Ukuran Keberhasilan CSR

Yuk kita rubah cara pandang masyarakat terhadap Corporate Social Responsibility (CSR). Ada apa nih. Kok di awal tulisan sudah berani-beraninya mengajak masyarakat pedulii CSR. Ya, benar. Penulis makin gatal untuk menularkan virus positif terhadap CSR.

Begini saja, kalau masyarakat awam ditanya. Apa yang berada dalam pikiran mereka bila disinggung masalah CSR. Jawabannya adalah sumbangan, sumbangan dan sumbangan  dari perusahaan. Entah sumbangan itu dalam bentuk uang, sembako, pengobatan dan lain sebagainya.

Pemikiran di masyarakat masih kuat melekat bahwa CSR adalah amal (Charity) dan derma (Filantrophy). Bahasa CSR adalah derma (filantrophy) dan amal (charity). Jangan heran kalau masyarakat (khususnya tokoh masyarakat) di daerah di mana ada perusahaan besar beroperasi di sana selalu akrab dengan CSR officer demi menerima kucuran dana CSR. Kalau perusahaan itu tidak mengucurkan dana CSR, entah kenapa masyarakat menjawab dengan demonstrasi.

No, no way. Saat ini tidak lagi. Kalau dulu masyarakat tahunya seperti konsep di atas. Kini setelah program CSR  ideal yang diterapan dimasyarakat mulai terlihat mana program CSR sesuangguhnya dan mana program sekadar amal dan derma.

Apa sih tolak ukur keberhasilan CSR. CSR adalah sustainable. CSR adalah program berkelanjutan. CSR tidak berhenti hanya sekadar donor darah, menyumbang sembako, bagi-bagi uang lalu diekspos (publikasi) besar-besar di koran nasional bahwa perusahaan A telah melakukan CSR. Itu Kuno.

Lalu apa dong ukuran keberhasilan CSR. Penasaran kan. Jawabnya sederhana. Keberhasilan CSR dapat terukur, bahwa CSR sesungguhnya harus mampu mengubah perilaku masyarakat.

Iya kan. Program charity dan philanthropy yang dilakukan sekadar syarat saja bila tidak merubah prilaku masyarakat maka ukuran pencapaian CSR yang standar tidak berhasil. Alias sero. Alias buang-buang uang, waktu, tenaga tapi tidak memenuhi ukuran.

Media Indonesia  edisi Kamis  27 Maret 2008  dalam salah satu tulisannya mengangkat  komentar Erna Witolar, Mantan Duta Besar Khusus PBB bagi Millenium Development Goals (MDG’s) Asia Pasifik. Erna mengatakan, Semestinya CSR bukan sekadar bagi-bagi bantuan sosial. Kegiatan seperti itu tidak akan membawa perubahan.

CSR  idealnya adalah bentuk komitmen dari perusahaan untuk  berkontribusi  dalam pembangunan ekonomi berkesinambungan. Kontribusi itu sekali lagi berkesinambungan. Bukan  hanya kontribusi sesaat demi popularitas untuk mendongkrak  image perusahaan. Karena kegiatan yang  hanya instan atau sesaat tidak akan membawa perubahan bagi masyarakat.

CSR mengedepankan pemberdayaan, entah melalui  karyawan (internal) maupun pemberdayaan masyarakat (eksternal).

Penerapan CSR yang berhasil selain memperbaiki taraf hidup atau kualitas  hidup karyawan dan masyarakat  secara tidak langsung  berdampak positif bagi  bisnis dan pembangunan. Dengan begitu, CSR  adalah penentu masa depan perusahaan.  CSR adalah program  yang akan dilihat oleh masyarakat. Dinilai dan diukur oleh masyarakat.

CSR perusahaan menjadi penting. Tidak boleh lagi ditawar-tawar. Atau menunggu perusahaan untung besar dulu baru menjalankan program CSR.  Inga   inga, Masyarakat makin pintar. Mereka tahu  bahwa perusahaan  yang baik adalah perusahaan  yang menjalankan CSR. Tentunya program CSR  yang mampu merubah masyarakat menjadi lebih baik.  Ya, diakui bahwasanya  perusahaan yang baik bila menguntungkan masyarakat, negara dan perusahaan itu sendiri (good business must be good for community, good for country, and good for business itself).

Kalau ada perusahaan  yang hanya sibuk menguntungkan dirinya sendiri maka siap-siap saja dinilai oleh masrakat sebagai  perusahaan  yang egois. Nah lho.

Bila konsep CSR dijalankan dengan baik, maka perusahaan tidak lagi membuat atau mendesain program CSR sekadar  bagi-bagi uang saja. Apalagi perusahaan  yang bagi-bagi uang karena takut dituntut (yaitu perusahaanya yang  hanya jago merusak alam, atau membuang limbah ke masyarakat).

Bila konsep CSR berjalan baik. Masyarakat tidak akan ribut. Bila CSR berjalan dengan ideal, masyarakat akan senang karena  mereka dilibatkan  dalam pemberdayaan pembangunan.

Kini banyak perusahaan besar di Indonesia yang  sudah memprioritaskan  program CSR pada penanggulangan masalah sosial seperti kemiskinan, pendidikan,  kesehatan. Selamat menjalankan CSR.

Iklan

13 Komentar (+add yours?)

  1. Listya Anindita
    Feb 24, 2009 @ 05:08:40

    wawww, keren2.. boleh minta tlg krmin email ukuran CSR yg ideal menurut para ahli ga?dikatakan ideal menurut “” jika memenuhi …… ada ga? tolong yah.. aku lagi cari referensi buat skripsi nih, tntg kegiatan CSR PT Telkom Bandung.. Thanks a lot yah, infonya.. ditunggu..

    Balas

  2. marumpa
    Feb 24, 2009 @ 07:42:09

    Dear Listya, bahan tentang CSR sangat melimpah, silahkan baca http://www.csr-asia.com atau silahkan cari referensi mengenai ISO 26000 tentang CSR (saat ini drfat-nya sedang diperbaiki. Rencananya akan diimplementasikan pada tahun 2010 mendatang). Semua konsep CSR yang paling ideal terdapat di ISO 26000.

    Balas

  3. hilda
    Okt 07, 2009 @ 19:51:23

    pak kebetulan banget ngebahas csr.. saya sedang butuh bahan csr yg mempengaruhi ukuran perusahaan dan profitabilitasnya. yg di lihat dari teori mormatif dan teori hipotesis..
    bisa tolong di carikan bahannya pak..
    thx b4

    Balas

  4. Fiko
    Okt 08, 2009 @ 05:42:20

    Assalammualaikum wr.wb.
    Pak sangat kebetulan sekali pembahasan bapak mengenai CSR, saya sangat membutukan info mengenai CSR terutam yang terjadi di Pulau Batam. Pak saya mohon bantuannya jika bapak mengetahui informasi mengenai CSR di pulau Batam. Terimakasih Pak.

    Balas

  5. marumpa
    Okt 08, 2009 @ 07:43:23

    Dear Hilda dan Fiko

    CSR di batam belum banyak yang mengaplikasikannya. Salah satu perusahaan besar yang menerpakannya adalah PT BIC, PT Mc Dermot, PLN Batam, PT Citra Tubindo, PT ATB, untuk mengetahui CSR yang direkomdasi dunia internasional anda dapat membaca panduaannya pada CSR ISO 26000. Untuk praktek ideal sesuai ISO 26000 tersebut masih langka di negeri ini. kebanyakan praktek CSR hanya menjalankan charity atau filantropi. padahal CSR mencakup : 1. tata kelola organisasi (organizaional governance), 2. Hak asasi manusia (human rights), 3. ketenagakerjaan (labour practice), 4. lingkungan hidup (environtmental), 5. Fair oeparting practice (praktek operasi yang adil), Consumer issue (konsumen) dan Social development (peengembangan sosial ekonomi kemasyarakatan).

    Salam CSR.

    Balas

  6. Fiko
    Okt 12, 2009 @ 08:55:30

    terimakasih pak.. sekarang ini sya memang sedang memusatkan perhatian saya kepada csr yang ada di Pt Mc dermott.. tapi saya sedikit mengalami kebingungan dalam hal data2nya..

    Balas

  7. INEZ
    Mar 16, 2010 @ 08:11:57

    pak..kebutulan membahas CSR saya lagi nyusun skripsi tentang pengaruh CSR terhadap citra perusahaan di PT. MC dermott
    tolong bantu saya pak ks refrensi buku tentang CSR tehadap imange corporate donk pak…!
    terima kasih

    Balas

  8. inez
    Mar 17, 2010 @ 15:19:40

    pak saya lagi menyusun skripsi tentang CSR tehadap Citra perusahaan di PT. Mc dermot batam
    saya minta tlg pak untuk bantu saya memperoleh data yg mungkin dapat memabntu penulisan skripsi saya
    saya jg memohon sudi kiranya bapak menyarankan referensi buku apa yg memngupas tentang judul saya pak…
    terima kasih y pak…

    Balas

  9. marumpa
    Mar 18, 2010 @ 03:45:29

    Dear Inez

    Buku tentang CSR di tanah air memang masih langka, kalaupun ada bukunya belum mengikuti pola yang diatur dalam CSR ISO 26000. Trend yang berkembang di tanah air CSR masih banyak yang menyamakan CSR dengan filantropy dan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan hidup.

    Program CSR adalah program berkelanjutan, yakni terdiri dari:
    1. Tata kelola organisasi (organizaional governance)
    2. Hak asasi manusia (human rights)
    3. Ketenagakerjaan (labour practice)
    4. Lingkungan hidup (environtmental)
    5. Fair oeparting practice (praktek operasi yang adil)
    6. Consumer issue (konsumen)
    7. Social development (peengembangan sosial ekonomi kemasyarakatan).

    Tentang buku referensi di Indonesia memang sangat langka.Saya pernah survey di toko buku gramedia dan juga lihat di internet, buku yang berhubungan dengan CSR dan Community Development memang terbatas diantaranya adalah :
    1. Filantropi di berbagai tradisi dunia (editor: Warren F. Ilchman, stanley N, katz, edward L, queen II)
    2. Metode dan Teknik Pengelolaan Community Development (Arief budimanta dan bambang Rudito)
    3. Pekerja Sosial di Dunia Industri (Edi suharto, Ph.D)
    4. Pemberdayaan Sosial (Gunawan Sumodiningrat)
    5.Corporate Social Responsibility and international development is busines the solution (michel hopkins)
    6. Corporate Social Responsibility in the mining industry (natalia yakovleva)
    7. CSR, Jawaban bagi model pembangunan Indonesia saat ini (Arif Budimanta).
    8.Corporate Social Responsibility: doing the most for your company and your cause (philips kotler)
    9. Filantropi islam dan keadilan sosial (Irfan Abu bakar)
    10. http://www.csr-asia.com
    11. www. csrindonesia.com

    Salam.

    Balas

  10. fiko
    Jul 13, 2010 @ 02:27:23

    pak saya ingin tanya apa selama ini perusahaan perusahaan dalam menjalankan program CSR sudah melakukan komunikasi dengan pihak pemerintah baik itu melalui bapeda atau badan pemerintah lainnya??

    Balas

  11. marumpa
    Jul 13, 2010 @ 03:10:36

    Komunikasi dengan pihak pemerintah oleh CSR bukan kewajiban. Namun dalam program CSR yang bersentuhan dengan masyarakat masalah koordinasi dengan pihak terkait adalah penting. Misalnya kegiatan yang kami lakukan mengenai peduli pendidikan dan lingkungan hidup di sebuah Sekolah Menengah Negeri, sebelum kegiatan digelar tim CSR melakukan koordinasi (brainstorming) dengan pihak aparat (Kecamatan, Keluarahan, kepala kelohan hingga komite Sekolah).

    Apakah Tim CSR harus melakukan koordinasi dengan Bapeda adalah tergantung kondisi lapangan dan tujuan yang ingin dicapai oleh petugas CSR. Kita sadari bahwa koordinasi yang dilakukan oleh petugas CSR tidak hanya dengan pihak Bapeda saja. Karena wilayah kerja CSR mencakup aspek tata kelola perusahaan hingga pemberdayaan (Lihat ISO CSR 26000).

    Kegiatan CSR adalah kegiatan sosial yang saat ini oleh sebagian orang masih sering keliru memahami filosopinya. Kekeliruan tersebut adalah menganggap CSR sebagai kegiatan yang berkaitan dengan Lingkungan Hidup dan charity saja.

    CSR adalah program yang strategis yang harus dipahami oleh pimpinan tinggi perusahaan dan pemerintah. Pihak petugas CSR perusahaan dengan unsur pemerintah sebaiknya memiliki koordinasi yang bagus agar program yang dilakukan oleh petugas CSR tidak bertentangan dengan program yang akan dibuat oleh pemerintah (khususnya program yang bersentuhan dari komponen Lingkungan Hidup (environtmental) dari CSR.

    Balas

  12. amy
    Nov 20, 2010 @ 09:53:00

    pak saya sedang skripsi tentang strategi penerapan CSR perusahaan X melalui suatu program untuk merubah perilaku konsumen. apa bapak berkenan untuk menjadi informan expert ? mohon dibalas…trims

    Balas

  13. aYu
    Nov 02, 2011 @ 00:18:14

    pak, apa aja ukuran CSR itu yang sebenarnya?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: