CSR dan Pencapaian MDGs

Pada Minggu 20 September 2010 lalu di New York  Amerika Serikat  berlangsung pertemuan tinggi dihadiri  pejabat tinggi pemerintah, pebisnis dan organisasi  dunia yang terlibat terhadap pencapaian target MDGs (Millenium Development Goals). Para pemimpin  tinggi dunia berkumpul untuk berdiskusi dan berbagi tentang  langkah langkah  ke depan  untuk mencapai MDGs   yang ditargetnya tercapai pada tahun 2015. Banyak yang perlu digarisbahawi  dan dicarikan solusi oleh  pemimpin  Negara seperti resesi ekonomi, ketakutan terhadap pemanasan global, pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pertumbuhan  harga harga makanan.

Ada delapan target MDGs yaitu: penurunan  kemiskinan,  kelaparan,  kematian ibu dan anak,  penyakit,   rumah  tidak layak,  ketidaksetaraan gender dan degradasi lingkungan di negara  negara berkembang. Target ini telah disetujui 189 negara pada tahun 2000 lalu. Target pencapaian  MDGs di atas  diharapkan tercapai pada tahun 2015 nanti.

Begitu pun dengan Forum Ekonomi Dunia melalui Global Governance Initiative telah menggelar World Business Council for Sustainability Development di New York pada 2005. Salah satu deklarasi penting, disepakati bahwa CSR jadi wujud komitmen dunia usaha untuk membantu PBB merealisasikan Millenium Development Goals (MDGs). Tujuan utama MDGs mengurangi separuh kemiskinan dan kelaparan di tahun 2015.

Untuk mengatasi hal di atas, perusahaan suasta  terlibat  melalui  program CSR. Istilah CSR, pertama kali dalam tulisan Social Responsibility of the Businessman tahun 1953. Konsep ini digagas Howard Rothmann Bowen dalam menjawab “Keresahan dunia bisnis”. Karena tanpa CSR perusahaan bisa menjadi imej buruk bagi pengusaha yang telanjur tertuduh sebagai pemburu uang yang tak peduli pada dampak kemiskinan dan kerusakan lingkungan.

Dalam implementasinya, kewajiban CSR ternyata masih ada beberapa hal harus dikaji ulang. Pertama, wujud CSR kebanyakan cuma santunan, cepat tanggap atau respek. Padahal tuntutan responsibility tidaklah sesederhana itu. Responsibility yang arti harfiahnya tanggung jawab, yang hukum wajib. Tanggung jawab muncul sebelumnya ada apa-apa dengan perusahaan. Dalam menanganinya, tentu beda antara tanggung jawab dan sekadar kegiatan sosial.

Kegiatan CSR sekarang seolah-olah cukup hanya dengan memberikan sedikit kepedulian. Seperti bagi-bagi sembako, layanan kesehatan sebulan sekali, penataan lingkungan agar tak kumuh, memberikan pelatihan satu tahun sekali, merehab bangunan ketika sudah rusak. Ini contoh aktivitas sosial yang biasa dilakukan. Tentunya bukan CSR yang diinginkan. Kegiatannya cuma seremonial dengan alasan ini kegiatan CSR Lagaknya ingin berjasa besar dalam kepedulian, namun kegiatannya tak mengubah apa pun di dalam masyarakat. Santunan sosial begitu bukan CSR, melainkan Corporate Social Activity (CSA). Maka istilah responsibility sebaiknya diganti activity. Dari Corporate Social Responsibility jadi Corporate Social Activity, he he he.

Perusahaan  yang  menjalanakan  program kegiatan CSR, atau  mendompleng  nama CSR  sekarang marak. Perusahaan  berlomba lomba mengadakan program CSR. Disayangkan  program yang dibuat masih  sebatas  charity. Program Charity  justru  tidak popular  dalam CSR arus utama  sesuai  CSR ISO 26000. Justru CSR ISO 26000  memasukkan  pemberdayaan masyarakat  atau Community Development sebagai bagian dari CSR ISO 26000 dari  tujuh  item  yang ada.

Ketujuh  bidang  yang  sekarang sedang dikembangkan dalam CSR ISO 26000 adalah: Human Righ, Organizational  Governance, Labor Practice,   Environment,  Fair Operating Practice, Consumer Issue, Social Development.

Kini kita dimabukkan dengan program charity perusahaan  yang bukan CSR tapi  gembar  gemborkan  di media massa sebagai  program CSR. Padahal  yang harusnya  lebih dipedulikan perusahaan  yaitiu menjalankan program CSR arus utama. Bukan berarti perusahaan dilarang melaksanakan kegiatan charity.

Di Media Indonesia tgl 19 Oktober 2010  dimuat tulisan  berjudul Alarm Dari Nagoya. Disebutkan dalam tulisan tersebut bahwa  system alam yang menunjang ekonomi , hidup, dan penghidupan di planet berada dalam resiko degradasi yang cepat dan kehancuran. Habitat alami di sebagian  besar dunia menyusut, populasi tumbuhan dan hewan mengalami ancaman.

Pada tahun 2009  ada 36% dari 47.677 species dinyatakan terancam dari kepunahan. Sejak tahun 1970 hingga 2010 terjadi rata rata  31% penurunana spesies vertebrata. Gejolak biologis akibat hilangnya kekayaan hayati dan ekosistem membebani pengeluaran manusia bumi antara US$ 2 dan US$ 5 triliun per tahun.

Sejumlah  pulau  kecil di belahan belahan dunia terancam terendam. Cuaca anomali. Petani pun sulit memprediksi  untuk memulai musim tanam. Banjir , longsor, dan kekeringan  terjadi hampir bersamaan. Contoh paling  parah adalah Ibu kota Jakarta. Dihajar hujan tiga jama saja langsung menimbulkan kemacetan parah. Banjir  terjadi justru kiriman dari daerah lain. Kalau Hujan  diatas satu jam di beberapa titik  langsung tergenang hingga satu meter. Air   tawar makin langka diperoleh di Jakarta dan beberapa titik  jalan  amblas karena  permukaan tanah mengalami penurunan.

Ketika alam  mulai marah, bencana terus terjadi, pertumbuhan penduduk terus bertambah. Pertumbuhan penduduk lebih cepat dibanding  persediaan makanan, dapat menimbulkan  kekurangan gizi bagi masyarakat tidak mampu. Pekerjaan yang terbatas, pengangguran yang tinggi, harga harga makanan yang terus merangkak naik. Apakah  target  MDGs  di tahun 2015 dapat tercapai sementara bila 6,8 miliar penduduk bumi  pada tahun 2007 saja  hidup dengan separuh  kapasitas biologis planet ini,  pada tahun 2030 nanti manusia akan membutuhkan kapasitas dan ruang yang setara dengan dua planet bumi.

Sejak 1960  manusia telah meningkatkan konsumsi pangan dan air hingga dua kali  lipat. Penyebabnya penduduk dunia  berlipat ganda  dan ekonomi tumbuh enam  kali lipat. Pada tahun 2050 diperkirakan akan ada 9,2 miliar manusia di  muka bumi ini.

Melihat data di atas terlihat bahwa  upaya  pencapaian MDGs  di negara berkembang  adalah tidak mudah. Namun kita tak boleh pesimis. Ada  harapan bahwa  pencapaian MDGs  masih bisa  dicapai bila perusahaan di dunia berlomba menjalankan CSR sesuai standar CSR garis utama  ISO 26000.

Ketika perusahaan   di bidang  perkebunana, pertanian atau  perusahaan tambang  bijak  dalam  menjalankan bisnisnya. Ketika  pemerintah  dan perusahaan swasta tidak main mata dengan oknum. Saat  anggota dewan betul betul berjuang  untuk masyarakat. Ketika  semua elemen masyarakat menjalanakan CSR ISO 26000 seharusnya  pencapaian MDGs dapat diraih.

Kerusakan yang terjadi saat ini bisa jadi lantaran parahnya tingkat korupsi,  serakah  menambang bumi, bernafsu  membabat hutan,  pelanggaran  HAM,  tata kelola perusahaan  yang tidak efektif, tidak transparan , adanya monopoli  perdagangan. Kondisi ini hanya akan membuat  yang kaya makin kaya dan  warga miskin makin terpuruk. Kondisi ini hanya akan membuat tingkat kematian  makin  tinggi, kemiskinan makin menjadi,  pengangguran  terus bertumbuh, peluang untuk mendapat fasilitas  pendidikan makin  berkurang. Dengan begitu  target pencapaian MDGs   akan semakin kabur. Tak jelas. Dan hanya menjadi  bahan diskusi  pada pertemuan tingkat tinggi pemimpin negara.

Karena itu  perlu ada  sosialisasi  massiv terhadap  pengertian CSR ISO 26000 demi terwujudnya MDGs. Setelah   seluruh elemen  paham dan menyadari manfaat penerapan prinsip CSR ISO 26000. Dengan begitu tak ada  alasan  tak tahu  pada prinsip CSR ISO 26000. CSR tidak lagi   dipersepsikan salah  .  Kegiatan CSR  bukan lagi  program Corporate  Social Activity,  program Charity, marketing  gimmick, atau  program sinterklas.

Bukan jamannya  lagi  perusahaan  membuat program sekadar  seremony  lalu dimuat di koran  pada halaman  society  dengan  foto  yang besar  k  satu halaman.  Program CSR  adalah  sustainbality. Berkelanjutan. Ada hasil perbaikan. Bisa berupa, masyarakat  lebih  sejahtera, lebih  mandiri, lebih  sehat, lebih cerdas, lebih bahagia  dibanding  masa  masa sebelum  perusahaan  hadir  dan menjalankan  bisnisnya.

Ketika menjalankan  CSR  ISO 26000   atau CSR atau CSR arus utama, maka masyarakat  disekitar   perusahaan beroperasi  tidak  hidup  dalam kondisi yang  lebih  buruk, lebih miskin, lebih sakit, lebih menderita, lebih  terisolasi, lebih buruk .

Ketika CSR arus utrama  dijalankan dengan benar  oleh  pemilik perusahaan  seharuisnya tidak  lagi  kita menyaksikan  ada  warga masyarakat di sekitar  pabrik  yang   menganggur, putus sekolah,  tingkat kematian  bayi dan anak  yang tinggi,  harga makanan  makin  melambung,  tak ada lagi perbedaan  perlakuan  terhadap  suku, agama, kelamin. Dengan demikian apa yang dicita citakan  oleh pemimpin  dunia  terhadap pencapaian target DMGs  sangat sejalan dengan  prinsip CSR arus utama.

Dengan demikian  seharusnya  pemimpin  negara dan pemimpin  perusahaan swasta  bersatu  dalam  membangun  masyarakat. Kita  tidak bisa  mengandalkan  pemerintah saja yang  membangun  masyarakat  karena  kalau kita amati saat pemerintah  justru  kebanjiran utang alias  bangrut  karena tidak  memiliki atau kekuranagn  biaya operasional untuk  menjalankan  aktivitasnya.

Kita  juga tidak bisa membiarkan  pemerintah  membebani  macam macam kewajiban  dengan alasan  prinsip CSR  lalu perusahaan  suasta  diharuskan menyetor  dana CSR  ke pemerintah. Karena  tindakan ini  justru melukai semangat CSR  arus utama.  Jadi bagaimana  dong. Ya biarkanlah    pihak suasta  menjalanakn program CSR  sesuai  kemampuan  mereka masing masing  tanpa adanya   intervensi pemerintah.

Pemerintah  yang menintervensi  perusahaan susata  dengan berlindung  di balik  kata kata CSR  justru  melukai semangata  CSR ISO 26000. Terbukti saat ini ketika  ada perusahaan  tambang yang menyetor  dana CD ke pemerintah daerah  sekian miliar. Yang terjadi  adalah  justru  kesemrawutan, karena pihak penerima  dana  justru  berantem  memperebutkan  dana CD, sementara  perusahaan  penambang  merasa   sudah menjalankan   kewajiban  CSR  maka  ia  ongkang  ongkang kaki saja   merusah  perut  bumi,  menambang   permukaan  bumi tanpa memperdulikan  ekosistem. Dengan  demikian perusahaan  penambang  semakin  berkeliaran  merusak   bumi sedangkan  penerima dana   yang hanya dikuasi   pihak pihak tertentu   malah  mendapat  konflik.  sedangkan  masyarakat  banyak  justru  kehilangan  mata pencaharian karena  tanah untuk  bertani  atau  laut untuk  mencari  ikan  sudah  kehilangan kekayaannya. Petani gigit jari, nelayan  stress.

Hal ini  memperlihatkan bahwa  berlindung  (cari muka) di balik   program CSR  justru  membahayakan kelangsungan hidup  manusia. Sudah  waktunya  perusahaan  peduli  pada  CSR ISO 26000   yang  menjalankan  prinsip CSR dengan benar.  Sudah  waktunya  perusahaan membuat  laporan  berdasarkan  sustainability reporting  yaitu Global reporting inisistif.

Pada masa mendatang  perusahaan  besar  akan  peduli dengan mitra kerja  yang  menjalankan  psinsip CSR dengan  benar. Perusahaan  tukang merusak alam, hutan, sungai, gunung  hanya  mengambil  sisi ekonomi  saja  siap siap   ditinggalkan.  Perusahaan perusahaan  yang   hobby main mata dengan  petugas  pajak atau menjalankan monopoli dalam  bisnis    siap siap akan  dijauhi  mitra kerja. Nah lho ingat itu.

2 Komentar (+add yours?)

  1. Rico
    Nov 30, 2010 @ 07:28:12

    salam kenal pak Rusli,
    Terimakasih sebelumnya kepada Pak Rusli karna sudah memberi kesempatan bagi saya untuk mengintip sedikit wawasan dari Bapak. Sebuah tulisan yang sangat bermanfaat.

    Terlepas dari keberadaan CSR.
    Pada prinsipnya, keberadaan perusahaan dengan segala kepentingannya, selama kepentingan itu bersinggungan (berdampak negatif) dengan kelangsungan hidup orang banyak, sudah sepantasnya bertanggungjawab terhadap dampak yg dihasilkan dari keberadaan perusahaan itu sendiri terhadap masyarakat. Ini sudah merupakan etika dasar yg perlu dipahami oleh semua pihak saat berbicara tentang hidup berdampingan demi kelangsungan kehidupan, dimanapun dan sampai kapanpun.
    Pemerintah yg dipercaya memangku amanat rakyat, sudah menjadi tugas dan tanggungjawabnya dalam menetapkan kebijakan-kebijakan yg berlandaskan kelangsungan dan kesejahteraan rakyatnya.

    Jadi, jika kita kembali pada keberadaan CSR sudah sangat jelas arti keberadaan CSR yang kemudian diterjemahkan dalam idealisasi prinsip-prinsip dasar pengelolaan CSR itu sendiri, baik tentang bagaimana mekanisme pengelolaan, bentuk pertanggungjawabannya, siapa pelaku pengelolanya dan menajemen pengelolaanya.

    Seperti kita ketahui bersama bahwa pembangunan tak dapat di hentikan, namun bagaimana pengaturannya, hal itulah yg perlu dibangun bersama.

    Besar harapan saya, saya juga bisa memberikan sumbangsih dalam community development yg berkelanjutan di kota Batam tercinta ini.

    AVIGNAM JAGAT SAMAGRAM!

    Balas

  2. marumpa
    Des 02, 2010 @ 06:53:17

    Dear Riko

    Maksih atas kunjungannya. Salam CSR.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: