Ekspedisi Pecinta Alam Cumfire Batam di Gunung Daik

Naskah : Arda & Dudy

Foto-foto : Pungki &Gozi

Dok. Tim ”Ekspedisi Daik Cumfire-Batam 2008”

Pulau Pandan Jauh Ke Tengah, Gunung Daik Becabang Tige

Ancur Badan Dikandung Tanah, Budi Baik Dikenang Juge

Jum’at, 03 Oktober 2008

Suara adzan subuh terdengar sayup mengalun, pukul 06.00 wib matahari mulai menampakkan wajahnya yang ceria di sela-sela ranting pohon yang masih basah oleh embun pagi. Terlihat puing-puing bekas bangunan yang telah dihancurkan oleh Belanda terlihat kuat menyimpan beribu sejarah pada masa kejayaan Kerajaan Damnah.

Kerajaan Damnah

Kerajaan Damnah kepanjangan dari ”Redam Benah” atau kalau diartikan dengan bahasa kita ”Jauh Sangat”. Kenapa kerajaan itu dinamakan Damnah, karena memang jauh mata memandang dari gerbang ke tempat situs kerajaan. Adapun Lingga berasal dari kata Ling (naga) dan Ge (gigi), yang berarti gigi naga. Bentuk dari ketiga puncak Gunung Daik yang menjulang tinggi itulah sebagai wujud dari asal muasal Lingga.

Selang beberapa menit Bang Yardi dan dua kawannya mengunjungi kami, ternyata merekalah yang akan menjadi guide kami di pendakian Gunung Daik dan akan memulai pendakian setelah shalat jum’at.

Pendakian di Gunung Daik haruslah menggunakan guide (penunjuk jalan), hal tersebut dimaksudkan untuk mendampingi para pendaki agar tak tersesat karena rutenya yang masih alami dan banyak persimpangan jalan.

Pukul 14.00 wib cerita pendakian baru dimulai. Terlihat jelas keindahan. Ketiga puncak Gunung Daik dari Kabupaten Lingga yang merupakan gerbang pendakian kami. Perjalanan datar terus dilalui menembus hutan belantara. Selama di perjalanan kami jumpai para pekerja sedang menanamkan pipa-pipa untuk saluran air minum bagi penduduk sekitar. Setelah melewati sungai dengan aliran air yang kecil kami sudah sampai di Pos Gajeboh I pada pukul 14.45 wib. Sejenak melepas lelah sambil menikmati nuansa yang masih alami. Perjalanan pun dilanjutkan menelusuri jalan setapak menuju Pos Gajeboh II.

Pada pukul 16.30 wib tibalah kami di Pos Gajeboh II sekaligus sebagai tempat untuk bermalam. Suara gemercik Air Terjun Daik menggoda kami untuk berendam di dalam kolam yang begitu sangat jernih di antara bebatuan kali sebagai penampungnya, dan hutan yang lebat sebagai pelindungnya.

Senjapun datang menjemput malam, semua perlengkapan tidur dan peralatan masak disiapkan untuk menyambut datangnya sang dewi malam. Perapian dibuat untuk menghangatkan disaat dingin menusuk tubuh. Gemercik aliran sungai serta suara binatang malam mulai mengiringi tidur kami di saat itu.

Sabtu, 04 Oktober 2008

Teng… Alarm yang sudah dipasang menunjukan 01.00 wib, tengah malam yang dinanti telah datang berarti waktunya untuk memenuhi sebuah panggilan jiwa, begitulah para pendaki menyebutnya. Setelah menikmati kopi dan susu panas serta makan yang sudah disiapkan sebelumnya, tibalah melakukan pendakian menuju puncak (summit attack).

Bintang-bintang bertaburan di atas sana, seakan langit bersahabat dengan pendakian kami. Pukul 02.30 wib kami berdo’a untuk mendapatkan restu-Nya. Dengan cahaya senter kami bergerak perlahan menelusuri rekah dikesunyian. Rute mulai menanjak dan berbatu, sesekali tangan harus memegang akar pepohonan. Terkadang langkah terperosok dan terjatuh di rekahan bebatuan yang sangat licin karena lembab dan berlumut.

Setapak demi setapak terus kami jejaki melewati rute Punggung Naga dengan sangat pasti dan hati-hati karena bila terperosok maka jatuhlah kami ke dalam jurang yang sangat dalam. Walau dengan usia yang sudah dibilang tidak lagi muda, terlihat Babeh terus bersemangat selalu berada di depan kami. Bravo buat Babeh..Langkah kami terhenti tatkala berhadapan langsung dengan tebing vertikal yang menjulang ke angkasa.

Inilah titik batas terakhir pendakian kami di ketinggian 1000 mdpl, yaitu Kaki Puncak Daik atau biasa penduduk sekitar menyebutnya Kandang Babi. Sunrise yang kami nantikan sirna terhalang awan putih yang saling berarakan. Puncaknya ± 165m dari tempat kami berpijak, tak dapat di daki karena kondisi bebatuannya yang rapuh dan vertikal. Vegetasi sekitarnya ditumbuhi dengan pohon cucuk atap, cantigi dan pakis hutan. Sedangkan satwa yang terdapat di sekitarnya yaitu burung murai batu, beo, babi hutan, ular piton & cobra. Suhu menunjukan 24ºC di termometer (alat pengukur suhu) dimana udara tak terlalu dingin tetapi kondisi tanah lembab dan berair, berarti menunjukan bahwa iklim di sekitar puncaknya adalah sub-tropis.

Sudah cukup puas kami menghabiskan waktu di kaki puncak dan saatnya kembali ke bawah untuk pulang. Dengan sangat ekstra hati-hati kami menuruni jalan bebatuan yang sangat licin. Siang memberikan panorama keindahan selama perjalanan turun. Hutan yang begitu rapat dan udara yang sangat segar. Semoga ’kan seperti ini sampai abadi, semoga.

Tak terasa kami telah melewati Punggung Naga hingga sampai di Pos Gajeboh II pada pukul 10.00 wib. Tiba-tiba hujan begitu derasnya mengguyur pos yang kami singgahi. Kami nikmati hidangan yang telah tersedia sambil menunggu hujan berhenti. Pukul 13.00 wib kami telusuri jalan turun melewati sungai-sungai dengan riak yang kecil, hingga sampai di gerbang pendakian yang sekaligus mengakhiri cerita kami di Gunung Daik.

Terima kasih kepada Bapak Ir. Muhammad Ishak, M.M (Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Lingga) dan Bapak Lazuardy (Tokoh Sejarah Lingga) atas segala dukungan dan kerjasamanya.

Iklan

7 Komentar (+add yours?)

  1. Trackback: Ekspedisi Pecinta Alam Cumfire Batam di Gunung Daik | Blog Batam Digital Island
    • andi firman
      Okt 07, 2009 @ 08:28:48

      coba tempat saya juga bng plau combol dsun stonggeng kab karimun. cuma satu jm dari batam kl dari plabuhan sagulung. tmpatnya asyik. a da tiga air terjun. bsa cum fire juga. abg bsa hub sya. 085668806434 andi ato eml sya andigtl@yahoo.co.id sy jmin abg ga bkl nyesal..

      Balas

  2. Ria Saptarika
    Okt 20, 2008 @ 11:28:05

    Mntab tuh, tapi sayang kok ngak ngajak saya!
    Thanks & Wassalam
    Ria

    Balas

  3. marumpa
    Okt 21, 2008 @ 00:56:03

    Dear Bp. Ria Saptarika, terima kasih Pak atas komentarnya. Insya allah dalam ekspedisi mendatang teman-teman Pencinta Alam Cumfire kita ingatkan untuk mengajak Bapak. Wassalam.

    Balas

  4. day rastafara
    Okt 12, 2009 @ 14:29:16

    RIMBAWAN……………..

    SALAM HIJAU FROM DAY…

    MOGA SUKSES SMUA EVENT YG DIADAKAN HIMPALA UNRIKA,GW DUKUNG SEGENAP JIWA!!!!!!!

    DENGAN 1 SELOGAN
    JANGAN AMBIL APAPUN KECUALI PHOTO &
    JANGAN TINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK

    HIJAU INDONESIAKU………….

    LAEN KALI UNDANG GW YA BRO………

    Balas

  5. day rastafara
    Okt 12, 2009 @ 14:32:16

    KALO BISA LAEN WAKTU MAEN KE RIMBA SUMUT..
    GAK KALAH OK…

    BANYAK TMEN YG OPEN HOUSE DISANA…
    AQ JUGA SEKARANG DIBATAM NE….

    KALO HIMPALA UNRIKA MAU KITA BISA JALAN BARENG NANTINYA…….

    SATU SORAK PENUH SEMANGAT..

    LESTARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

    Balas

  6. day rastafara
    Okt 12, 2009 @ 14:33:37

    NE E-MAIL GW DAY_RASTAFARA@YAHOO.CO.ID
    OR CALL GW DI NO 081361950793

    LESTARI

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: