Campus Campaign Se-Sumatera 2015 Di Batamindo

Dalam rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-25 PT Batamindo Investment Cakrawala dan PT Tunaskarya Indoswasta digelar program Campus Campaign. Acara ini dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Mei 2015 di Wisma Batamindo, Mukakuning Batam. Program ini dianggap penting dan belum pernah dilaksanakan di Indonesia, kata AGM PT Tunaskarya Indoswasta. Adi mengatakan Campus Campaign adalah kegiatan yang mempertemukan dunia industri dan dunia pendidikan.
Perguruan Tinggi memamparkan langsung keunggulan dari institusi, jurusan dan juga lulusannya serta berinteraksi langsung dengan Pelaku Industri, guna mendapatkan informasi yang akurat tentang kebutuhan kompetensi yang diharapkan di Industri (Link & Match Process) atau juga dikenal istilah gap identification.
Kita sangat sadar bahwa banyak lulusan-lulusan dari perguruan tinggi yang tidak terserap di industri, menambah tingkat pengangguran. Hal ini menyedihkan, bagi mahasiswa dan perguruan tinggi yang memproduksi Sumberdaya Manusia yang berkualitas. Ujar Adi Neka.
Untuk menjawab hal tersebut, PT Batamindo Investment Cakrawala dalam hal ini melalui PT Tunaskarya Indoswasta mengundang 5 perguruan tinggi di wilayah Sumatera, Politeknik Negeri Medan, Universitas Riau, Politeknik Caltex Riau, Politeknik Sriwijaya dan Politeknik Batam. Dipertemukan dengan perusahaan Multi National Corporation (MNC) di dalam Kawasan Industri Batamindo dan juga beberapa perusahaan yang berada di luar Kawasan Industri Batamindo. Ada perusahaan jasa dan manufaktur.
Tjitro, Senior Manager HRD, selaku perwakilan dari Manajemen PT Batamindo Investment Cakrawala, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada peserta yang hadir. Tjitro mengatakan pentingnya para pemangku kepentingan dalam hal ini, pihak perguruan tinggi dan pelaku industri untuk menyamakan persepsi tentang kompetensi yang dibutuhkan, sehingga lulusan dari perguruan tinggi betul-betul berkualitas dan bisa dihandalkan. Identifikasi competency gap ini sangat penting untuk dilakukan bukan saja kompetensi teknikal (hard-skill) namun soft-skill juga menjadi core competency yang dibutuhkan dalam dunia industri. Beliau juga menyampiakan bagaimana proses link Hard Skil dan Soft skill melalui Progaram Management Trainee (MT).
Kadisnaker Kota Batam, yang diwakili  Nur Halim, dalam sambutan juga memberi apresiasi kegiatan Campus Campaign yang baru pertama kali diadakan . Ini program yang bagus untuk menyamakan persepsi tentang kebutuhan dunia kerja.
Di satu sisi pemaparan oleh pemimpin perguruan tinggi yang ikut Campus Campaign, menjelaskan keunggulan-keunggulan infrastrutkur, tenaga pengajar, jurusan yang diminati, jumlah kelulusan sampai dengan pola didik dan menanamkan nilai-nilai kepada para mahasiswa.
Ada yang menggunakan istilah Unique Campus dan Smart Campus. Perguruan tinggi menyampaikan bahwa anak didik mereka adalah orang-orang yang siap pakai, namun dari dunia industri mengatakan bahwa di industry aspek teknikal bias diajarkan. Yang utama adalah pembekalan soft-skill. Dari hasil sharing tersebut, Pelaku Industri bersedia untuk menjadi nara sumber untuk sesi-sesi dunia kerja, untuk menambah wawasan mahasiswa mengenai realita di dunia industri.
Para pimpinan kampus yang memberikan pemaparan di hadapan pimpinan perusahaan adalah Prof. DR. Adrianto Ahmad Dekan Fakultas Teknik Universitas Riau, DR. Benny B. Nasution, Dipl.Ing.,M.Eng dari Politeknik Negeri Medan. H. Firdaus, S.T, M.T Pembantu Direktur I Politeknik Negeri Sriwijaya. Sugeng Purwantoro ESGS,S.T,M.T Pembantu Bidang Kerjasama, Bisnis dan Pemasaran Politeknik Caltex Riau. Dari Batam hadir Politeknik Batam yang diwakili oleh Arie Wibowo Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan.
Untuk memberikan gambaran utuh dunia industri, peserta Campus Campaign dari perguruan tinggi mengunjungi pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Batamindo. Diantaranya Perusahaan Perancis yang bergerak di salah satu bidang nya sebagai electrical manufacturing terkenal di dunia bersedia untuk menerima kunjungan dan memberikan pengarahan dan berkeliling ke area produksi, sambil menjelaskan, bagaimana sistim, prosedur dan proses produksi berjalan dan sampai dengan tingkat untuk menentikan Key Performance Indicator (KPI). Selain perusahaan Prancis tersebut, rombongan juga di ajak untuk melihat perusahaan yang bergerak dalam pembuatan alat bantu dengar (hearing aids & Earphone).
Kepala Pabrik menjelaskan kepada rombongan bagaimana frustasi nya mereka dalam merekrut lulusan dari perguruan tinggi yang tidak bisa meyakinkan dan menjawab pertanyaan yang semestinya di peroleh pada saat perkuliahaan. Salah satunya adalah bagaimana membaca Mechanical Drawing dan menggunakan alat-alat yang ada di produksi.
Dengan adanya forum diskusi dan dilanjutkan dengan kunjungan ke pabrik, perwakilan perguruan tinggi memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh industri. Mereka sangat berkesan dengan program Campus Campaign ini, dan begitu juga dari pelaku industry bisa menyampaikan dan memberikan umpan balik langsung kepada pihak perguruan tinggi. Ternyata memang disadari ada competency gap yang harus dilengkapi, dan salah satu caranya adalah dengan program pemagangan, yang perlu ditindaklanjuti kemudian. Tidak ada istilah terlambat untuk membenah segala kekurangan, jika semua pihak peduli dan serius untuk melengkapinya.
Selamat Ulang Tahun ke-25 untuk PT Batamindo Investment Cakrawala dan PT Tunaskarya Indoswasta, semoga selalu tetap peduli dan berkarya dalam membangun Sumber Daya Manusia yang berkualiatas.

SMK Real Informatika Batam Belajar CV

Sebanyak 30 an siswa SMK Real Informatik mengikuti pelatihan pembuatan Curiculum Vitae (CV) dan Wawancara Kerja. Pada 27 Maret 2015 lalu Tim P2SDM turun memberikan pembekalan pembuatan CV. Berlangsung di ruang belajar SMK Real Informatika. Fasilitator adalah M. Rusli dan Dedi serta Ulung.

Kegiatan ini merupakan program sosial dari P2SDM. Pembekalan memasuki duania kerja diutamakan bagi siswa yang akan meninggalkan bangku SMA. Persiapan siswa SMK memasuki dunia kerja adalah penting. Diakui oleh para siswa bahwa pelajaran membuat surat lamaran adalah pelajaran yang pernah diperoleh dari guru. Bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Para siswa bergairah ingin mengetahui dunia real tentang proses rekrutmen. Tak heran bila sambutan yang diberikan para siswa begitu besar.

Pembekalan berlangsung dua setenga jam. Para siswa aktif bertanya. Peserta juga melakukan praktek pembuatan surat lamaran. Peserta terbaik memperoleh hadiah buku dari fasilitator.

Para siswa dan guru senang. Senang karena pengetahuan baru tentang dunia kerja. Siswa mengharap pembekalan lainnya diperoleh secara teratur.

Jangan Pernah Lulus

Pencari kerja lulusan Sekolah Menengah hingga Universitas selalu bertambah. Data Agustus tahun 2014 menunjukkan jumlah pengangguran terbuka saat itu sebesar 7,3 juta jiwa. Pertumbuhan ekonomi tahun 2015 masih seputar 5,5 hingga 6 persen . Satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap sekitar 275.000 tenaga kerja nasional. Tingkat inflasi sekitar empat persen. Pengangguran juga didominasi oleh usia produktif.

Oke! Apa yang mesti diperbuat. Di lapangan dunia industri membutuhkan Tenaga kerja yang mengerti skill (sebut teknisi) dari pada akademisi. Lantaran susah mendapat tenaga trampil di dalam negeri tidak heran perusahaan merekrut dari luar negeri. Toh gaji tenaga kerja dari luar negeri (India, bangladeh, Philpina) tak jauh beda dengan gaji tenaga kerja lokal.

Suatu hari saya berkunjung ke tempat pelatihan dan uji kompetensi untuk welder (berlokasi didaerah Bengkong Batam). Sang pemilik menceritakan sulitnya mendapatkan tenaga ahli. Namanya Pak Ishak. Syarat yang diminta oleh perusahaan sangat tinggi. Ada satu perusahaan yang meminta uji kompetensi di tempat Pak Ishak, dari empat puluh calon yang ikut uji kompetensi kadang hanya ada dua yang lulus. Padahal perusahaan telah membayar mahal untuk uji kompetensi tersebut. User tak peduli dengan biaya yang dikeluarkan asalkan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan.

Para calon tenaga kerja yang ikut uji kompetensi tersebut bila lulus akan direkrut dan akan dipercaya untuk mengerjakan proyek yang membutuhkan skill yang tinggi. Beberapa calon yang ikut uji kompetensi adalah orang orang berpengalaman dan memeiliki sejumlah sertifikat welding. namun bukan jaminan diterima bila pada uji kompetensi yang di lakukan perusahaan tidak sesuai dengan spesifikasi yang dikehendaki. Ceritanya, ijazah hanya satu syarat saja untuk ikut proses penerimaan tenaga kerja. Ijazah bukan jaminan.

Satu lagi yang perlu diperhatikan para pencari kerja. Teknologi sangat cepat berkembang. Saat kompetensi khsusunya skill sedang diperdalam, di luar sana kompetisi perusahaan makin cepat melaju. Perusahaan tak mau rugi. Perusahaan terus melakukan inovasi. Tim Litbang terus berpikir keras membuat produk yang berteknologi tinggi dan harga terjangkau. Siapa yang memiliki inovasi tercepat dan diterima pasar maka siap siaplah perusahaan itu menjadi pemimpin.

Apa jadinya bila calon pencari kerja hanya membanggakan kompetensinya hanya dari sisi akademisi (teori) tanpa ditunjang dengan skill yang up to date. Bahasa alaynya bilang, “helooww”.

Seorang sahabat penulis. Berlatar belakang pendidikan juru masak. Jago bahasa asing. Telah bekerja di beberapa
tempat. Dalam dan luar negeri. Sahabat sadar akan perubahan yang berlangsung cepat. Kompetensi yang ditekuni tidak dibatasi hanya dari sisi pariwisata. Berbagai skill dirambah. Dia belajar tentang Safety, Quality, Industrial Relation, CSR, Manajemen Mutu. Nah ceritanya, ketika sanga sahabat melakukan uji test penerimaan karyawan di perusahaan selalu mendapat prioritas untuk dipanggil oleh perusahaan untuk wawancara kerja. Dengan begitu Sang Sahabat selalu mengikuti (tes dan ukur) perkembangan nilai jualnya di pasar kerja. Boleh ditiru nih.

Change mungkin itu kata yang tepat untuk menjawab tantangan jaman. Tidak ada yang tidak berubah kecuali Tuhan dan perubahan itu sendiri. Selebihnya berubah. Karena itu jangan terjebak dengan model , teori, skill yang sudah usang. Kata Rhenald Kasali, Jangan menjadi generasi Fix Mindset. Berfokuslah pada Growth Mindset. Karena itu jangan pernah lulus. Karena orang yang sudah lulus cenderung berhenti belajar.

Growth Mindset

Jumlah pengangguran kini masih tinggi. Lulusan Sekolah dari level Sekolah Dasar hingga Bangku Kuliah berjuta banyaknya. Tiap tahun pencari kerja berebut melamar pekerjaan. Menjadi pegawi negeri masih menjadi primadona. Khusus lulusan perguruan tinggi jumlahnya makin meningkat dan persaingan makin ketat. Bukan kanya lulusan strata satu saja yang bingung mencari lowongan kerja. Lulusan Strata dua juga sudah mulai menumpuk.

Lulusan stara satu dan strata dua banyak yang memiliki IPK diatas tiga. Lulus dengan IPK di atas angka 3 adalah perjuangan yang tidak mudah. Untuk lulus dengan IPK di atas tiga harus melewati sejumlah mata kuliah. Banyak ujian yang harus dilakukan. Banyak materi kuliah yang harus diambil. Namun IPK di atas tiga dan banyaknya mata kuliah yang pernah diikuti bukan jaminan sukses di lapangan kerja.

Bila diamati di dunia kerja. Lulusan yang ber IPK lebih tiga merasa mudah mendapatkan pekerjaan apalagi sudah lulusan strata dua. Di lapangan berbicara lain. Fresh graduated dan belum memiliki pengalaman kerja ketika memasuki dunia kerja sudah membentuk mind set bahwa nilainya mahal. Menganggap gaji yang diperoleh otomatis harus tinggi. Karena biaya kuliah yang ia keluarkan saat kuliah selama empat tahun di strata satu dan dua tahun di strata dua memakan biaya yang sangat mahal.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, saat memasuki dunia kerja lulusan pendidikan di atas mengharap gaji minimal dua kali gaji Upah Minimum Kota. Tak sudi digaji kecil. Akhirnya memilih jadi pengangguran. Sementara tiap tahun dunia kampus tidak memperbaiki diri. Asyik dengan cara pandang lama. Menjejali mahasiswa dengan konsep dan teori. Sudah bangga kalau nilai mahasiswa mendapat IPK di atas 3. Tak peduli pada jumlah pengangguran yang terus meroket. Pihak kampus hanya sibuk pada mind memory.

Mari kita amati sekilas. Ke manakah para juara kelas? Kemanakah para banggaan guru? Ke mana siswa yang dulu mendapat beasiswa Supersemar. Ketika memasuki lapangan kerja ternyata mereka bukan lagi bintang. Tak percaya. Lihat saja di sekelilingan kita. Begitu banyak sarjana yang miskin gemblengan, yang jarang menerima kesulitan, yang terlalu mudah menghadapi hidup, tak ikut berjuang memikirkan uang kuliah. Begitu memasuki dunia kerja justru gagap.

Kata Rhenald Kasali mengutip Carol Dweck, mengatakan bahwa anak anak yang menemukan sesuatu dengan mudah di sekolah atau cepat mendapat nilai A di kelasnya mempunyai tendensi fixed mindset.

Fixed mind set adalah cara berpikir yang terbentuk saat seseorang mendapatkan kemudahan yang membuatkanya ingin berlindung dalam kemudahan itu. Dampaknya, tertanam dalam pikiran mereka bahwa hidup akan selalu mudah dan kurang menghargai proses belajar yang harus dilewati dengan kerja keras, ketekunan, disiplin dan perjuangan.

Coba amati di dunia pendidikan tinggi. Mereka yang mengambil kuliah di kampus elit dan mahal adalah anak orang kaya yang orang tuanya mampu membayar puluhan juta rupiah. Sang anak tinggal kos kosan mahal, sang anak hanya membaca, menghapal, berorganisasi, tiap bulan mendapat jatah bulanan dari orang tua secara teratur. Biaya bulanan sang anak yang diterima juga adalah biaya di atas rata rata. Budget bulanan sang mahasiswa bukan hanya membayar biaya semester, kost, tapi juga membiayai hedonisme sang mahasiswa. Anak orang kaya dibekali motor hingga mobil, pulsa internet, baju baru hingga biaya nongkrong di mall.

Orang yang sukses dengan mudah di sekolah banyak yang terperangkap dalam fixed mindset. Mereka percaya telah memiliki tiket resmi untuk memimpin. Akibatnya takut membuat kesalahan.Takut membuat kegagalan. Tak berani mencoba hal hal baru. Golongan fixed mindset kwatir membuat kesalahan, mereka percaya bila membuat kesalahan akan menjatuhkan citranya sebagai orang pintar.

Carol Dweck menganjurkan agar orangtua yang memiliki kecerdasan diatas rata rata jangan diberi apresiasi terlalu cepat. Jangan terburu buru memberi cap anak cerdas. Anak anak yang diberi cap cerdas akan menyamakan cerdas sebagai quick and easy process. Kelak di kemudian hari anak fixed mindset ini takut menghadapi tantangan baru. Takut menanggung resiko. Yang pada akhirnya, kata Rhenald Kasali sang anak akan menjadi manusia berkarakter passengers.

Rhenald Kasali juga mengutip Michalko dalam bukunya Creative Thingking mengatakan fixed mindset cenderung terbentuk pada orang orang yang memiliki karakter high self monitors. Orang orang bertipe ini perhatian utamanya adalah terlihat hebat dan cerdas. Mereka sangat peduli bagaimana orang lain melihat atau mengevaluasi kehebatan dan kecerdasan mereka. Kecerdasan itu harus ditunjukkan. Mereka senang dilihat hebat. Saat mereka tidak mampu melakukan sesuatu akan menyalahkan orang lain (reaktif). Mereka tidak mau mengakui kesalahannya. Mereka punya kecendrungan artibusi eksternal.

Munculnya artibusi eksternal sehingga menjadi reaktif dan tidak mau menerima kekalahan karena sejak muda mereka terlalu banyak dan cepat memperoleh kemudahan dan pujian.

Sang bintang di dunia kerja justru berasal dari murid yang dulu nilainya biasa biasa saja tuh? Tapi sang bintang adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar. Bukan sekedar belajar hapalan (kuat pada sisi mind memory) tapi juga kuat dari sisi muscle memory. Sang bintang adalah mereka yang berjuang. Yang memperoleh sesuatu tidak cepat dan mudah. Yang tidak terperangkap dalam fix mindset dan atribusi eksternal. Mereka yang hebat adalah fokus pada growth mindset.

Gladwell mengatakan bahwa penerima hadiah nobel bukanlah dari golongan yang pernah mendapat IQ tinggi.

Orang yang sukses dan berhasil di lapangan adalah mereka yang berdedikasi tinggi, tangguh, disiplin diri, memiliki growth mindset dan low self monitor.

Rhenald Kasali kuatir dengan cara didik orang tua masa kini. Yang memudahkan anak, terlalu melindungi anak. Reaksi orang tua pada hedonisme begitu ekstrem. Di satu sisi sang anak diproteksi dan dikekang begitu ketat pada agama, dogma dan sekolah sehingga melahirkan anak anak alim yang konservatif. Rhenald Kasali mengutip Corriveau , Chen dan Harris mengatakan bahwa anak anak yang didik dengan model seperti di atas akan melahirkan anak anak yang kesulitan membedakan fakta dan fiksi. Di satu sisi sang anak diberi materi dan servis tanpa batas juga melahirkan anak anak yang liberal.

Kembali ke dunia pencari kerja. Ketika tidak mudah memasuki dunia lapangan kerja kita bisa menciptakan lapangan kerja. Merubah mind set. Jangan melihat bahwa bekerja itu enak dan mendapat gaji besar. Semua butuh proses. Cobalah mulai dari cara pandang baru. Segalanya butuh proses, ketekunan, pengorbanan, kerja keras dan disiplin.

Jangan terjebak dalam cara pandang lama yang melihat bahwa segala sesuatu bisa dengan mudah dibeli. Jangan pernah terjabak dalam pikiran mencari pekerjaa dapat diatasi (mudah dan cepat) dengan membeli. Membeli pekerjaan alis nyogok adalah tindakan yang berdosa dan merusak mind set.

Sudak waktunya kita merubah mindset atau cara pandang. Segala hal yang diperoleh dengan halal, kerja keras, disiplin, pengorbanan akan membentuk kita menjadi pemenang.

Saran bagi pencari kerja, ketika anda tidak lolos proses rekrutmen di perusahaan atau penerimaan pegawai negeri di pemerintahan jangan menganggap diri anda bodoh dan gagal. Jangan memberi lebel pada diri anda tidak beruntung, lalu menyalahkan perusahaan, pemerintah, menyalahkan pendidikan. Karena sesungguhnya tidak ada orang yang gagal. Yang ada adalah berhenti berusaha.

Lalu kemana setelah menamatkan bangku kuliah. Andalah yang menentukan. Bila anda ingin memasuki dunia kerja. sebaiknya ikuti proses alami. Hindari membeli pekerjaan. Sekali lagi hindari proses instant. Tempuhlah cara cara yang sportif. Bila belum diterima bekerja sebaiknya tambahkan kompetensi. Kini tersedia cukup banyak lembaga pelatihan yang mengajarkan kompetensi. Mengambil kompetensi seperti Keselamatan Kerja bisa jadi modal tambahan untuk mendapatkan pekerjaan. Perusahaan pasti lebih senang merekrut calon karyawan yang memiliki kompetensi namun juga sudah memiliki growth mindset dan low self monitor. Change.

Menyikapi Bacan

Dulu saya pernah terkagum kagum dengan  harga  ikan  lohan yang bisa menembus sampai jutaan rupiah. Pernah juga jenis bunga  yang dihargai hingga  ratusan juta rupiah. Burung  juga ada yang dinilai dengan  angka ratusan juta rupiah. Kini batu yang naik kelas.

Pedagang batu akik  kini  berpesta. Dulu penjual batu akik  hanya diminati  orang tua. Penjual batu akik  dianggap kuno, kampungan. Namun seiring dengan  perubahan  siklus  berubah.  Pamor batu akik naik  tangga. Kehadiran sosial media mempercepat  penyebaran informasi tentang  keistimewaan batu akik, batu  giok  dan batu  mulia  lainnya. Penggemar  batu bukan lagi  dari golongan  orang tua. Anak muda  sekarang lebih  peduli. Bahkan  ibu ibu pun  rajin berburu  bacan.

Satu bulan terakhir  up date status di Facebook  selalu diwarnai  informasi  batu.  Apaun  jenis batu  di up load lalu diberi komentar   yang lucu  (meme). Juga ada  komunitas yang memang  hobby dengan batu bacan  rutin meng up load  foto bacan. Isinya  berbau pameran dan  jualan batu. Perputaran  uang di sekitar batu ini terus  berlanjut.  Mulai dari  biaya traveling, hunting  batu hingga  pelosok kampung,   pameran batu.

Minggu  pertengahan Januari  saat  melintas di Mega Mall Batam Center ,  jam tangan menunjukkan pukul  21.00.  Pandangan mata saya menangkap pemandangan yang tidak asing pada sebuah  meja yang  menyediakan  aneka  batu. Tertata  rapi  puluhan  jenis batu  di  sana. Pikiran saya lalu melayang pada  up date  facebook yang  rutin menyinggung  mengenai bacan.  Wajar, pikir saya  dalam hati. Lagi musim batu.  Passion  bangsa kita sssat ini  bergeser ke batu.  Urusan politik   udah  mulai ditinggalkan. Sudah bosan kali.  Warga  negara butuh  persepsi baru  yang  bisa menyegarkan. Salah satu  mainan (passion)  tersebut  adalah  bacan.

Dalam sebuah  status Facebook  seorang  kerabat saya megomentari tingkah laku lelaki  yang sudah  lupa pada  anak dan istri karena hoby  gilanya pada bacan. Hari hari yang diurus  adalah bacan. Seolah olah  anak dan istri  tidak penting.  Istri  putus asa melihat hoby sang suami. Bahkan saking   sukanya  sama  batu bacan  rela  mengeluarkan  biaya  yang tidak sedikit  demi  batu bacan.

Persepsi  Pada Batu.

Berlian adalah  batu permata yang bernilai mahal karena langka.   Dari dulu orang suka. Sejak  jaman  kerajaan hingga   sekarang  Berlian  menjadi  barang bernilai  tinggi. Hanya  golongan  kaya yang bisa memilikinya. Keluarga raja,  pejabat dan pengusaha  kaya. Nilai ekonomi berlian  selalu  stabil. Harganya tidak pernah  turun. Makin  langka  dan berukuran besar  makin  mahal.

Sejak dulu dan hingga kini  masih ada warga masyarakat yang percaya pada  batu  tertentu yang diyakini  dapat memberi efek magis pada pemakainya.  Pada  hari Kamis  malam 29 Januari 2015  dalam acara ILC (Indonesia Lawak Club) trans TV menayangkan  acara  bertopik  susuk. Salah satu  benda yang menjadi bagian dari ritual pemasangan susuk tersebut  adalah berlian. Agar memberi efek  pada pemakai.  Kata nara sumbernya   kekuatan susuk tersebut  dapat memberi  rasa percaya diri  pada pemakai. Orang yang  melihat  s ipemakai susuk akan senang. Si pemakai susuk  akan terlihat menarik. Dan diakui  oleh  si nara sumber  bahwa  kekuatan  susuk tersebut  ada yang berasal dari Jin. Nah lho.

Batu  tertentu  juga diyakini sebagai  jimat. Dengan memakai batu tersebut sang pemilik akan  kebal. Ketika saya masih Kuliah dulu. Pernah mengalami musibah perampokan. Sekawanan  (bekerja dalam tim) perampok menggasak isi rumah orang tua.  Barang  yang bernilai  dan uang digasaknya.  Mereka ada sekitar delapan orang.  Bersenjata  badik terhunus  mereka  menguras  isi rumah.  Para perampok  meningglkan  rumah orang tua  dengan santai, meski para tetangga terbangun  dan mengintip dari jendela  kamar. Tidak berani keluar membantu. Kawanan rampok  yang dibekali  badik adalah   kekuatan yang sulit dikalahkan.  Beberapa minggu kemudian salah satu anggota  perampok  tertangkap  di pasar ketika sedang mencuri.  Di kawal polisi  anggota perampok tersebut  menyebutkan  salah satu rumah  yang pernah ia gasak. Salah satu rumah tersebut adalah rumah  orang tua saya.

Saat  melakukan olah  TKP (tempat kejadian perkara)   beberapa  warga  yang  lepas dari pengawalan polisi  memukul dan menendang  dengan  penuh tenaga  sang  perampok. Namun  si perampok  tidak merasakan  sakit sama sekali. Justru  warga yang  kesakitan.  Ketikal dipukul dengan kayu balok pun hasilnya sama. Baloknya yang patah. Aneh kan.  Namun  Pak Polisi  yang berpengalaman  tahu kelemahan si  Rampok.  Kekuatannya ada pada  batu yang dia tempatkan  di mulutnya. Setelah dikelurakan  dari mulut  si perampok. Kekuatannya juga  langsung hilang. Saat di tes sekali pukul  ia langsung  meringis kesakitan. Untungnya ia tidak menyanyikan lagu Citata Sakitnya tuh di sini, he he he.

Kembali ke soal  Bacan.  Persepsi  kolektor terhadap batu bacan  tentunya beragam. Ada yang melihat dari sisi  estetika,  kelangkaan,  nilai ekonomi  dan juga  segi magic.  Terlepas dari itu semua.  Siklus  ini akan terus berputar. Entah berapa lama akan bertahan. Berdasarkan  realita sebelumnya, kecintaan   dan nilai jual tinggi  terhadap  benda,  hewan  dan tumbuhan  selama ini memperlihatkan trend  siklus  yang sama.  Satu pesan bagi yang jadi follower.Jangan investasi  di akhir, karena ketika  anda akan melepas  bacan tersebut  untuk dijual  bisa jadi nilainya  sudah  jatuh kembali. Seperti yang sudah sudah. Bacan mana  Bacan mana, di mana.

Non Pegawai Negeri Sipil Bisa Berkarir di Lembaga Pemerintah

Kabar baru   kini  profesional yang biasa   bergiat  di lembaga swastaa  bisa  memasuki  Lembaga Pemerintah sebagai pejabat Eselon I.  Kompas  tanggal 29 Januari 2015  halaman pertama  mengatakan bahwa  Profesional bisa menjadi Eselon I.  Sesuai dengan Pasal 109 UU No 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Tentunya ada persetujuan dari Presiden. Jabatan  yang bisa diisi adalah Kepala Lembaga Pemerintah Non-kementrian,  Seperti BKN  (Balai Kepegawaian Negara)., BPKP (Badan Pengawasan Keuangan  dan Pembangunan). Jabatan tinggi Madya  adalah Eselaon I  seperti Sekertaris Jenderal, Direktur Jenderal, Kepala Badan di Kementrian dan Sekretaris Derah Provensi.

Sebagai praktisi  yang sudah  senior  di Lembaga Swasta   tentunya  memberi  banyak pilihan untuk berkarir.  Masalahnya sekarang,  ketika   orang profesional  yang di  Lembaga Swasta  sendiri  diperebutkan  (langka) dengan fasilitas yang jauh lebih  baik  agaknya sulit  memindahkan   mereka  ke Lembaga  Pemerintah.  Lembaga  Swasta  mau membayar para profesional dengan gaji tinggi, fasilitas  menunjang,  trip ke  beberapa negera  tanpa diributkan  oleh  LSM  dan Media.  Sedangkan   berkarir  di Lembaga Pemerintah   akan  disorot  kamarea wartawan dan siap jadi  sasaran empuk  kritikan  pengguna sosial media.

Keberadaan tenaga profesional   di  swasta  memang  langka.  Banyak  perusahaan  yang akhirnya  memilih  para  senior  yang duduk di top management  berasal dari  negara asing.  Perusahaan asing  yang  memilih  invest  di negeeri ini posisi  eksekutif   masih didominasi oleh warga asing.  Kalau  warga lokal  ujung  ujungnya  mentok sebagai  supervisor  atau  Senior  Manager.  Kecuali perusahaan  lokal  yang dikelola oleh  manajemen keluarga   masih bisa  ditangani oleh  orang lokal.

Para profesional yang sudah memasuki  masa pensiun  mungkin masih bisa  jadi  target  untuk direkrut. setelah usia 55 tahun  profesional  di Lembaga Swasta  sering kali  masih  meneruskan karirnya di perusahaan    karena  kompetensi  mereka tidak  tergantikan,  direkrut kembali sebagai konsultan. Ya  lantaran susah mencari  pengganti meskipun  pihak perusahaan   sudah melakukan  persiapan  regenari dengan menerapkan  sistem development. Namun  kondisi di lapangan tidak semudah itu. Ujungnya  ujungnya  ketika  proses  hand over  pimpinan top  dari  generasi  pertama  ke generasi kedua   dapat menimbulkan   kemerosotan  perusahaan. Lantara  proses  suksesi  gagal.

Kalau  begitu  posisi  profesional yang akan duduk di Lembaga Pemerintah  kemungkinan bisa berasal dari lembaga swasta  bidang  penelitian, riset dan jasa.  Profesional dari bidang manufacturing atau galangan kapal,  kemungkinan memilih berkair di  lembaga swasta. Karena  benefit yang diperoleh masih lebih  baik dan juga tidak ribet dengan urusan birokrasi  yang  panjang. Para profesional  dari lembaga swasta  suka dengan   kecepatan. Merubah  kebiasaan  para profesional   dari  cara  kerja yang praktis  dan cepat  menjadi  profesional yang  masih  menganut  sistem  birokrasi  bisa jadi menghambat  idealisme  profesional swasta.

Profesional lembaga swasta   yang berasal dari  lembaga  pendidikan,  LSM   dan peneliti   kemungkinan   dapat   diperoleh  dengan mudah untuk duduk sebagai  profesional  di eselaon I pemerintahan. Jumlahnya ada  banyak, hanya saja  latar belakang mereka  lebih  banyak  di tataran teori. Sementara  seorang profesional adalah  yang bisa  mengaplikasikan teori  di lapangan.

Masalah  bangsa adalah kompetensi  sumber  daya manusianya  yang  masih  terbatas. Ketika  Gross Domestic Bruto  untuk riset  and  Development masih nihil rasanya   tidak akan memperbaiki  People Development secara efektif. Bangsa ini  terlalu banyak melahirkan  orang pintar teori  dan kolektor  ijazah.

Inspirasi dari Norman Edwin Sahabat Alam

Norman Edwin udah lama tiada namun semanagt  Norman tidak mati. Hingga kini  setiap melihat dan membaca buku tentang Norman  selalu muncul inspirasi.  Norman lahir di  Sungai Gerong 16 Januari 1955. Meninggal di Gunung Aconcagua 21 Maret 1992.  Norman  adalah pendaki gunung, pengembara, pelayar lautan dan penulis kisah perjalanan. Norman pernah  mencapai puncak  gunung  tinggi di  beberapa tempat. Pernah menaklukkan  gunung salju di  Papua  Gunung Carstensz., Gunung Kilimanjaro Afrika, Gunung McKinley  Kanada, Gunung Elburs Soviet.

Penaklukan sungai  dengan jeram yang  berbahaya pernah ia taklukan. Ada melabuh Riam di Kapuas, Sungai Kayan,  Sungai Alas hingga Sungai Progo.  Penelusuran gua  juga ia tekuni. Panjat tebing pun  jagonya. Masih  dengan  petualangan, Norman juga  salah satu  anggota yang ikut  petualangan perahu Phinisi Amana Gappa dari Benoa  Bali  ke Madagaskar.

Prestasi  yang diiukir  oleh Norman patut diacungki jempol.  Dia menginspirasi  para pencinta alam  muda.  Banyak  hal yang bisa dipetik dari  Norman.  Dia  memandang,  sebagai pencinta alam  yang juga sahabat alam. Norman  suka menulis, suka belajar. Karyanya   banyak dimuat di media massa. Norman juga  pernah jadi wartawan untuk Mutiara,  Wartawan majalah Suara Alam, wartawan Kompas, pernah menjadi  kru ekspedisi Kompas ke sejumlah lokasi seperti ekspedisi  Way Kambas, ekspedisi Ujung Kulon, ekspedisi  Krakatau.

Norman Edwin  adalah  tokoh  yang suka bertualang,  pencinta alam   yang  tidak hanya  menghabiskan waktunya  untuk  jalan. Kegiatan  yang ia lakukan  adalah kegiatan yang didasari dengan passion.  Melakukan sesuatu dengan hobby  yang dibungkus dengan  jurnalistik  dapat dijadikan  profesi. Selamat bertualang

Kini  saat  teknologi  komunikasi makin berkembang,  ketika kemudahan mendokumentasikan  laporan perjalanan  makin gampang, tidak  banyak  penulis  yang bisa meniru  Norman.  Semoga  ke depan  Para pencinta alam   dan petualang   dapat  mendokumentasikan  laporan perjalanan mereka.  Tidak hanya  berfoto  narsis namun miskin data.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.