Pemilu Hijau, Kapan!

Pemilu bukan perkara mudah. Undang-Undang hingga Peraturan Pemerintah tentang pemilu sudah dibuat. Urusan pemilu saat ini lebih banyak dilihat dari sisi pendekatan keberhasilan pencontrengan kertas suara agar warga negara yang memiliki hak memilih dan dipilih dapat dikelola dengan baik.

Partai politik kini sibuk memikirkan segala kelengkapan prosedur agar tidak didiskualifikasi. Sudah mulai muncul ke permukaan partai tertentu yang tidak menyetorkan dana kampanye sehingga terancam didiskualifikasi.

Perjuangan Pengurus partai, caleg, KPU, Panwaslu menjalankan peran masing-masing terus mendaki dan berliku hingga 9 April 2009.

Caleg kaya dan miskin terus menebar pesona dengan harapan mendapatkan suara sebanyak mungkin. Berbagai cara berkampanye dilakukan demi mendapatkan perhatian pemilih. Aneka baliho, spanduk, poster, stiker, iklan media massa dan media cetak terus menerus memborbardir warga negara Indonesia.

KPU, KPUD, PPK hingga KPPS juga mulai sibuk melakukan persiapan. Diantaranya: Persiapan pelantikan , bimbingan teknis dan sosialisasi. Pelipatan kertas suara, memperbaiki rusaknya kertas suara, pengiriman kembali kertas suara yang keliru, pendistribusian Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Panwaslu sebagai watchdog KPU pun tidak bisa tidur nyeyak. Aneka pelanggaran kampanye harus dihadapi dan diselesaikan.

Mengurusi pemilu memang tidak mudah. Pemilu bukan hanya dihadapkan dengan sistem dan manpower saja. Ada satu yan terlupakan, selain Biaya pemilu sungguh besar.

Coba analisa berapa besar dampak yang ditimbulkan dengan kegiatan pemilu. Biaya akan dikeluarkan untuk mencetak kertas suara, honor petugas KPPS, PPK, gaji petugas KPU, gaji KPUD, gaji panwaslu, biaya transportasi, biaya pendirian TPS  di seluruh Indonesia, Biaya logistisk, biaya iklan. Angkanya tentu bukan sebatas ratusan juta tapi miliaran rupiah.

Ada kesan seolah-olah tugas bersama hanya mengurusi kegiatan pemilu berjalan lancar dan tertib. Namun tak ada yang peduli terhadap dampak pemilu itu sendiri terhadap alam atau  lingkungan hidup.

Coba amati berapa juta kertas yang harus dicetak. Itu menandakan akan terjadi pengrusakan hutan. Berapa ribu pohon yang harus dikorbankan demi menyediakan kertas suara. Tentunya jumlah pohon untuk bahan bubuk kertas dibutuhkan sangat besar. Dampak turunannya adalah pemanasan global. Dalam setahun ada dua hingga tiga kali pemilu diadakan. Maka hitung sendiri berapa besar pohon yang harus ditebang demi sebuah demokrasi.

Mari kita menghirung sederhana. Satu orang pemenang DPT (Daftar pemilih tetap) akan mendapatkan katakanlah 4 (DPD, DPR, DPR Tk I, DPR TK II) surat surat  yang berukuran lebih besar dari koran Kompas. Bila pemilih satu orang memperoleh minimal empat kertas suara dan jumlah DPT katakanlah ada 100 juta maka untuk pemilih legislatif akan menghabiskan 400 juta kertas suara berukuran satu meter kali 400.000.000. Untuk memperoleh kertas sebanyak itu tentunya akan membutuhkan pohon untuk menjadi bubuk kertas. Demokrasi Indonesia ternyata penyumbang pemanasan global.

Pengrusakan alam juga disumbang oleh para caleg. Masing-masing caleg berlomba untuk mencetak brosur, kartu nama, kalender, iklan di media cetak, leaflet, baliho. Apa arti semua ini. Ya lagi-lagi dibutuhkan kertas yang tidak sedikit untuk media publikasi tersebut. Pohon tidak hanya digunakan untuk menjadi bahan bubuk kertas tapi juga digunakan untuk pemasangan tiang bendera parpol, tiang baliho. Semuanya mengorbankan alam. Dampaknya pemanasan global.

Harusnya bangsa Indonesia  beripikir luas. Penyelenggara negara harusnya tidak hanya memikirkan kemenangan atau  meneyelenggarakan  pemilu secara langsung, bebas, rahasia saja. Dampak pemilu yang paling mendasar seharusnya juga diatur dalam undang-undang pemilu.

Ingat tata kelola pemerintahan selalu dilandasi dengan transparansi, pertanggungjawaban. Pemerintah  Indonesia seharusnya  melakukan pendekatan CSR terhadap  aktifitas  kenegaraan.  Namun itu belum cukup, kita harus ingat bahwa anak cucu kita juga harus diwarisi alam dan lingkungan yang baik. Tidak mewarisi alam yang hancur dan utang yang menumpuk.

Sudah seharusnya dipikirkan pemilu yang hijau. Ya pemilu yang tidak mengorbankan alam. Pemilu yang murah dapat disinergikan dengan teknologi tinggi seperti penggunaan internet. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: