Satu Orang Sepuluh Pohon Seribu Kehidupan

Untuk yang kesekian kali pada tanggal  27 Juni 2010 lalu, PT BIC dan PT Tunaskarya Indoswasta melalui  program CSR  bekerja sama dengan organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan  yang ada di lingkungan Kawasan Industri Batamindo kembali melakukan kegiatan  peduli lingkungan.  Organisasi pemuda  yang terlibat  adalah BPMKIB, DSNI,  RMKIB, Mudika, Agape, Pemuda Hindu, BMC, INKAI, KKI, Setia Hati Teratai, Boxer, Merpati Putih, KSR PMI, Pramuka, Bivac, FLP, Siaga Yudha English Conversation Club,  SLTP, Cumfire,  RT, RW, OKIB, Transkib  dan  Batam Trans Sarana.

Kegiatanyang yang dilaksanakan adalah penanaman pohon. Ada  250 pohon yang ditanam. Lokasi penanaman adalah  lahan kosong  sekitar Dam Muka Kuning. Acara penanaman pohon ini  dipimpin oleh Ketua CSR PT BIC  Andi  Mapisangka.

Penanaman pohon terlaksana  dengan  tertib. Meski hujan  gerimis  turun, tidak menghalangi niat peserta untuk   ikut  berpartisipasi. Pohon  yang ditanaman  berasal dari sumbangan pemerintah.

Satu orang  sepuluh pohon dan seribu kehidupan adalah tema yang dipilih oleh panitia pelaksana. Diharapkan  agar kesadaran  warga  khususnya di Pulau Batam dapat  menanam  sepuluh pohon selama  hidup di Batam. Bila   sepuluh pohon  dapat memberi seribu kehidupan  hal itu dapat memberi nilai tamba  bagi kualitas kehidupan  warga  Batam itu sendiri.

Saat ini jumlah penduduk di Pulau Batam  sudah menembus angka  satu juta jiwa. Bila  satu orang menanam sepuluh pohon maka  akan ada  sepuluh  juta  pohon yang  akan menjadi penyumbang  oksigen secara gratis.

Kegiatan penanaman pohon sejauh ini  belum merata  dilakukan seluruh warga Batam. Kalaupun  ada penanaman pohon sifatnya masih seremony. Padahal   hutan  lindung   pulau batam  dilihat dari  udara   terlihat bolong oleh praktek  illegal  loging  karena  telah dicuri  oknum yang tidak bertanggungjawab.

Menjaga hutan  seharusnya menjadi tanggungjawab semua warga  negara.  Ada contoh menarik yang  perlu ditiru oleh  sekelompok  warga  masyarakat di daerah Sulawesi Selatan. Tepatnya  di daerah Kabuten Bulukumba  tepatnya di   daerah yang ditempati    Suku Kajang. Komunitas ini  diwajibkan untuk menghormati dan menjaga tanah pemberian Tuhan, salah satunya Hutan. Hutan menurut suku Kajang adalah Ibu. Bagi masyarakat suku Kajang, ibu adalah orang yang harus dihormati. Sebagai wujud rasa hormatnya, hutan harus selalu dijaga kelestariannya.

Jika ada warga yang menebang hutan secara liar, maka akan mendapatkan sanksi adat. Mereka percaya bahwa jika menebang hutan secara liar akan membuat Turiek Arakhna murka / marah. Mereka juga percaya Turiek Arkhna akan memberikan Kutukan bagi si penebang hutan dan musibah bagi Tana Toa.

Ajaran  suku Kajang  sebaiknya  ditiru  oleh  anggota Dewan.  Tanpa perlu jauh jauh ke luar negeri  melakukan study banding untuk memelihara hutan, di negeri sendiri  ada contoh  yang  termat baik dalam merawat hutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: