Tidak Ada Alasan Melarang TKI ke Luar Negeri

Sudah tidak terhitung penderitaan warga negera Indonesia di luar negeri ketika mengadu nasib sebagai tenaga kerja. Kasus yang muncul berbagai bentuk, seperti TKI yang dibunuh, diperkosa, pelecehan seksual, bunuh diri, digantung, membunuh , dipenjara, gaji tak dibayar, pekerjaan tidak sesuai perjanjian kerja, sakit akibat kerja, penganiayaan, komunikasi kurang lancar.

Korban TKI meninggal dunia di Malaysia tahun 2007-2008 hingga Maret 2009 mencapai 40 orang per bulan. Penyebab penyakit di Malaysia paling besar karena radang paru-paru. Karena mereka tinggal di bedeng yang lembab, khususnya pekerja perkebunan, bangunana dan pabrik.

Kasus warga negera Indonesia di luar negeri mayoritas diborong oleh Tenaga Kerja Indonesia yang lemah dalam penguasaan keterampilan, penguasaan bahasa asing, berpendidikan rendah, melalui proses pengiriman illegal.
Penderitaan TKI di luar negeri terus berulang sepanjang tahun. Dan sepanjang tahun juga pengiriman TKI terus berlangsung.

Kisah miris terkini mengenai TKI di luar negeri adalah tentang Onis (39) TKI asal Kampung Jati RT03/13 Desa Sarimukti Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, yang dikabarkan tewas bunuh diri di Malaysia.

Onis, tenaga kerja Indonesia (TKW) asal Kampung Jati RT 03/13 Desa Sarimukti Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dikabarkan tewas gantung diri di rumah majikannya, Sarawak, Malaysia.

Yang jelas, hampir 70% TKI lulusan sekolah dasar (SD), bahkan ada kasus ternyata ditemukan TKI buta huruf. Prosedur yang profesional mengenai pengelolaan TKI ke luar negeri masih lemah. Contohnya, masih ada TKI kurang bahkan tidak mendapat orientasi atau pembekalan sebelum diberangkatkan ke luar negeri.

Siapa pun mereka. Dengan bekal pendidikan dan keterampilan minim, bekerja profesi apapun, berpotensi menimbulkan masalah. Padahal dalam dunia human resource khususnya dalam proses rekruitment tenega kerja tidak hanya meluluskan calon pekerja yang punya keterampilan atau kemampuan. Yang utama adalah mempertemukan kandidat pekerja dengan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan pekerja. The right people on the right job. Orang yang yang benar pada posisi pekerjaan yang tidak sesuai dengan job require dapat menimbulkan masalah. Apalagi orang salah pada posisi salah, akan menimbulkan problem.

Proses perekrutan yang menggunakan celah tertentu karena lemahnya pengawasan menjadi ujian pertama yang harus dilewati para calon TKI.. Prosedur administrasi dan pembekalan, sang calon TKI sudah dibebani biaya tidak sedikit. Penempatan yang kadang dimanfaatkan pihak tertentu melakukan praktik perdagangan manusia. Hingga pulang kembali ke kampung halamannya mereka dipungli. Padahal modal yang mereka keluarkan cukup besar,ada yang menjual ternak dan sawah, menjual emas, menggadaikan harta.

Bila melihat sejarah. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri sudah ada pada tahun 1890. Pola perekrutan adalah menggunakan sistem kerja kontrak. Pola tersebut masih ditemui pada saat ini. Perusahaan pengerah tenaga kerja memperkerajkan tenaga kerja dengan sistem kontrak atau outsourching. Kini model ini makin marak. Jumlah perusahaan pengerah tenaga kerja mencapai ratusan perusahaan. Jumlah TKI yang dikirim mencapai jutaan orang.

Itu artinya persaingan. Persaingan akan melahirkan siapa yang paling kuat, pintar, trampil dan mampu beradaptasi mudah mendapat pekerjaan. Tapi sebaliknya makin banyak calon Tki yang terpinggirkan, kalah atau kurang memenuhi syarat namun punya semangat tinggi untuk mencari penghidupan di negeri lain lantaran desakan ekonomi. Kaum inilah yang rentan terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Jauh sebelum Pemerintah Republik Indonesia mengirimkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Luar Negeri, Pemerintah Belanda pada tahun 1890 telah mengirimkan 32.986 orang TKI asal pulau Jawa ke Suriname, suatu Negara Jajajahan Belanda di Amerika Selatan. Tujuan pengiriman TKI itu adalah untuk mengganti tugas para budak asal Afrika yang telah dibebaskan pada tanggal 1 Juli 1863.

Gelombang pertama pengiriman TKI i diberangkatkan dari Batavia pada 21 Mei 1890 dengan kapal SS Koningin Emma. Pelayaran jarak jauh ini singgah di Negeri Belanda dan tiba di Suriname tanggal 9 Agustus 1890.

Jumlah TKI gelombang pertama ini sebanyak 94 orang, terdiri dari 61. Gelombang kedua sebanyak 614 orang, tiba di Suriname pada tanggal 16 Juni 1894 dengan kapal SS Voorwarts.

Kegiatan pengiriman TKI ini berjalan terus sejak tahun 1890 s/d 1939 hingga jumlahnya mencapai 32.986 orang dengan menggunakan 77 buah kapal laut. Dari tahun 1890 hingga tahun 1914. Rute pelayaran pengiriman TKI ke Suriname selalu singgah di Negeri Belanda.

Pola seperti itu saat ini makin mudah ditemui di sekitar kita. Kantong pemasok buruh migran tidak lagi didominasi dari Jawa. Daerah lain di Indonesian yang juga tanahnya kurang subur membuat warganya kabur dan memilih meninggalkan kampung halaman. Contohnya adalah warga dari Flores. Kampung halaman yang kurang subur menjadi pemicu warga untuk merantau.

Pengiriman buruh migran ke luar negeri telah memakan waktu cukup lama. Seiring perjalanan waktu, pengiriman tenaga kerja migran selama sekian lama hingga detik ini terlihat bahwa nasib mereka selama bekerja di luar negeri selalau tersandung masalah.
Proses panjang pengiriman tenaga kerja ke luar negri meski telah berlangsung lama namun masalah belum selesai. Itu semua karena motivasi pekerja migran untuk memperbaiki kehidupan yang lebih bagus. Mencari kesejatreaan keluar negeri meski dilalui dengan penuh rintangan, pengorbanan dan air mata adalah pilihan yang ternyata masih diminati oleh ribuan warga negera Indonesia yang berpenghasilan kecil.
Padahal pengiriman tenaga kerja ke luar negeri memiliki kaitan erat dengan harga diri suatu bangsa, dan politik luar negeri. Sayang, konsekwensi yang bersifat makro ini seringkali terabaikan manakala desakan-desakan ekonomi menjadi prioritas utama.
Keadaan ekonomi masyarakat di negara-negara berkembang yang rendah dan banyaknya warga yang tidak memeiliki pekerjaan (termasuk Indonesia) membuat pengambil kebijakan di bidang ketenagakerjaan untuk mencari solusi cepat mengatasi pengangguran. Salah satu solusi yang dipertahankan adalah pengiriman tenaga kerja. Masalah muncul ketika pengawas tenaga kerja lalai. Di lapangan justru terjadi pengerahan TKI secara serampangan. Pekrutmen tenaga kerja yang terburu-buru. Persiapan yang dilakukan dengan biaya murah tanpa mengindahkan konsekuensi negatif yang mungkin timbul.

Banyaknya korban yang di alami TKI di luar negeri menunjukkan bahwa Para pengusaha jasa tenaga kerja belum memberikan jaminan terhadap keselamatan TKI. Sehingga trend yang muncul adalah perusahaan pengerah tenaga kerja hanya mengejar profit semata.

Padahal kalau dikelola dengan profesional. Pengawasan berjalan dengan baik. Pembinaan serama proses berlangsung (pra pemberangkatan hingga pemulangan TKI kembali ke Indonesia) berjalan denganbaik dapat meningkatkan kinerja TKI di luar negeri. Dengan kriteria kinerja TKI yang baik menjadi kontribusi positif bagi peningkatkan produktifitas negara tujuan . Harapan TKI memperoleh penghasilan yang layak pun akan memberi dampak positif bagi pembangunan di tanah air.

Terlepas dari pengelolaan TKI diluar negeri secara benar atau salah, terbukti bahwa Pekerja migran telah menjadi pahlawan devisa bagi bangsa. Mampu menggerakkan roda perekonomian kampung halaman.
Pekerja migran mengirim upahnya untuk memperbaiki rumah di kampung halaman, membeli sawah, membantu biaya pendidikan anggota keluarganya. Pekerja migran adalah pahlawan. Mereka berjasa bagi keluarga, dan bangsa. TKI memberi nilai tambah bagi keluarganya.

Tahun 2008 TKI menyumbang devisa bagi negara 82 triliun. Tahun ini ada 70.000 TKI di Malaysia yang melewati perusahaan pemasok tenaga kerja (outsourching) dari sedikitnya 2,2 juta TKI. Yang tercatat hanya 1,2 juta TKI. Selebihnya illegal, dan rawan pelanggaran hak asasi manusia. TKI bekerja lebih dari 8 jam sehari diupah 300 ringgit – 450 ringgit (1 juta – 1,3 juta rupiah ) per bulan.

Baru-baru ada sedikit kabar gembira karena Pemerintah Malaysia yang dicap buruk dalam penanganan tenaga kerja asing di telingan dunia internasional akan memberlakukan 1 hari istrahat bagi pekerja informal dari Indonesia.
Keberadaan tenaga kerja migran di luar negeri membantu negara tujuan pekerja migran. Keberadaan mereka yang bersedia bekerja kasar dan berupah murah menjadi pilihan majikan. Lantaran banyak tenaga kerja migran yang tidak melalui prosesdur resmi menjadi sasaran empuk bagi pengguna. Menjadi sapi perahan para majikan di luar negeri, khususnya di Malaysia. Para pekerja migran ini, di satu sisi tenaganya dipakai dan di sisi lain mereka dikejar polisi Malaysia. Kondisi itu membuat mereka memiliki posisi tawar lemah, sehingga TKI nekad bekerja dengan upah yang rendah.

Ternyata pengiriman tenega kerja ke luar negeri bila dikelola dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja. Meski di Malyasia dimana jumlah TKI terbanyak berada di sana masih sering musibah bagi TKI Indonesia, kita juga perlu mengangkat jempol karena masih ada lokasi tujuan TKI yang positif bagi TKI. Pengelolaan tenaga kerja di luar negeri yang berhasil adalah Hongkong.

Keterlibatan atau campur tangan pemerintah RI di Hongkong yang memberi pembekalan, perlindungan, perhatian terhadap tenaga kerja Indonesia berhasil mewujudkan mimpi pemuda Indonesia untuk mengumpulkan uang, pengalaman dan pengetahuan.

Ini memberi pesan moral kepada kita bahwa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri sesungguhnya netral. Yang bermasalah adalah pengelolaanya yang kurang profesional dan bertanggungjawab. Praktek tata kelola organisasi yang salah di bidang pengiriman tenaga kerja dapat menghancurkan impian pemuda yang ingin mencari rejeki di luar negeri.
Lantaran orang miskin di Indonesia masih tinggi, jumlah penduduk yang terus meningkat. Tingkat ekonomi yang lemah. Kerusakan alam yang tidak berhenti. Lapangan kerja yang sulit. Petani tidak punya lahan. Nelayan tradisional kesulitan mencari ikan karena terumbu karang banyak yang rusak. Ketika penduduk miskin tak lagi bisa menggarap lahan, turun ke laut mencari ikan. Maka alternatif yang dipilih adalah mencari tempat lain. Hal itu akan menyebabkan pilihan bagi sebagain warga miskin Indonesia memilih bekerja di lur negeri di luar negeri. Demi untuk survive.

Banyaknya hutan yang diubah menjadi lahan pertanian, penebagan pohon tidak terkendali, pembakaran lahan, pengerukan bukit, pencemaran air sungai, pencemaran pantai, penebangan bakau, peningkatan pemakaian kendaraan penghasil karbon diaoksida secara massiv, penggunaan energi bahan bakar yang tidak tergantikan (minyak, gas ) adalah faktor yang jauh lebih penting untuk diperhatikan bagi pengambil kebijakan masalah pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Kenapa?

Warga Indonesia kelas menegah ke bawah tidak akan meninggalkan kampung halamannya kalau kampung halaman mereka subur, menyediakan sumber alam yang produktif. Mereka tidak akan meninggalkan kampung halaman kalau di kampung halamannya makmur, tenang dan damai.

Saya menarik kesimpulan bahwa faktor utama warga Indonesia mencari kehidupan di negera lain karena kerusakan alam yang parah. Karena alam yang tidak bersahabat untuk bertani, karena penduduk miskin tidak memiliki lahan, karena tanah tidak subur. Cuaca yang tidak menentu. Hasil pertanian berkualitas rendah. Hasil pertanian yang murah dibanding biaya produksi. Lahan berpindah tangan dan dikuasai pemegang modal.

Selain itu, yang terpenting adalah mental aparat pemerintah untuk tidak bermental korup. Masalah di atas saya anggap sebagai bencana besar yang kita semua hadapi tanpa mengenal latar belakang pendidikan, suku, ekonomi, agama.

Bencana terbesar kedua yang menyebabkan buruknya SDM kita diluar negeri adalah masih adanya praktek tata kelola perusahaan dan pemerintahan yang tidak bersih. Seperti praktek korupsi, pungli, sogok, nepotisme.

Seandainya penduduk memiliki lahan garapan yang subur, tumbuh-tumbuhan yang tahan penyakit, air yang melimpah, harga hasil pertanian yang kompetitif, menguasai teknologi pertanian, maka urusan TKI atau buruh migran dapat dikurangi atau dihilangkan. Karena sekali lagi penulis nilai penduduk desa sesungguhnya mencintai tanah kelahirannya.

Penduduk Desa saya rasa akan lebih nyaman menggarap sawah, ladang atau sebagai nelayan bila mereka memperoleh keuntungan dari pekerjaan mereka. TKI yang mayoritas illegal tersebut sesungguhnya juga tidak mendapatkan upah yang layak di negeri orang karena banyak kena pungli oleh oknum.

Masalah pengerahan tenaga kerja ke luar negeri tidak bisa dihentikan begitu saja. Karena pengiriman tenaga kerja ke luar negeri sesuangguhnya dialami oleh semua negera. Bahkan masyarakat kita memiliki persepsi senang dan bangga bila tempat kerjanya memiliki konsultan asing.

Mengirim Tenaga ke luar negeri sesunggunya netral. Yang bermasalah adalah pengelolaannya. Malah kalau bisa kirimkan sebanyak mungkin tenaga terdidik, berpengalaman, ahli di bidangnya ke luar negeri digaji sesuai pasar yang berlaku. Saya yakin bangsa kita akan dipuji karena menjadi bangsa yang pandai mencetak SDM tangguh.

 

 

There’s no reason for workers to Prohibit Overseas

Already suffering innumerable Indonesian citizens abroad when speculate as labor. Cases that arise various forms, such as migrant workers who murdered, raped, sexual abuse, suicide, hanged, killed, imprisoned, salaries, jobs do not fit into an agreement, illness, abuse, substandard communication.

TKI victim died in Malaysia in 2007-2008 to March 2009 reached 40 people per month. The cause of most major diseases in Malaysia because of pneumonia. Because they live in beds of moist, especially plantation workers, buildings and factories.

The case of Indonesian citizens abroad the majority of Indonesian Workers hired by the weak in the mastery of skills, mastering a foreign language, low education, through the process of sending illegal.
Suffering overseas workers continue to repeat throughout the year. And throughout the year also sending migrant workers continues.

Latest sad story about migrant workers abroad is about Onis (39) workers from the village of Kampung Jati RT03/13 Sarimukti Cipatat District, West Bandung regency, who reportedly committed suicide in Malaysia.

Onis, Indonesian workers (TKW) of RT 03/13 Desa Jati Kampung Sarimukti Cipatat District, West Bandung regency, reportedly hanged himself killed her employer’s house, Sarawak, Malaysia.

What is clear, almost 70% of primary school graduates TKI (SD), there are even cases of migrant workers were found illiterate. Professional procedures regarding the management of overseas workers is still weak. For example, there are less workers do not even get orientation or briefing before departure abroad.

Whoever they are. With the provision of education and minimal skills, work of any profession, has the potential to cause problems. Whereas in the world of human resources especially in the recruiting process is not working tenega only candidate who has passed the skill or ability. The main one is to bring workers to the type of job candidates that match workers’ skills. The right people in the right job. People who are really in a position that does not work according to job require can cause problems. Especially the one in the wrong position, will cause problems.

Recruitment process that uses a particular gap because of weak supervision of the first test that must pass the prospective migrant worker .. Administrative procedures and debriefing, the prospective migrant workers already burdened cost is not small. Placements are sometimes exploited by certain parties to do the practice of human trafficking. Until returned to their hometown dipungli. Though they spend capital large enough, there is a sell livestock and rice fields, gold sell, pledge property.

When you look at history. Delivery to overseas workers already there in 1890. The pattern of recruitment is the use of contract labor system. The pattern is still found today. Company employment memperkerajkan labor contract system or outsourching. Now this model is more intense. Total company employment to hundreds of companies. The number of workers who are sent to reach millions of people.

That means competition. Competition would give birth who is most powerful, intelligent, skilled and able to adapt easily get a job. But on the contrary more and more prospective workers who are marginalized, lose or less qualified but have a high spirit to make a living in another country because of economic pressure. These people are vulnerable to human rights violations.

Long before the Government of the Republic of Indonesia sending Indonesian Workers (TKI) to the Foreign Affairs, the Dutch government in 1890 has sent 32,986 workers from the island of Java to Suriname, a Dutch Jajajahan Countries in South America. It is the purpose of sending migrant workers to replace the task of African slaves who were freed on July 1, 1863.

The first wave of shipments TKI i dispatched from Batavia on May 21, 1890 with the SS Koningin Emma. This long-distance cruise layover in Holland and arrived in Suriname on August 9, 1890.

The amount of this first wave of migrant workers as many as 94 people, consisting of 61. A second wave of as many as 614 people, arrived in Suriname on June 16, 1894 with the SS Voorwarts.

Activities continue sending these workers since the 1890 s / d 1939 to the number reached 32 986 people by using 77 pieces of ships. From 1890 until 1914. TKI delivery shipping route to Suriname was always stopped in the Netherlands.

Such pattern is more easily found all around us. The bag supplier is no longer dominated by migrant workers from Java. Other areas in the Indonesian who was also less fertile soil make the citizens escape and chose to leave my hometown. Examples are the residents of Flores. Homes that are less fertile trigger citizens to go abroad.

Migrant workers abroad have taken that long. Over time, the sending of migrant labor for a long time until this moment seen that their fate during working abroad always so tripping problem.
Long process of sending workers abroad despite long-standing but the problem has not been completed. It’s all because of motivation to improve the lives of migrant workers better. Looking abroad kesejatreaan though traversed with great odds, sacrifice and tears are the options that were still in demand by thousands of Indonesian citizens whose income is small.
Though workers sent abroad have close links with self-esteem of a nation, and foreign policy. Unfortunately, the consequences are often overlooked macro-economic pressure when the pressure is a top priority.
Economic condition of society in developing countries are low and many residents who do not Naturalife Greenworld work (including Indonesia) make policy makers in the field of labor to find a quick solution to overcome unemployment. One solution that preserved is sending manpower. The problem arises when labor inspectors negligent. On the field it occurs in a haphazard deployment of migrant workers. Pekrutmen labor in a hurry. Preparation is done at low cost without regard to the negative consequences that may arise.

The number of victims who experienced workers abroad indicate that entrepreneurs are not labor services to guarantee the safety of workers. So the trend that emerged was the company’s employment only after profit only.

However, if managed by a professional. Supervision going well. Serama coaching process (pre-departure until the return of migrant workers returning to Indonesia) runs denganbaik can improve the performance of migrant workers abroad. With a good worker performance criteria to be a positive contribution to enhancing the productivity of the country of destination. Hope workers earn a decent income would give a positive impact on development in the homeland.

Apart from the management of overseas migrant workers are true or false, it is evident that migrant workers have become heroes to the nation’s foreign exchange. Able to move the economy back home.
Migrant workers send home wages to fix at home, buy a rice field, help with the costs of education members of his family. Migrant workers are heroes. They served the family, and nation. TKI give added value to his family.

In 2008 migrant workers contribute 82 trillion of foreign exchange. This year there are 70,000 migrant workers in Malaysia is through labor supply companies (outsourching) of at least 2.2 million workers. Which recorded only 1.2 million workers. The rest illegal, and prone to human rights violations. Workers work more than 8 hours a day are paid 300 ringgit – 450 ringgit (1 million – 1.3 million rupiah) per month.

Recently, there is little good news for the Government of Malaysia which was labeled bad in the handling of foreign workers in the ears of international world will impose a resting day for informal workers from Indonesia.
The presence of migrant workers abroad to help countries of destination of migrant workers. The existence of those who are willing to work rough and cheap-wage employer of choice. Because many migrant workers who are not through official prosesdur become easy targets for the user. Being a cash cow employers abroad, especially in Malaysia. These migrant workers, on the one hand energy is used and on the other hand they are being chased by Malaysian police. Conditions that make them have a weak bargaining position, so that migrant workers desperate to work with low wages.

It turned out that sending work to overseas tenega if managed properly can improve the welfare of workers. Although in most Malyasia where the number of migrant workers are there still often disaster for Indonesian migrant workers, we also need to lift your thumb because there are many positive purposes for TKI TKI. Management of overseas labor that works is Hong Kong.

Involvement or intervention of the government of Indonesia in Hong Kong that provides provisioning, protection, attention to Indonesian workers succeeded in realizing the dream of Indonesian youth to raise money, experience and knowledge.

This gives us a moral message that the sending of workers abroad in fact neutral. The problem is that its management is less professional and responsible. Governance practices among organizations in the field of workers sent to destroy the dreams of youth who wish to seek fortune abroad.
Because of the poor in Indonesia is still high, the population continues to increase. Weak economic level. Natural damage that did not stop. A difficult job. Farmers do not have land. Difficulties traditional fishermen catch fish because many are damaged coral reefs. When poor people can no longer work on land, down to the sea looking for fish. Then the selected alternative is to look elsewhere. This will cause poor choice for sebagain Indonesia chose to work in egg country abroad. In order to survive.

Number of forest converted to agricultural land, timber trees uncontrolled burning of land, dredging of the hill, river water pollution, pollution of beaches, mangrove harvesting, increased use of carbon-producing vehicles in massiv diaoksida, energy use is not replaceable fuel (oil, gas) is far more important factor to consider for policy makers to the problem of sending labor abroad. Why?

Indonesian Citizen middle class down will not leave home if their hometown fertile, providing a productive natural resource. They will not leave home when in his hometown prosperous, calm and peaceful.

I draw the conclusion that the main factor Indonesian citizens find life in another country because of the severe natural damage. Due to the unfriendly nature to farming, because the poor have no land, because land is not fertile. Erratic weather. Low-quality agricultural products. The agriculture products cheaper than the cost of production. Land changed hands and controlled by capital holders.

In addition, the important thing is the mental apparatus of government to not corrupt mentality. The above issue I consider to be a big disaster that we all face without knowing the educational background, ethnicity, economics, religion.

The second biggest disaster that causes us poor human resources outside the country is still the practice of corporate governance and government that are not clean. As the practice of corruption, extortion, bribery, nepotism.

If residents have a fertile arable land, the plants are disease resistant, abundant water, agricultural products at competitive prices, control of agricultural technology, the affairs of migrant workers or migrant workers can be reduced or eliminated. Because once again the author of the villagers really loves his homeland.

Villagers I think would be more comfortable working on the fields, the fields or as fishermen when they make a profit from their work. The majority of illegal workers actually did not get a decent wage in the country because many people got extortion by unscrupulous.

Problem deployment of overseas workers can not be stopped just like that. Because the workers sent abroad sesuangguhnya experienced by all countries. Even our society has a perception of happy and proud if their workplace has a foreign consultant.

Sending Power to the actual overseas neutral. The problem is management. In fact if you can send as many as possible of educated, experienced, expert in his field abroad are paid according to prevailing market. I believe our nation will be praised for being a nation of intelligent print HR tough.

6 Komentar (+add yours?)

  1. Triyono
    Sep 18, 2010 @ 03:36:50

    Untuk TKI Ilegal dari P.Nunukan banyak sekali, mereka dijual oleh orang2 yg tak bertanggung jawab, ada beberapa agen dari jakarta. Sampai di Nunukan ditampung 1,2 minggu lalu dikirim lewat laut dan masuk ke sungai besar ke negara malaysia, sementara tak ada paspor dan kerja hanya dikira saja tiap bulan dan beberapa bulan gaji untuk bayar hutang, karena kita dijual oleh bos2 yg ada di malaysia yg notabene masih WNIndonesia. Mafia TKI sawit sungguh biadab.

    Balas

  2. EENG
    Okt 12, 2010 @ 10:11:16

    Mengirim Tenaga ke luar negeri sesunggunya netral. Yang bermasalah adalah pengelolaannya. Malah kalau bisa kirimkan sebanyak mungkin tenaga terdidik, berpengalaman, ahli di bidangnya ke luar negeri digaji sesuai pasar yang berlaku. Saya yakin bangsa kita akan dipuji karena menjadi bangsa yang pandai mencetak SDM tangguh.

    Balas

  3. Long residence
    Feb 09, 2013 @ 18:08:17

    Amazing things here. I am very glad to peer your article.

    Thanks so much and I’m taking a look ahead to contact you. Will you kindly drop me a mail?

    Balas

  4. Inter Company Transfer visa
    Feb 12, 2013 @ 05:24:26

    Very good info. Lucky me I ran across your website by chance (stumbleupon).
    I’ve bookmarked it for later!

    Balas

  5. link building services
    Agu 06, 2013 @ 00:15:41

    I simply couldn’t go away your web site prior to suggesting that I really enjoyed the usual info a person provide in your guests? Is gonna be back continuously in order to inspect new posts

    Balas

  6. nurlinaningsih
    Des 05, 2014 @ 15:49:06

    SAYA SEORANG TKI DARI SUKABUMI,,,
    Buat saudara2ku yang suka main togel atau ingin mau merasakan kemenangan bermain togel seperti saya ini menang angka jitu 4D ( 1803 )- ( 1830 ) hari kamis bener2 tembus 100% dari bantuan KI DEWO,saya sangat percaya sama KI DEWO karna KI DEWO peramal angka angka jitu putaran,SGP-HKG-SD-LAOS-MACAU-TOTO MALAYSIA-KOREA-THAI LOTTERY.Dan bukan Cuma itu saja masin banyak yg lain,JUAL TUYUL,PASUGIHAN,PELET,,,kalau anda butuh angka jitu 2d 3d 4d /4D 5D 6D, silahkan Hubungi KI DEWO di No: 085-295-271-555,,Kamu Pasti Membuktikan nya,,,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: