam,  pukul 01.00  tanggal 9  April 2016.

MR. Pelukis , Cerpenis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: