Buku Harian Moni

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke kamar dormitory. Minggu pagi ini Moni sengaja bermalas-malasan. Ia tidak bangkit dari tempat tidur dan mandi. Sebulan terakhir ia lembur di PT. Kini ia akan memanjakan badannya. Hari Minggu adalah hari yang sangat berarti. Banyak pilihan yang bisa dilakukan Moni. Seperti minggu-minggu sebelumnya kalau ia tidak ada jatah lembur. Ia memilih ikut dengan teman-teman Club Pencinta Alam Cumfire menjelajahi hutan yang ada di Batam. Moni paling suka hutan yang ada di Sungai Ladi. Pohon yang ada di hutan Sungai Ladi masih segar. Udara bersih. Kicau burung menghibur hati.

 

Pencinta Alam adalah kegiatan di luar jam kerja yang dipilih Moni. Alasan ia memilih organisasi Pencinta Alam Cumfire karena Moni paling suka dengan tumbuhan. Dulu ia bercita-cita menjadi sarjana pertanian. Segala yang berbau hutan Moni suka. Moni senang menuliskan pengalamannya ke buku diary. Moni juga senang memotret. Selain Cumfire banyak organisasi lainnya di Batamindo yang bisa dijadikan pilihan untuk berorganisasi. Sebagai perempuan muda yang berwajah cantik, putih dan tinggi 170 centi meter sebetulnya Moni cocok ikut kegiatan Sanggar Tari Langgeng Pertiwi atau Forum Lingkar Pena. Bahkan sangat pas jadi model. Teman-temannya di Cumfire menyindir. Tampang model kok ikut Cumfire, goda temen-temennya saat mereka kumpul bersama.

Jadwal pada Minggu ini yang telah tersusun rapi di buku harian Moni adalah ikut kegiatan jelajah hutan. Ada pesan singkat masuk di Hand Phone nya yang berwarna biru . Teman-temannya di Base Camp Cumfire Blok A5-4 sedang menunggunya. Moni adalah koordinator konsusmsi.

Moni tidak terburu-buru mempersiapkan diri. Ia tahu teman-temannya di Cumfire sayang padanya. Meski bangun telat, mereka tak mau meninggalkan Moni. Teman-teman Moni rela menunggu satu jam hingga Moni datang setelah itu mereka berangkat bareng-bareng.

Terik matahari mulai menyengat kulit. Jam di Hand Phone Moni telah menunjukkan pukul 09.00. Moni pamitan sama teman satu dormitory. Ia meluncur ke base camp Cumfire dengan ojek. Sepuluh menit kemudian Moni sampai. Teman-temannya sudah mempersiapkan bekal. Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat. Doa keselamatan sebelum berjalan usai dilakukan.

Sesaat kemudian rombongan pencinta alam sudah meninggalkan keramaian pabrik . Moni berjalan paling belakang. Ia bernyanyi riang. Lagu – lagu terbaru dari i pod jadi teman pavoritnya. Moni sudah terbiasa ikut petualangan Cumfire. Sudah terbiasa tersesat. Sudah terbiasa berada paling belakang. Ia tidak pernah merepotkan teman-temannya. Kemampuannya membaca kompas dan peta cukup mengagumkan. Dalam ekspedisi pencarian orang hilang, ia selalu ikut jadi relawan. Tidak mengherankan saat rombongan pencinta alam telah tiba di lokasi tujuan. Di hutan Sungai Ladi, teman-temannya pun tenang-tenang saja..

Sementara itu, dari kejauhan ada sepasang mata mengawasi rombongan pencinta alam yang sedang melintas di hutan Lindung Sei Ladi. Orang tersebut bersembunyi di balik semak-semak. Mengawasi satu-demi satu anggota Cumfire.

Moni yang pendengarannya sangat baik menangkap suara mesin. Hatinya bertanya, apakah di tengah hutan ini ada jalan pintas sehingga motor bisa menerobos. Ah tak mungkin, Moni menjawab sendiri pertanyaannya. Pikiran Moni penasaran ingin tahu. Suara apakah gerangan. Aha, jangan-jangan suara itu berasal dari mesin gergaji yang digunakan penebang liar untuk membabat pohon di hutan lindung Sei Ladi.

 

Moni tidak memberitahukan teman-temannya saat naluri investigasinya membelokkan minat ke suara mesin gergaji tersebut. Moni sangat percaya pada dirinya bisa melakukan pemotretan dari jarak jauh. Selama ini ia sering menjadi Papparasi. Moni sangat bergairah melakukan pemotretan yang beresiko. Apalagi kalau foto-fotonya yang dikirim ke media massa mendapat respon dari pembaca.

Lincah sekali Moni menyelinap di sela-sela pohon. Ketika jarak pengambilan foto sudah dekat dan objek yang menjadi sasaran sudah bagus. Buru-buru Moni mengeluarkan kamera digitalnya. Moni sangat senang dapat mengabaikan foto – foto tentang pemalakan liar. Tanpa diduga sebuah pukulan dari arah belakang mendarat di kepala Moni. Pandangan Moni Gelap. Ia jatuh dan pingsan.

Setelah ditunggu selama satu jam. Batang hidung Moni tidak muncul . Dodo, salah seorang senior mencoba menghubungi Hand Phone Moni tapi tak diangkat. Keceriaan yang tadinya mereka rasakan berubah jadi kecemasan. Program berlatih rapling yang telah disusun rapi akhirnya dibatalkan. Dodo langsung memerintahkan para senior untuk berpencar untuk mencari keberadaan Moni.

Rombongan dipecah menjadi empat bagian. Ada yang ke Utara, Selatan, Timur dan arah ke Barat. Jam di Hand Phone menunjukkan pukul 18.00. Matahari mulai jingga. Magrib sebentar lagi tiba. Pencarian nihil. Tim pencari kembali berkumpul dan melakukan evaluasi. Dodo yang paling senior diantara mereka nampak gelisah. Ia adalah penanggungjawab acara.

Pukul 20.00, sebagian anggota rombongan meninggalkan Sungai Ladi. Dado memerintahkan anggota yang akan masuk kerja shift pagi agar pulang lebih awal. Anggota yang masuk shift ke dua dan ketiga atau yang sedang off diminta untuk tetap melakukan pencarian. Perasaan kuatir dan cemas menyebar di wajah-wajah sahabat Moni. Mereka takut terjadi hal buruk pada Moni

 

 

*****

Badan Moni diikat dengan tali nilon ke sebuh pohon. Berangsur-angsur Moni sadar dari pingsan. Kepalanya terasa masih sakit, namun tidak berdarah. Pandangan moni agak kabur. Kamera digital bermerek Nikon dan buku harian Moni disita. Tiga orang lelaki bertubuh kekar mengikat Moni pada sebuah pohoh persis di depan gubuk yang menjadi markas illegal logging. Tempatnya sangat tersembunyi. Di gubuk itu terdapat suku cadang mesin gergaji, tumpahan oli, rantang nasi, bungkus rokok, bungkus mie instant, sisa kayu bakar. Ada juga sabun mandi. Pasta gigi yang sudah terpakai setengah dan sikat gigi sudah menghitam di bagian tangkainya . Serbuk gergaji berserakan di halaman gubuk. Gubuk ini tidak hanya menjadi tempat penggergajian tapi juga sebagai tempat beristrahat para penjarah hutan.

Salah seorang dari ketiga lelaki yang menyekap Moni dipanggil Udin. Udin adalah pimpinan mereka. Lelaki itu berkulit coklat namun wajahnya bersih. Otonya kuat. Badanya bidang. Udin telah membaca semua tulisan di buku harian Moni. Udin juga sudah melihat foto-foto yang ada dalam kamera digital Moni. Sekilas Udin tidak menampakkan wajah buas. Kesan yang terlihat di mata Moni justru orang yang punya latar belakang pendidikan. Tapi kenapa ia menjadi bos penjarah hutan? Batin Moni bergejolak.

Udin marah. Setelah membaca tulisan di buku harian Moni. Ia akhirnya tahu penulis yang suka membocorkan bisnisnya di koran. Moni adalah penulisnya. Setelah mengikuti berita dan surat pembaca yang ada di Batam Pos, tahulah Udin kalau gaya penulisan yang ada di surat pembaca Batam Pos sama persis dengan gaya penulisan Moni. Tidak salah lagi, tebak Udin dengan mata melotot

Udin melepas ikat tangan Moni. Moni mengelus tangannya yang kemerahan akibat ikatan yang terlalu kuat. Moni menyilangkan kedua tangan ke depan dadanya. Udin menyodorkan sebuh kliping tulisan yang ada di koran. Udin melempar kliping koran tersebut ke wajah Moni. Moni menunduk.

 

Moni tampak ketakutan. Ia gemetar. Pikiran negatif memenuhi rongga otaknya. Apalagi dua orang anak buah Udin menatapnya dengan penuh nafsu laki-laki. Moni takut kehormatannya direnggut. Moni berdoa dalam hati. Di tengah hutan ini penjahat bisa melakukan apa saja terhadap dirinya. Ya Allah lindungilah hambamu, doa Moni dalam hati.

Di tengah kekalutan dan ketakutan. Udin meminta Moni agar tidak lagi mengirimkan tulisan-tulisan yang menganggu bisnisnya.

“Hai Nona , saya mohon agar tidak lagi mengusik bisnis saya.” Kata udin.

“Aku tak mungkin mengikuti kemauan anda.” Jawab Moni.

“Ha. Dasar perempuan tak mau diuntung. Kau akan menanggung derita.” Ancam Udin.

“Aku tak mau berkompromi denganmu. Aku tetap pada pendirianku, mengirim tulisan tersebut ke koran.”

 

Budi kehabisan kata-kata. Ia bingung harus ngomong apa lagi menghadapi gadis ini. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celannya. Sebatang rokok Dji Sam Soe dimasukkan ke dalam mulutnya. Budi menyalakan korek gas. Sesaat kemudian ujung rokok itu sudah merah menyala. Asap putih menari di depan wajah Moni. Moni memalingkan wajahnya. Ia dari dulu tak suka asap rokok. Udin tertawa melihat penderitaan Moni.

“Hai gadis, kalau kau masih berkeras. Kami akan membiarkanmu terikat di tengah hutan ini,” ujar Udin.

Moni menatap tajam ketiga lelaki tersebut. Moni tak menggubris dan tak mau bekerja sama dengan ketiga lelaki tersebut. Akhirnya ketiga lelaki tersebut mengikat kembali Moni. Udin mengembalikan buku diary dan kamera digital Moni.

Ketiga lelaki tersebut betul-betul meninggalkan Moni sendirian terikat di tengah hutan. Mereka berpikir Moni akan menyerah dan meminta tolong. Saat ketiga pelaku illegal logging itu pergi, Moni mengeluarkan pisau lipat yang ada di saku jaketnya. Dengan susah payah ia menggunakan jari- jari kaki memutuskan tali nilon yang mengikat badanya. Selama tiga puluh menit ia berjuang memutuskan tali nilon yang terikat keras di badannya. Butiran keringat sebesar biji jagung menggantung di hidungnya. Bajunya basah oleh keringat.

Setelah tali terputus, Moni mencoba mencari sesuatu di dalam gubuk mengharap menemukan alat bantu yang bisa digunakan sebagai alat penerang. Beruntung ia menemukan sebuah korek gas. Korek gas itu milik Udin yang tertinggal. Moni menghidupkan korek gas itu, ia meraih kertas kardus mie instant. Isinya ia keluarkan. Kardus itu disobek lalu dibakar sebagai pengganti obor.

Dari tumpahan isi kardus, mata Moni tertuju pada salah satu kertas yang memuat perjanjian jual beli kayu dengan sebuah toko bangunan. Moni Juga menemukan sebuah kartu nama LSM Lingkungan Hidup. Nama yang tertera di kartu itu adalah Heru Prayoga. Moni heran dan bertanya-tanya, siapakah gerangan pemilik kartu nama ini kok berada di tengah hutan. Jangan-jangan pemilik kartu ini juga sedang dincar oleh Budi dan rekan-rekannya, pikir Moni.

Meski menggunakan potongan kertas yang dibakar, Moni akhirnya bisa keluar dari hutan. Moni sangat mengusasi isi hutan Sungai Ladi. Ia sudah berkali-kali melakukan survey dan perkemahan di lokasi ini. Sejak awal dia bergabung di perusahaan. Ia sudah rutin mengikuti perkemahan di hutan lindung bersama anak-anak Pencinta Alam Cumfire. Moni berhasil menyelematkan diri hingga ke dormitory. Ia memang perempuan yang tangguh.

 

*****

Esoknya Moni diintrogasi teman-temannya di sekretariat. Dengan perasaan tanpa dosa Moni membuat cerita bohong. Moni tak mau rahaianya diketahui. Ia ingin menyimpan sendiri masalah yang ia alami. Ia malu sama juniornya karena tidak disiplin dalam tim akhirnya agenda repling tempo hari jadi berantakan. Moni berkata, saat perjalanan kebetulan ia berada paling belakang. Bosnya di PT mendadak memohon Moni masuk kerja karena ada tugas penting yang membutuhkan bantuan Moni. Akhirnya Moni balik arah lagi tanpa sempat memberitahukan rekan-rekannya, apalagi saat itu signal Hand Phone Moni bermasalah. . Sejak peristiwa itu, Cumfire membatasi kegiatan jelajah hutan. Cumfire mencoba untuk mengalihkan konsentrai kegiatan dengan memusatkan kegiatan pada latihan Wall Climbing. Dalam waktu dekat akan dibuat kejuaraan wall climbing.

Kegiatan lainnya yang juga mendapat perhatian adalah menyukseskan Seminar Reboisasi. Pengurus Cumfire mencoba untuk membagi tugas. Sebagian anggota ditugaskan untuk mengkoordinir Lomba Wall Climbing dan sebagian lagi ditugaskan untuk mengkoordinir kegiatan Seminar Reboisasi.

Moni diberi tugas untuk mengkoordinir seminar. Ia dan teman-temannya yang lain mendapat tugas khusus sebagai pencari dana.

Dengan penuh semangat Moni menyambar tugas yang diberikan. Moni memang aktifis yang tidak ada capeknya. Urusan pencinta alam ia handal. Mengurusi organisasi pun ia jagonya. Kegiatan pencarian sponsor sudah sering ia emban. Berbekal kemampuan berkomunikasi ditunjang wajah yang cantik sering memudahkan tugasnya dilapangan. Padahal teman-temannya yang lain paling sulit dalam mengurusi pendanaan.

Pagi itu, saat Moni sedang off dari PT ia menyempatkan waktunya untuk turun ke instansi-instansi memasukkan proposal kegiatan. Satu demi satu instansi pemerintah dan swasta ia masuki. Ia memakai motor. Dengan mengendarai motor gerakannya lebih lincah dan cepat.

 

*****

Menteri Lingkungan Hidup telah tiba di Hotel Harmoni Batam. Para pejabat pemerintah banyak yang hadir. Tokoh dari sejumlah anggota Legislatif pun banyak yang hadir. Pengurus dari sejumlah LSM lingkungan hidup juga mendominasi kursi undangan. Seminar digelar dalam rangka meningkatkan kepedulian warga masyarakat akan pentingnya menjaga hutan sebagai paru-paru dunia.

Ketika sesi tanya jawab berlangsung, Menteri Lingkungan Hidup sibuk memberikan jawaban kepada peserta seminar. Tapi tiba-tiba Moni terkejut. Salah seorang peserta seminar yang mendapat kesempatan paling akhir bertanya ke Menteri memperkenalkan diri sebagai Heru Prayoga dari LSM Peduli Hutan. Heru Prayoga mendesak pemerintah pusat agar menangani hutan dengan serius. Heru sangat berapi api memohon Pak Menteri agar pelaku korupsi di lingkungan Menteri Lingkungan Hidup dimasukkan dalam penjara. Seketika jantung Moni tak karuan. Moni tiba-tiba ingin muntah, kepalanya pusing. Heru Prayoga membuatnya salah tingkah. Padahal Heru tidak meperhatikan dan mengetahui keberadaan Moni di area seminar ini.

Heru Prayoga nampak akrab dengan sejumlah pejabat dari instansi pemerintah dan swasta di Kota Batam. Ia juga akrab dengan pengurus LSM yang banyak hadir di acara ini.

Moni buru-buru menundukkan kepalanya. Ia lekas-lekas meninggalkan ruang seminar. Moni tidak pamit sama teman-temannya. Ia meninggalkan lokasi seminar meski acara belum usai. Ia kabur dengan menaiki taxi Union.

 

Sejak acara seminar di Hotel Harmoni, Moni menghilang dari kegiatan Pencinta Alam Cumfire. Teman-temannya di Cumfire heran melihat perubahan pada Moni. Meski telah dibujuk oleh Dodo. Moni tidak mau bercerita kenapa ia menghilang dari kegiatan pencinta alam. Majalah dan buku serta kliping tentang kelestarian hutan mulai jarang disentuh Moni. Artikel tentang pelestarian lingkungan hidup pun jarang ia kirim ke media. Di dormitory Moni sering melamun.

Moni mengambil buku hariannya. Ia membaca kembali kisah pahit yang mendera batinnya. Pikiran Moni akhirnya melayang pada ibunya di Jogyakarta. . Sejak musibah tanah lonsor yang terjadi 2005 yang lalu. Keluarga Moni menjadi korban keganasan tanah longsor. Hujan deras yang turun selama tiga hari-tiga malam menyebabkan perumahan yang berada di lereng gunung amruk dan dalam hitungan menit tertelan tanah longsor. Bapak dan adik-adiknya tidak ditemukan hingga kini. Yang selamat hanya kakak perempuan dan ibunya.

Ibunya harus dirawat khusus karena terkena runtuhan tembok. Kepala ibunya luka parah. Membutuhkan pengobatan yang serius. Harta yang dulu cukup untuk membiayai sekolah Moni hingga ke jenjang perguruan tinggi sudah habis. Bantuan dari pemerintah daerah Istimewa Jogyakarya sudah berhenti. Pengobatan harus jalan terus. Lantaran Moni tak memiliki penghasilan tetap di Jogyakarta, ia memilih merantau untuk mencari uang untuk biaya pengobatan Ibunya. Ia percayakan perawatan Ibunya pada Kakak perempuannya. Moni diberi kepercayaan untuk mencari kerja di kota karena mempunyai wajah yang cantik dan otak encer.

Moni memilih merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Meski tak tahan dengan polusi Jakarta, ia tetap berusaha melakukan penyesuaian diri dengan iklim kota Jakarta yang terkenal panas dan sarat polusi udara.. Moni akhirnya bekerja pada salah satu agency. Sayang, Moni tak betah karena bosnya tidak transparan. Sesi pemotretan yang ia lakukan untuk dijual di majalah lebih menekankan pada kemolekan tubuhnya. Moni tak mau menjual tubuhnya. Ia keluar dan mencari pekerjaan lain. Ia pindah kerjaan ke pabrik perakitan kendaraan bermotor dan diterima sebagai Custumer Service. Saat efeiensi berlangsung , Moni termasuk karyawan yang di PHK.

Setelah meninggalkan Jakarta, Moni memilih Batam. Ia bergabung dengan perusahaan pengembang. Moni juga tak bisa tahan karena perusahaan pengembang tempatnya bekerja tidak memperhatikan kelestarian hutan. Batin Moni protes. Ia tak bisa enjoy bekerja pada perusahaan yang melakukan pengrusakan hutan.

Berkat keluwesan dalam pergaulan, akhirnya Moni terdampar bekerja di salah perusahaan di Kawasan Industri Batamindo. Moni betah bekerja di Kawasan ini karena tersedia banyak fasilitas umum, aman, bersih, pohon keras dipelihara dengan baik oleh pengelola Kawasan Industri Batamindo. Apalagi setiap bulan april pohon – pohon di depan Astaka Lama berbunga sangat indah.

 

******

Dodo yang diam-diam menyukai Moni membujuk Moni agar aktif kembali.

“Apa yang harus kami lakukan Mon, agar kamu bersedia aktif lagi di Cumfire?” tanya Dodo.

Moni tersenyum. Namun matanya berkaca-kaca.

“Hutan membuatku trauma, Do.”

“Ha!” mata Dodo terbuka lebih lebar.

“Aku serius Do. Aku jadi benci sama hutan”

“Lho, kok bisa. Bukankah selama ini kamu sangat menikmati aroma hutan. Selama ini kamu paling jago memotivasi anak baru agar menjaga dan mencintai hutan. Apa sih yang terjadi pada dirimu Mon.”

“Entahlah Do.”

“Apakah ada konflik dengan teman-teman.”

Moni menggeleng sembari menggigit bibirnya. Moni memilih diam. Meski Dodo tetap berjuang merayu dirinya agar tetap aktif di Cumfire. Moni tetap pada pendiriannya.

Moni lalu menyerahkan buku harian yang memuat kisah pertemuannya dengan Udin yang pernah menyekapnya di tengah hutan Sei Ladi..

Dodo membaca kalimat demi kalimat buku diary Moni. Setelah membaca buku diary Moni, Dodo akhirnya mengangguk perlahan.

“Jadi selama ini kami dibohongi!” kata Dodo.

“Ya, saat itu saya di sekap kawanan pencuri kayu. Saya hanya mengarang cerita tiba-tiba menghilang dari rombongan karena ada urusan mendadak di perusahaan. Dan mengatakan bahwa singnal Hand Phone saya bermasalah. Sejatinya saya disekap kawanan Udin.”

Dodo menggelang kepala.

“Udin yang menyekap saya di hutan ternyata punya nama lain, Do,” kata Moni.

“Saya tidak mengerti maksudmu Mon.!”

“Udin adalah Heru Prakoso.”

“Ha! saya tak percaya,” mata Dodo makin melebar.

“Sungguh saya serius,” aku Moni sambil mengangguk.

Heru Prakoso yang selama ini lantang menyuarakan pelestarian hutan ternyata adalah Udin yang pernah menyekap Moni di tengah hutan. Heru Prakoso yang berperan sebagai ketua LSM menjalankan peran ganda. Kalau di tengah hutan lindung ia bernama Udin. Di kota berganti nama menjadi Heru Prakosa. Heru Prakoso pemain sandiwara yang hebat. Dua peran ia lakoni sekaligus. Ia maling berteriak maling. Lelaki tersebut pernah mengikat dan meninggalkannya di tengah hutan. Ia ternyata serigala berbulu domba.

Moni mengepalkan tangannya kuat. Mengambil nafas lalu mengembuskannya. Matanya tertuju pada hutan di sekitar Kawasan Industri Batamindo. Ia kangen Ibu dan Kakanya. Ia ingin pulang. Samar-samar lagu kota Jogyakarta dari Katon Bagaskara Kla Project terdengar mengiris hatinya.

Muka Kuning, Awal Mei 2007. Penulis adalah anggota FLP Batamindo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: