Sampah , Pemulung, Tony dan Maureen Wheeler Serta Pemanasan Global

Pemulung adalah orang yang memungut barang-barang bekas atau sampah untuk daur ulang. Sampah atau barang barang bekas pavorit yang sering dikumpulkan oleh pemulung adalah kertas, besi, almunium, plastik. Sayangnya pemulung banyak diajuhi dan ada yang memberi cap negatif terhadap pemulung. Hal itu muncul ketika suatu perumahan mengalami kehilangan barang barang di halaman rumah saat pemulung ramai mencari barang bekas.

Penulis pernah melihat di jalan masuk perumahan  sebuah papan bertulisakan ”Pemulung di larang masuk”. Pemulung pada sebagian orang telah berkonotasi negatif. Sebagain warga masyarakat kita melihat pemulung dengan kaca mata  yang sempit.

Jika meihat penampilan pemulung yang setia dengan karung di punggung dan tongkat pengais sampah yang terbuat dari potongan besi. Kepala ditutup topi. Baju yang lusuh dan bolong. Pemulung tidak kenal jijik. Pemulung tak peduli belatung di tumpukan sampah sayuran, dengan tanganya yang kadang-kadang tanpa menggunakan hand glove memgorek tumpukan sampah. Baik sampah yang berada di bak sampah perumahan hingga TPA (tempat pembuangan sampah).

Pandangan terhadap pemulung sebetulnya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Bila memandang pemulung dari sisi kaca mata positif. Akan terlihat manfaat besar yang diraih dari kegiatan memulung.

Semangat pemulung dalam berburu sampah dan barang bekas seperti kertas, plastik dan besi ternyata menyimpan manfaat besar bagi siklus kehidupan. Penulis sering mengamati pemulung yang rutin mengumpulkan barang-barang dari kotak sampah yang ada di depan rumah penulis. Para memulung orangnya rajin. Mereka sudah bergerak mencari rejeki pada subuh hari. Ketika ayam sedang berkokok. Saat embun di dedaunan masih menempel. Para pemulung sudah menelusuri tong dan bak sampah di perumahan demi mengumpulkan sampah kertas, besi bekas, kaleng almunium. Sampah atau barang bekas tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit lalu disetor ke juragan sampah.

Dari sinilah pemulung bisa eksis. Ada mata rantai ekonomi yang tidak dilirik banyak orang. Sesungguhnya, di balik penampilan yang kotor mereka tersimpan mutiara. Meski berprofesi sebagai pemulung, namun laskar pemulung ini bisa menafkahi keluarganya. Dan kalau beruntung bisa menjadikan batu loncatan menjadi juragan sampah. Penulis pernah mendengar mendengar seorang juragan sampah yang mampu membeli rumah di perumahan kawasan elit Duta Mas yang berharga mencapai ratusan juta rupiah.

Hebatnya lagi pemulung ternyata pahlawan lingkungan. Penulis berpikir bahwa pemulung sudah melakukan sebuah tanggung jawab sosial dan tanpa mereka sadari telah keseimbangan alam. Coba perhatikan apa yang dilakukan oleh pemulung kertas. Sekilas kertas bekas adalah sampah bagi sebagian besar orang. Sampah kertas tersebut seperti koran, majalah atau kardus sering dibuang begitu saja atau dibakar. Padahal bagi pemulung, kertas bekas tersebut dapat dijual secara kiloan di juragan barang bekas. Asda dua manfaat di dapat. Satu, adalah menambah penghasilan pemulung. Kedua adalah mengurangi pemanasan global.

Selanjutnya kertas bekas tersebut oleh juragan barang bekas dijual ke perusahaan pengolahan kertas bekas. Lalu kertas bekas tersebut diolah lagi menjadi di kertas baru setelah elewati proses pengolahan yang moderen.

Di sini kita bisa mengawali sebuah penyelamatan hutan. Kertas daur ulang sekarang bisa ditemua pada banyak produk terbaru tanpa harus merusak ekosistem alam. Artinya kertas bekas adalah sumber utama pembuatan kertas selain kayu. Di jaman yang sudah terbiasa dengan pekerjaan kantor yang paper less produksi kertas dari bahan kayu perlahan-lahan bisa dikurangi. Biaya yang harus dikelurakan dan dampak ekologi yang dihasilkan tidak sebesar bila mengandalkan kayu hutan sebagai bahan utama kertas.

Kita harus bersyukur kepada pemulung yang dengan sekuat tenaga mau bekerja keras mengumpulkan kertas bekas di pelosok daerah hingga perkotaan. Kita seharusnya dapat menjadikan pemulung sebagai mitra dalam mengelola lingkunga hidup.

Kalau kita bijak. Pemulung bisa diajak kerja sama untuk mengumpulkan sampah kertas bekas secara teratur. Pemulung akan senang hati menerima barang bekas yang kita serahkan padanya daripada dibuang begitu saja di tempat sampah perumahan. Setelah itu petugas sampah kota datang mengumpulkan sampah secara bergulir setiap hari.

Ketika sampah diserahkan ke petugas perusahaan pengumpul sampah tanpa adanya pemisahan jenis sampah sebetulnya tidak ekonomis. Karena sampah yang dibuang di kotak sampah tanpa pemisahan akan langsung diangkut ke atas truk dan seterusnya dilempar ke TPA. Di tempat TPA sampah tersebut dituang begitu saja pada sebuah lahan yang penuh dengan sampah lainnya. Perusahaan pengangkut sampah tidak memiliki krteria kinerja dalam hal pemisahan jenis sampah. Mereka hanya dituntut mengangkut sampah tepat waktu. Karena itu saat petugas pengangkutan sampah datang mereka dengan tangkas dan cepat melemparkan sampah tersebut ke lahan pembuangan sampah. Sekali lagi tugas utama perusahaan pengangkut sampah hanya mengangkut sampah rumah tangga, sampah pasar, sampah perkantoran secara on time. Karena itulah, tidak heran bila di beberapa daerah terjadi demonstrasi warga masyarakat bila derah mereka dijadikan tempat pembuangan akhir. Warga masyarakat yang wilayahnya dijadikan tempat pembuangan akhir tidak mendapatkan nilai tambah makanya mereka protes.

Kalau dipelajari lebih jauh. Prsoes penganguktan sampah dari perumahan, pasar dan perkantoran oleh perusahan pengangkut sampah sebetulnya pemborosan karena pemerintah harus membayar gaji petugas sampah, biaya transportasi, biaya perlengkapan. Tapi hal ini belum disadari oleh pengambil kebijakan. Sampah atau barang bekas yang seharusnya bernilai ekonomis tersebut hanya memenuhi Tempat Pembuangan Akhir.

Ketika paradigma digeser. Bila seluru rumah tangga berdamai dengan pemulung yang dengan senang hati menyumbangkan sampahnya (kartas bekas, koran bekas, kardus) untuk dikumpulkan pemulung. Maka secara tidak langsung membantu meningkatkan penghasilan pemulung. Lalu kertas bekas tersebut diolah menjadi kertas recicle yang berkualitas bagus. Maka usia pepohonan bisa diselematkan untuk menghindari dari niat serakah pengusaha kertas yang menjadikan pohon sebagai bahan utama dalam memproduksi kertas.

Sebuah laporan yang ditulis oleh Tony dan Maureen Wheeler dalamsalah satu bukunya The lonely planet Story mengatakan bahwa bisnisnya membuat buku perjalanan wisata atau panduan wisata ketika menggunakan kertas yang diolah langsung dari pohon, maka pohon yang harus ditebang luasnya melebihi sepuluh kali lapangan bola karena jumlah eksampler buku yang diproduksi mencapi jutaan copy. Si penulis pun resah. Ia lalu membatasi pembuatan buku dengan cara yakni menggunakan sarana moderen yakni website. Tony dan Maureen Wheeler sadar dampak pemanasan global dari penggundulan hutan akan merugikan anak cucu di kemudian hari. (M.Rusli)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: