Dinamika UMK 2012
08 Des 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Dulu namanya UMR (Upah minimum Regional) lalu berubah menjadi Upah Minimum Kota atau UMK. UMK adalah tiga huruf yang paling sering dibicarakan kalangan Buruh atau Pekerja menjelang akhir tahun. Kenapa? karena di pengujung tahun ada tradisi antara Pekera/Buruh, Pengusaha dan Pemerintah untuk menetapkan sebuah angka dalam bentuk rupiah yang menentukan besar kecilnya penghasilan kaum Buruh. Angka tersebut menyangkut kenaikan upah Buruh/Pekerja.
Kalau dicermati perjanan UMK dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan. Sejak tahun 2000 hingga 2012, kenaikan UMK tertinggi terjadi pada tahun 2001 naik 38,5% dari tahun sebelumnya dan 2006 naik sebesar 22%. Adapun angka UMK dari tahun 2000 hingga 2012 seperti di bawah ini:
No Tahun UMK
1 2000 350.000
2 2001 485.000 (38,5%)
3 2002 585.000 (10,3%)
4 2003 535.000 (3,7%)
5 2004 555.000 (8,5%)
6 2005 602.000 (5,45%)
7 2006 635.000 (22%)
8 2007 815.000 (5,5%)
9 2008 860.000 (11,6%)
10 2009 960.000 (8.85%)
11 2010 1.045.000 (6,22%)
12 2011 1.180.000 (6,3%)
13 2012 1.310.000 (11%) Versi SK Gubernur Kepri Nomor 532 Tahun 2012. Keputusan ini ternyata belum final karena masih ada usulan revisi oleh Buruh.
Perjalanan kenaikan upah minimum setiap tahun selalu diwarnai polemik antara Buruh, Pengusaha dan Pemerintah. Menjelang akhir tahun tim survey harga turun ke pasar untuk menentukan KHL. Ada sejumlah titik lokasi pasar yang harus di survey. Setelah data diperoleh lalau diadakan perhitungan bersama. Data harga di pasar diolah. Data tersebut berasal dari data perwakilan pemerintah, perwakilan buruh dan perwakilan pengusaha (Apindo).
Masalah utama dalam menetapkan UMK ada pada penetapan KHL. Sebelum melangkah lebih jauh membahas polemik seputar penetapan KHL perlu diketahui dulu komponen penetapan KHL. Ada 48 komponen KHL sesuai Peraturan Menakertrans No 17/2005. Diantaranya makanan dan minuman terdiri atas 11 komponen, sandang pangan terdiri atas 8 komponen, perumahan terdiri atas 19 komponen. Khusus untuk komponen perlengkapan makan masih terdiri atas tiga bagian. Komponen Pendidikan terdiri 1 komponen, Komponen Kesehatan terdiri atas 3 komponen, dimana komponen sarana kesehatan masih dipecah lagi menjadi 5 komponen. Komponen transportasi ada 1 dan komponen Rekreasi dan tabungan ada 2.
Masalah klasik yang terus berulang setiap tahun adalah pembahasan komponen perumahan khususnya pada point sewa kamar. Bagian ini selalu menjadi ajang polemik berkepanjangan setiap tahun, bagian terpenting kedua adalah transportasi.
Lihat kondisi tahun ini, penetapan UMK juga tak lepas dari masalah KHL. Buruh ingin UMK sama dengan KHL sedangkan Pengusaha meninginginkan UMK bukan hanya dari sisi KHL, tapi juga dari sisi inflasi dan kemampuan perusahaan. Kalau Buruh melihat dasarnya penetapan hanya dari standar KHL sama dengan UMK, hanya ada satu pedoman. Sedangkan pengusaha memiliki dasar penetepan lebih dari satu.
Kronologis penetapan UMK 2012 sering dead lock. Pada bulan Oktober 2011 Dewan pengupahan Kota memulai pembahasan UMK 2012 dengan melakukan survey pasar untuk menentukan KHL. 3 November 2011 rapat belum membuahkan keputusan tentang UMK, Buruh minta UMK sama dengan KHL Rp 1.302.992 sedangkan pengusaha mengusulkan angka Rp 1.260.000. Rapat tanggal 14 November 2011 masing masing pihak (Pengusaha dan Buruh) bertahan pada angka masing masing. 17 November 2010 dead lock, Buruh menilai Apindo ingkar janji. Buruh merencakan demo dan mogok kerja. FSPMI buat survey sendiri dengan hasil KHL sebesar Rp 1.956.000. Apindo tetap pada angka KHL Rp 1.260.000 berdasarkan inflasi 5,4% dan pertumbuhan ekonomi 6,2%. Pengusaha merasa ada ancaman krisis Eropa dan banjir Thailand. 21 November 2011 Aliansi Serikat Pekerja meminta dukungan Komisi IV DPRD Batam agar Walikota Batam usulkan angka Rp 1.302.992 ke Gubernur Kepri. Buruh mengancam demo dan mogok. Walikota mengusulkan UMK dua versi angka sesuai KHL dan angka sesuai usulan pengusaha, sehari kemudian Walikota menyatakan akan ada versi Pemko Batam. Rabu 23 November 2010 puluhan ribu buruh demo di beberap tempat. Tanggal 24 November 2010 buruh mengamuk, pos polisi jadi sasaran pengrusakan dan pembakaran serta beberapa kendaraan milik pemerintah juga tak luput dari amarah buruh.
Gubernur Kepri akhirnya menetapkan UMK sebesar Rp 1.310.000,- untuk wilayah Batam. Tanggal 30 November 2010 Di salah satu media lokal Batam juga diberitakan tentang suasana yang sudah kondusif. Diberitakan bahwa KSBPSI (Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) mendukung UMK versi Gubernur.
Sedangkan di Media Indonesia Rabu 30 November 2010 liputan Amahl S Aswan yang mengutip pendapat Yoni Mulyo Widodo Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Batam mengatakan bahwa, sepanjang perundingan tidak pernah ada kesepakatan UMK Batam sebesar Rp 1.310.000,- Serikat pekerja tetap pada angka Rp 1.700.000,-
Tidak kompak. Apa yang diulas media lokal Batam beda dengan media nasional (Media Indonesia) mengenai UMK Kota Batam 2011. Lalu siapa yang harus dipegang. Di kalangan underground sendiri beredar rumor bahwa Buruh di Batam masih akan meneruskan perjuangan mereka melalui pendekatan demo dan mogok bahkan stop work hingga angka UMK Kota Batam sama dengan Rp 1.700.000,-. Jumat 2 Desember 2011 Head Line Batam Pos kembali mengangkat bahwa Pengusaha Tak hadiri Pertemuan di Graha Kerpi, Gubernur diminta revisi UMK. Lalu pada tanggal 5 Desember 2011 kembali Head Line Batam Pos mengulas UMK Batam tetap pada Rp 1.131.000,- akan direvisi setelah berjalan. Tanggal 7 Desember 2011 disebutkan bahwa UMK Batam diusulkan sebesar Rp 1.402.000.
Penulis mengamati bahwa dari tahun ke tahun sejak tahun 2001 hingga 2011 kenaikan UMK selalu diikuti dengan demo. Namun baru pada tahun 2011 inilah demo yang paling parah karena ada pengrusakan fasilitas, pembakaran kendaraan, sweeping pekerja dan pengrusakan pintu gerbang pabrik. Siapa yang disalahkan? Tentunya tak ada yang mengaku salah. Pihak buruh berargumen bahwa respon pemerintah terhadap buruh kurang. Walikota Batam tidk menemui Buruh saat demo berlangsung meski ia ada di Batam menurut Buruh. Hal ini memicu kemarahan Buruh. Saat demo berlangsung di Kantor Walikota aparat keamanan yang terdiri dari Polisi dan Pamong Praja juga manusia biasa yang bisa terpancing emosi saat mengendalikan puluhan ribu massa Buruh. Kalau polisi akhirnya menggunakan tembakan peluru karet atau gas air mata itu juga karena kondisi kejepit atau kepepet.
Dampak yang ditimbulkan dari demo Buruh pada tanggal 24 dan 25 November yang berujung pada tindakan anarkis adalah kerugian material dari fasilitas umum (pos polisi, mobil, lampu jalan, hingga kaca gedung ) . Kerugian di pihak perusahaan besar adalah produksi terhenti, pengiriman hasil produksi tidak on time. Biaya pengamanan bertambah. Dampak lainnya adalah perputaran uang juga berhenti karena banyak pelaku Usaha Kecil Menengah yang juga berhenti operasi.
Melihat kondisi dinamika perburuhan saat ini maka sudah saatnya berbenah, karena cara cara lama penetapan UMK selama sepuluh tahun terakhir terlalu banyak menguras energi. Survei pasar selama 12 bulan untuk menentukan KHL memakan energi. Lalu di akhir tahun diteruskan dengan perundingan penetapan UMK juga selalu membawa kekecewaan dari buruh. Kenaikan UMK tidak mampu mensejahterahkan Buruh beberapa tahun terakhir karena UMK selalau di bawah KHL. Ujung ujungnya Demo. Meski pada akhirnya Buruh mengalah juga. Lama lama Buruh juga punya batas. Tahun ini adalah waktu dimana kemarahan Buruh sudah tidak terbendung lagi. Tapi anehnya cara lama masih juga dipakai sebagai pedoman dalam menetapkan UMK oleh Tripartit.
Harusnya Peraturan Menakertrans No 17 tahun 2005 sebaiknya diganti. Karena ada komponen yang dianggap buruh belum dimasukkan sebagai bagian dari KHL. Saran lainnya adalah hilangkan pembahasan UMK secara tripartit dan kembalikan persolan upah pada hukum pasar antara pengusaha dan pekerja. Kalau perusahan mampu membayar lebih dan calon pekerja memiliki kompetensi yang baik kenapa tidak gaji ditentukan antara mereka. Begitu pun sebaliknya kalau komitmen pekerja kurang maka pengusaha juga bisa memberi ganjaran upah yang pantas dengan kemampuan sang calon tenaga kerja.
Akar masalah dari ketidaklancaran penetapan UMK Kota Batam menjadi bukti bahwa pemerintah tidak tegas, peragu, bahkan tipak punya nyali memimpin rakyatnya yang sedang marah. Ada apa di balik itu? Jawabya adalah tata kelola pemerintah yang tidak Transparan, Akuntabilitas, Responsible, Fair terhadap rakyatnya. Ketika pengusaha, pejabat dan aparat masih melakukan praktek Korupsi Kolusi dan Nepotisme maka jangan harap Kesejahteraan Buruh akan membaik. Kasihan.
Peringatan Hari AIDS Se Dunia Di Batam
06 Des 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Sabtu, Tanggal 3 Desember 2011 bertempat di Kampung Bule berlangsung peringatan Hari AIDS se Dunia. Dihadiri Mahasiswa , LSM, Perwakilan Pekerja dan Unsur Pemerintah. Rangkaian acara berlangsung sederhana. Dimulai dengan sambutan ketua panitia lalu diteruskan dengan menyalakan lilin serta mendengarkan kesaksian dua orang ODHA. Acara ditutup aksi teater.
Kedua orang ODHA yang memberikan kesaksian bergantian memberikan pengalaman mereka. Yang pertama memberikan kesaksian adalah seorang Ibu Rumah Tangga. Sang Ibu Rumah Tangga ini mengaku tideak pernah melakukan penyimpangan dalam rumah tangga, ia bingung ketika dirinya sudah terinfeksi Virus HIV dan positif AIDS. Ia sedih dan kecewa karena stigma masyarakat terhadap dirinya yang negatif. Ia juga harus rutin mengeluarkan biaya berobat yang tidak sedikit. Sambil menangis ia mengharap bantuan pemerintah daerah kota Batam agar membantu dirinya dalam berobat.
Seorang ODHA lainnya adalah lelaki beristri dan memiliki anak, saat positih HIV ia dijauhi keluarga. Bercerai dengan istri. Keluarga besarnya juga ada yang menolak si lelaki ini. Ia tahu diri kalau keluarganya menolak. Stigma sebagai ODHA membuat ia aktif di perkumpulan yang terdiri dari ODHA. Si lelaki ini mengatakan sejarah terinveksi HIV. Dulu ia sering “Jajan” tanpa pengaman”. Karena pada saat itu alat pengaman masih dianggap tabu. Tahun 2004 ia positif HIV. Kini berbagai penyakit sering muncul seperti diare, demam. Daya tahan tubuhnya sudah menurun maka tiap bulan ia rutin ke rumah sakit untuk berobat. Ia merasa tersiksa karena tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan sementara tiap bulan penyakit selalu menghampirinya. Karena itu ia mengharap kepada pemerintah agar diberi bantuan pengobatan dan diberikan pekerjaan agar bisa memiliki penghasilan.
Wakil Walikota Batam Rudi SE, MM dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan Hari AIDS sebaiknya tidak hanya sekadar seremony semata tapi ada langkah langkah kongret untuk mencegah penyebaran HIV AIDS di Batam. Rudi meminta kepada Kepala Dinas dan Anggota DPR D Kota Batam agar memperhatikan kondisi ini.
Peringatan Hari AIDS yang dilakukan di Kampung Bule berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga 22.00 WIB. Saat pementasan teater berlangsung sejumlah Bar di kampung Bule masih dikunjungi tamu yang mayoritas Bule. Dengan santainya mereka bergandengan tangan dengan pekerja malam sambil keluar masuk Bar. Rudi yang melihat kondisi tersebut saat menyampaikan sambutan mengharap agar dampak yang ditimbulkan oleh kehidupan malam tidak lagi melahirkan daftar baru penderita HIV AIDS di Kota Batam.
Catatan Seminar Kesehatan Batamindo 2011
29 Nov 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Bulan November awal, tepatnya tanggal 5 November 2011 Community Development Department PT Tunaskarya Indoswatsa melaksanakan agenda seminar kesehatan. Pembicara terdiri atas dr. Elsa Pontuluran dari Badan Kependudukan dan KB Nasional (dulu bernama BKKBN), Wenny Nur Anisa, S.Psi, M.Psi Manager Rekruitment PT Tunaskarya Indoswasta dan dr. Adam Herman dari BIP Klinik. Materi yang dibawakan terdiri atas Prilaku Seks dan Konsekuensinya, Penyakit TBC dibawakan oleh dr. Adam Herman dan Masalah Pemuda dan Bahaya Sex Bebas dalam Perspektif Psikologis.
Saat diskusi dengan staf YMKK (Yayasan Mitra Kesehatan Keluarga) Tarmizi terungkap data bahwa di Batam pengidap HIV AIDS sejak tahun 1992 hingga 2011 sudah ada 1.992 orang. Pada tahun 2011 terdapat 336 orang penderita HIV AIDS. Laki laki ada 140 orang dan perempuan ada 196 orang. Yang meninggal dunia ada 52 orang.
dr. Elsa mengatakan bahwa HIV adalah virus yang menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh tidak sanggup melawan kuman penyakit (inveksi) sedangkan AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit akibat menurunkan kekebalan tubuh. Salah satu penyebab timbulnya HIV AIDS adalah melalui sex bebas. Selain dampak penyakit seperti di atas, penyakit lain yang bisa timbul dari pergaulan sex bebas adalah penyakit menular sexual (penyakit kelamin seperti kencing nanah, raja singa).
Wenny Nur Annisa selaku pembicara sesi ke- dua menyampaikan kepada peserta seminar yang umumnya masih berusia muda kiat kiat menghadapi masalah sehubungan dengan masa transisi. Pembicara terkahir adalah dr. Adam Herman melengkapi seminar dengan informasi seputar penyakit TBC.
Seminar kesehatan ini diikuti sekitar seratus peserta dari perwakilan perusahaan dan unit kegiatan yang ada di Kawasan Industri Batamindo.
Tahun 2011 adalah tahun dimana ada dua peristiwa penting yang memperkuat penilaian keberhasilan pembangunan dengan melibatkan penyakit tak menular (Non –Communicable Diseases) dalam indikator kesehatan. Satu, adalah pertemuan tingkat tinggi Majelis Umum PBB tentang Non-Commucable Diseases (NCDs) pada bulan September 2011 di New York. Kedua adalah Determinan Sosial Kesehatan pada Oktober 2011 di Rio de Jenario Brasil. Isu penyakit tidak menular selain HIV AIDS telah menjadi perhatian karena dampak hebat yang ditimbulkan terhadap kesejahtaraan suatu bangsa.
HIV AIDS dan penyakit tidak menular termasuk di dalamnya penyakit degenaratif (serangan jantung, stroke, kanker, diabetes, penyakit pernapasan kronis) dipandang akan mendatangkan beban baru dan tantangan berat di berbagai negara. NCDs menyebabkan kematian 63 persen dari kematian global.
Di satu sisi perjuangan memberantas melawan HIV AIDS dan TBC serta Malaria masih berlangsung. Upaya penanggulangan penyakit ini juga menyedot anggaran negara. Menyedot perhatian pekerja kesehatan dan relawan yang berada di Yayasan atau NGO Kesehatan di seluruh belahan dunia. Target penanggulangan penyakit ini diharapkan kelar pada tahun 2015 sesuai target MDGs (Millenium Development Goals).
Rasanya upaya melawan dan menanggulangi HIV AIDS, TBC dan Malaria sulit kelar, padahal tahun 2015 makin dekat. Sejauh ini hasil yang diperoleh belum menandakan tanda tanda keberhasilan karena jumlah penderita HIV AIDS bukannya menurun. Sedangkan di satu sisi pemerintah akan diberi target baru berupa penanggulangan penyakit tak menular (NCDs) yang juga membutuhkan banyak anggaran. So what.
PT SIIX Pemenang Green Award IQC Convention BIC 2011
29 Nov 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in berita
Setelah berjuang di IQC Convention BIC 2011 tim Fortune dari PT SIIX akhirnya keluar sebagai juara kategori hijau (Green Award). Penulis menemui tim ini di sela sela pekerjaan di PT SIIX. Ada dua anggota tim yang menyediakan waktu untuk berbincang bincang dengan Etos mengenai keberhasilan mereka.
Meski baru bergabung dua tahun terakhir dalam convention , tepatnya sejak tahun 2010, PT Siix berhasil mendapatkan award kategori Green. Junaedi anggota tim Fortune mengatakan bahwa keikutsertaan mereka hingga mendapatkan pemenang kategori green adalah sangat suprise. Kami tidak menyangka akan mendapatkan hadiah karena keikutsertaan tim Fortune tidak disertai target tinggi.
Junaedi mengatakan bahwa dukungan Management sangat luar biasa terhadap tim QCC di PT SIIX. Support Mr. Tetsuo Nakai selaku Presiden Direktur sangat baiki. Beliau rajin memberi motivasi kepada anak anak. Saat latihan presentasi hingga lomba di Pacifik Palace Hotel beliau selalu hadir.
Tim Fortune PT SIIX berasal dari lintas departmen dan lintas jabatan. Anggota tim terdiri atas supervisor, leader hingga operator. Kami selalu menenakan kebersamaan saat pertemuan QCC berlangsung, tidak ada yang merasa atasan atau bahawan. Pertemuan QCC berlangsung penuh kekeluargaan. Itu mungkin salah satu rahasia kemenangan kami. Adanya keterbukaan dan persamaan membuat ide ide berjalan lancar, kata Junaedi.
Junaedi mengatakan bahwa PT SIIX selama ini sudah aktif dalam membudayakan prinsip Kaizen yang mirip dengan QCC. Karena itu tim Fortune tidak ada persiapan khusus seperti ikut pelatihan QCC. Apa yang ada dalam Kaizen dikembangkan sesuai dengan format laporan QCC yang dipersyaratkan oleh panitia pelaksana. Kesulitan kami ada saat menyesuaikan format laporan. Dalam kaizen kami terbiasa menjalanakan prinsip 5S, Sistem Saran dan Quality Circle.
Namun demikian Tim Fortune terus mendapat dukungan dari atasan. Belajar tiada henti menjadi modal kami. Di tempat kami, ada kebiasaan untuk melakukan presentasi sekali sebulan.
Yang menarik disampaikan oleh Junaedi dan Rudi anggota Tim Fortune saat memilih tema masalah seputar scrap material didasari atas tingginya scrap di PT Siix. Dari sanalah tim QCC melakukan brainstorming. Scrap kalau dibuang akan sia sia. Dari sana ada pemikiran untuk di daur ulang. Scrap lalu diolah lagi untuk keperluan mechanical part khususnya untuk bahan training untuk karyawan baru. Kalau memakai parth yang baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di samping itu scrap juga diolah menjadi jigg equipment. Selama ini jigg diperoleh dari suplier, padahal mengolah jigg simple. Rekan rekan memikirkan cara mengolah scrap menjadi jigg ternyata bisa.
Di PT Siix, pimpinan selalu menekankan pentingnya menjada prinsip Kaizen. Peduli pada lingkungan yang bersih. Saat ini kegiatan bersih bersih dalam konsep gotong royong malah dihidupkan. Pada saat acara gotong royong berlangsung tidak hanya sekadar membersihkan sampah namun juga sebagai sarana interaksi antara pekerja dengan atasan. Ternyata kegiatan ini dapat meningkatkan forum komunikasi atasan dan bawahan sekaligus menciptakan kebersamaan. Kegiatan membersihkan sampah tidak hanya dilakukan di dalam area pabrik. Pembersihan sampah juga dilakukan hingga di luar pabrik. Selamat.
IQC Convention BIC 2011
29 Nov 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in berita
PT Batamindo Investment Cakrawala menyelenggarakan IQC Convention Award Ceremony yang ke 14. Penyerahan Award diserahkan di Hotel Pasific Palace pada tanggal 14 November 2011. Ada 12 perusahaan yang terlibat dalam acara tersebut. Terdiri atas 37 tim.

Perusahaan yang terlibat convention terdiri atas PT BIC, PT PCI, PT Epson, PT SIIX, PT Yokogawa, PT Infineon, PT Unisem, PT NOK Asia Batam, PT Ciba Vision, PT Panasonic Shikoku Electronic Device Batam , PT Xenon Technologi, PT Exelitas Technology Indonesia.
Penjurian dilalkukan pada tanggal 20 Oktober 2011. Jury IQC kali ini ada 15 orang. Berasal dari PT BIC (Jacob Oreth), PT Southlink (Hasibuan), PT Xenon Technology ( Alfian dan Safruddin dan Ari), PT Unisem (Yakin Rahmat), PT Infineon (Yanti Ramadani), PT PSECB (Firdaus dan H. Purba), PT Ciba Vision (Yohannes dan Imam Santoso) dan PT Exelitas Technology Batam (Harianto dan Siti Hartina).
Ketua Panitia IQC Convention BIC 2011 adalah Rahmat Thamrin. Dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan QCC dari keseluruhan tim yang terlibat berhasil melakukan penghematan sebesar S$ 3. 138.484,75. Kategori pemenang terdiri 1 sebagai new comer, 4 tim pemenang kategori perunggu (Bronze), 16 tim kategori perak (silver), 15 tim mendapatkan kategori pemenang emas (Gold) . Ada 1 tim yang mendapatkan kategori outstanding. Selain itu juga ditetapkan tim terbaik kategori 3R dan Perusahaan terbaik.
Perusahaan yang menjadi kategori terbaik dalam IQC Convention Award kali ini adalah PT Yokogawa. Tim dari Yokogawa yang ikut sebanyak sebelas. Ada 9 tim yang mendapat kategori silver dan dua tim dapat gold. Perusahaan yang mendapat kategori Green adalah PT SIIX (Tim Fortune ). Tim Fortune berhasil melakuka penghematan sebesar S$ 10.886 dan perusahaan yang mendapatkan kategori outstanding adalah PT Xenon Technology (Tim Prime). Tim ini berhasil melakukan penghematan sebesar S$ 296.875,08
CSR Bukan Hanya Tanggung Jawab Perusahaan
11 Nov 2011 2 Komentar
in Artikel
Belakangan ini pembaca sering disuguhkan topik masalah CSR. Perda CSR adalah pembahasan yang menimbulkan polemik di masyarakat. Sehubungan dengan itu saya tertarik mengulas CSR dari sisi yang lain. Tentunya CSR yang saya maksud adalah yang berpedoman pada CSR ISO 26000. Perjalanan ISO 26000 cukup berliku, ada pembahasan si sejumlah negara selama rentang waktu yang panjang. Draft ISO 26000 selesai pada tahun 2009, lalu diimplementasikan pada tahun 2010.
Ruang lingkup CSR ISO 26000 sesungguhkan mencakup 7 bidang yakni : Tata Kelola Perusahaan, Hak Asasi Manusia, Praktek Perburuhan, Lingkungan , Praktek Operasional yang adil, Isu Konsumen, Keterlibatan masyarakat dan pengembangannya. Pelaku CSR yang kini hanya bergelut di bidang pengembangan masyarakat melalui program charity hanyalah salah satu bagian dari Keterlibatan masyarakat dan pengembangannya.
Ketika pemerintah mengajukan usulan Perda tentang CSR saya tidak terkejut bila pemerintah hanya melihat dari sisi kewajiban perusahaan mengalokasikan dana CSR. Kenapa? Karena paradigma yang dipakai selama ini adalah praktek CSR yang dibungkus pada kegiatan Charity, bukan CSR ISO 26000.
Kita tahu bersama jauh hari sebelum ISO 26000 hadir, sejak tahun 1990 an sudah ada perusahaan di Batam yang melaksanan praktek CSR (aspek pendekatan adalah pengembangan masyarakat ) . Sedangkan CSR ISO 26000 baru selesai draftnya tahun 2009 dan diimplementasikan pada tahun 2010. Ketika terjadi landasan berpikir CSR yang berbeda di lapangan itu adalah wajar.
Saya coba berdiskusi dengan teman- teman tentang polemik Perda CSR yang hangat dibahas saat ini. Saya hanya melihat dari sisi standarisasi penerapan CSR secara menyeluruh di dunia yang sudah dikemas dalam CSR ISO 26000. Saya sangat setuju kalau CSR ISO 26000 diterapkan. Alasan saya sederhana. Kalau CSR ISO 26000 diterapkan di masyarakat kita akan (semoga) merasakan banyak manfaat, diantaranya akan memajukan dunia usaha, meningkatkan image positif perusahaan, lingkungan hidup terpelihara, hak asami manusia ditegakkan, hubungan industrial yang harmonis dijalankan, menjauhi praktek korupsi nepotieme dan kolusi, menghindari penyogokan, menghindari kartel dan monopoli. Masyarakat dilibatkan dan dikembangan dari segi kemandirian, pendidika, kesehatan, dan teknologi. Bukankan ini sangat berguna dan ideal.
Kalau kita bahas ketujuh ruang lingkup CSR ISO 26000 kita akan melihat bidang tanggungjawab yang tidak hanya jadi urusan perusahaan saja, tapi menjadi tanggungjawab semua orang. Dari sisi Tata kelola Perusahaan. Ada prinsip dasar yang menjadi pedoman yakni Transparansi (keterbukaan informasi), Akuntabilitas, Pertanggungjawaban, Kemandirian, Kesetaraan dan Kewajaran. Dari sisi Hak asasi manusia ditegakkan maka tidak ada lagi perlakuan diskriminasi upah pekerja wanita dan pria, diskriminasi pekerjaan pekerja wanita dan pria, diskriminasi terhadap pekerjaan terhadap orang cacat. Dari sisi Praktek perburuhan maka jaminan sosial pekerja wajib diberikan, upah tidak boleh dibawah standar UMK, Ada perjanjian kerja yang mengikat antara pekerja dan pengusaha.
Dari sisi Lingkungan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan (tanggungjawab) yakni menjaga kelestarian hutan, megurangi pemakaian energi fosil, mengurangi pemanasan global, mencegah polusi. Menggunakan sumber daya yang berkelanjutan, mitigasi dan perusabahn terhadap perubahan iklmim, perlindungan dan pemulihan lingkungan .
Dari segi Praktek operasional yang adil tanggungjawab kita adalah anti korupsi, keterlibatan yang bertanggungjawab dalam politik, kompetisi yang adil.
Dari sisi Konsumen, tanggungjawab kita adalah melakukan praktek pemasaran, informasi dan kontrak yang adil. Bertanggungjawab terhadap kesadaran dan keselamatan konsumen, bertanggungjawab terhadap konsumsi yang berkelanjutan, menjaga data dan privasi konsumenh.
Dari segi tanggungjawab terhadap keterlibatan masyarakat dan pengembangannya adalah melibatkan dan mengembangankan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, pengembangan teknologi, pendidikan dan kebudayaan, kesehatan hingga peningkatan kapasitas masyarakat.
Ruang lingkup yang diperlihatkan di atas dari ketujuh bidang hanyalah acuan pelaksanaan, bukan harga mati harus sama dengan pedoman yang ada dalam CSR ISO 2600 karena tiap tiap daerah dan negara yang mengacu pada CSR ISO 26000 memiliki latar belakang budaya, sosial dan lingkungan yang berbeda. Sekali lagi ISO 26000 hanyalah pedoman.
Pertanyaan sekarang apakah CSR harus diukur dari sisi Dana? Jawabnya tentu tidak. Karena kalau melihat CSR dari sisi pengalokasian dana semata yang digunakan pada aspek keterlibatan dan pengembangan masyarakat lalu bagaimana dengan keenam ruang lingkup CSR ISO 26000 lainnya.
Tidak semua aspek yang ada dalam CSR ISO 26000 tersebut diselesaikan dengan dana tetapi yang dibutuhkan adalah etika dan komitmen. Bisa terjadi praktek yang berlawanan, kalau kita melihat CSR hanya dari sisi dana, misalnya di satu sisi ada perusahaan yang setia membawar dana CSR namun di satu sisi perusahaan tersebut aktif melakukan sogokan untuk memuluskan proyek mereka. Atau sang perusahaan aktif membayar dana CSR namun upah karyawannya sendiri di bawah UMK. Kemudian perusahaan tersebut dikatakan sebagai perusahaan yang peduli CSR dan mendapat penghargaan lalu dimuat di media massa.
CSR sesuangguhnya bukan pencitraan perusahaan. CSR juga bukan tentang ceremony. CSR bukan masalah pengalokasian dana. Ada kontradiksi dimana sejumlah perusahaan di Indonesia dikatakan berprestasi dalam menjalankan CSR sedangkan disisi lain berdasarkan data akurat pengusaha Indonesia yang melakukan bisnis di luar negeri dikenal sebagai tukang sogok.
Melihat dari kondisi tersebut sebaiknya pelaksanaan CSR bukan lagi jadi tanggungjawab perusahaan semata tapi menjadi tanggungjawab semua pihak. Kenapa saya katakan demikian karena CSR ISO 26000 kalau diaplikasikan sebetulnya tergantung etika dan komitmen kita kok. Misalnya komitmen tidak melakukan korupsi, sogokan, monopoli usaha, pencemaran atau konsumsi energi fosil secara berlebihan.
Kita harusnya malu saat bangsa Indonesia masuk rangking empat dari bawah sebagai negara tukang sogok tingkat dunia setelah China, Rusia dan Meksiko. Indonesia harusnya malu karena korupsi berada pada tangking 47 dari 66 negara. Dengan adanya implementasi CSR ISO 26000 maka korupsi adalah musuh utama perusahaan. Nah urusan perlawanan terhadap korupsi bukan hanya tugas perusahaan tapi tugas semua orang. Begitu pun pada aspek penghematan sumber daya alam berbasis fosil (minyak , gas, batu bara). Sesuai CSR ISO 26000 urusan lingkungan hidup adalah salah satu bidang yang harus rawat. Perusahaan tentunya berusaha melakukan penghematan misalnya mengganti lampu pijar dengan lampu hemat energi. Perushaan tambang bertanggungjawab melakukan recovery terhadap lahan yang sudah ditambang menjadi lahan yang terpelihara keseimbangan ekosistemnya. Tugas menjaga lingkungan bukan hanya milik perusahaan tapi juga tanggungjawab semua pihak.
Saya menyarankan kepada Regulator, kalau mau buat Perda yang berhubungan dengan CSR mungkin bisa membuat Perda dari salah satu ruang lingkup CSR ISO 26000, mislanya Perda dari sisi lingkungan hidup. Memberi penekanan pada penghematan sumber daya. Misalnya Perda larangan menggunakan lampu pijar yang boros energi listrik. Perda Larangan menggunakan energi listrik berbasis fosil untuk lampu penerangan dengan menggunakan energi matahari, panas bumi, atau energi angin. Berdasarkan data, cadangan Minyak Indonesia habis dalam 12 tahun mendatang. Cadangan minyak Indonesia saat tersisa 3,8 miliar barel. Kalau diambil 900 ribu barel per hari, 12 tahun kemudian cadangan tersebut akan habis.
Di China ada Walikota Xia bernama Shi Zhengrong, dia adalah pemimpin dalam pembuatan sel surya fotovoltaik silikon yang mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Belajarlah sampai ke Negeri China.
Ekspedisi Bakti Sosial Pulau Kasu
11 Okt 2011 1 Komentar
in berita
Setelah sempat tertunda, ekspedisi bakti sosial dapat berjalan. Sabtu 1 Oktober 2011, ada empat belas relawan dari PT Tunaskarya Indoswasta menjalankan aksi sosial di SDN 001, SMPN 007 dan SMAN 007 Pulau Kasu. Sebelum tiba di Pulau Kasu relawan dijemput di kantor dan mess karyawan. Sejak pukul 06.30 satu demi satu relawan berkumpul. Mobil van berwana putih akhirnya meluncur ke Pelabuhan Sekupang. Barang bawaan di angkut satu demi satu. Ada berbagai perlengkapan seperti in fokus, lap top, kertas clip chart, towa, dan sejumlah alat peraga serta perlengkapan out bound di drop dari mobil van ke perahu kayu berukuran enam kali satu setengah meter.
Pukul 08.30 relawan tiba di Pelabuhan Sekupang. Kepala SMAN 007 Pulau Kasu sudah lebih dulu berada di sana, menunggu relawan. Aktivitas di pelabuhan Sekupang terlihat sibuk. Ratusan penumpang datang dan pergi. Kesibukan sudah terlihat sejak memasuki halaman parkir Pelabuhan Sekupang. Ada ratusan mobil pribadi dan mobil komersial yang parkir. Kesibukan di Pelabuhan Sekupang paling tinggi di banding pelabuhan laut lainnya di Pulau Batam, karena di tempat ini adalah jalur keluar masuk warga dari sejumlah wilayah di tanah air. Ada sarana pelabuhan khusus untuk penumpang antar pulau, antar propensi hingga jalur antar negara.
Udara tampak cerah. Hanya angin yang bertiup cukup kencang. Perjalanan menuju Pulau Kasu dari Sekupang ditempuh 35 menit. Puluhan pulau kecil terlihat sepanjang perjalanan, gugusan pulau mulau dari Pulau Belakang Padang, Pulau Sambu, Pulau Sekilak, Pulau Cantik. Diantara pulau yang dilewati banyak pulau kecil yang tidak berpenghuni. Sepuluh menit menjelang tiba di Pulau Kasu hujan turun. Plastik terpal berwarna biru diturunkan. Saat berpapasan dengan speed boat membuat ombak menjadi lebih tinggi. Hal ini membuat Penumpang boat berteriak memberi semangat terhadap relawan yang ketakutan karena terjangan ombak membuat perahu seakan melayang.
Tiba di dermaga Pulau Kasu. Jalan agak licin. Hati hati membawa barang bawaan dari boat ke atas dermaga. Hujan masih deras. Awan terlihat gelap. Setelah perlengkapan telah terkumpul. Relawan menembus hujan menuju gedung SDN 006. Membawa perlengkapan sambil kehujanan. Beberapa menit kemudian relawan tiba di SDN 006, Bernaung sambil membagi tim menjadi tiga kelompok sesuai tugas yang telah diberikan oleh koordinator lapangan. Tim SDN 006 yang dikoordinir oleh Andre mempersiapkan perlengkapan lalu menuju ruang pertemuan yang telah dipenuhi pelajar kelas enam SDN 006.
Dari sini sebagian peserta bergerak ke SMPN 007 dan SMAN 007 yang berada di atas bukit Pulau Kasu. Mayoritas penduduk berdiam di pesisir pantai. Memudahkan aktivitas mereka sebagai nelayan. Bangunan sekolah semuanya berlokasi di atas bukit. Ada seribu kepala keluarga yang berdiam di Pulau Kasu. Pelajar yang menempuh pendidikan di Pulau Kasu ada yang berasal dari pulau sekitar Pulau Kasu. Mayoritas warga (90 persen) pulau Kasu adalah nelayan tradisional. Penghasilan melaut setiap hari sekitar Rp 70 – ribuan. Masalah utama warga adalah keterbatasan air bersih.
Kegiatan belajar mengajar di Pulu Kasu tidak lepas dari pengaruh musim. Saat musim melaut tiba, banyak anak sekolah yang ikut orang tua mereka ke laut mencari ikan. Hal ini membuat proses belajar mengajar agak terhambat. Kadang ruang kelas tidak terisi penuh siswa karena memilih pergi melaut. Perlu komitmen tinggi dari orang tua siswa agar mendorong anak anak mereka serius menempuh pendidikan dan tidak cepat berpuas diri, demikian masukan dari tokoh pendidikan di Pulau Kasu.
Kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh CDD PT Tunaskarya Indoswasta fokus pada pendidikan. Tiga tim diturunkan untuk memberikan pembekalan terhadap siswa siswi di sana. Relawan yang diturunkan di SMAN 007 terdiri atas Wallid, Agus, Gloria dan Rusli. Materi yang berikan adalah Teknik membuat Curiculum Vitae (CV) dan Wawancara Kerja serta Merubah Mind Set. Target yang diharapkan adalah peserta memahami cara efektif membuat CV dan menghadapi Wawancara Kerja. Materi perubahan cara pandang dikemas dengan menarik, video arts bertema motivasi juga ditampilkan.
Di SMPN 007 tim membawakan tema pentingnya meraih Dream. Dibawakan oleh Dian, Aan Pandelan, Yoga, Aji. Di SMPN 007 relawan membawakan materi dalam format ceramah dan games. Di SDN 006 relawan yang mendapingi terdiri atas Andre, Eva, Ewonk, Heru, Ratih. Materi yang disampaikan di SDN 006 adalah Metode mengingat effektif. Rangkaian acara bakti sosial berakhir pada pukul 13.00.
Selama ini CDD PT Tunaskarya rutin melakukan kegiatan bakti sosial di sekolah hinterland yang ada di Batam. Sebelumnya, baksos diadakan di Pulau Buluh. Model pengabdian bukan pada charity tapi pada perubahan mind set. Dikemas dalam bentuk kegiatan out bound, pelatihan. Khususnya pelatihan mengadapi dunia kerja.
Palang Merah
22 Sep 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Artikel
Tahun 1859 pengusaha Swiss bernama Hendry Dunant yang melakukan perjalanan di Italia, menyaksikan perang Solferino yang mengerikan. Kembali ke Jenewa, Dunant menulis pengalamannya dalam sebuah buku berjudul A Memory of Solferino. Dalam buku tersebut Dunant mengajukan usulan untuk membantu korban perang.
Usulan pertama adalah perlu masa damai didirikan kelompok relawan di setiap negara supaya mereka siap merawat korban pada masa perang. Usulan kedua adalah perlunya negara negara menyepakati pemberian perlindungan bagi para petugas pertolongan dan korban di medan pertempuran.
Usulan pertama terwujud dengan dibentuknya Perhimpunan Nasional Palng Merah atau Bulan Sabit Merah (perhimpunan nasional) di banyak negara. Saat ini ada 185 Perhimpunan Nasional telah diakui oleh Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Internasional (gerakan). Usulan kedua terwujud dengan disusunya empat buah konvensi Jenewa 1949. Kini disetujui oleh semua negara di dunia.
Pengadopsian tanda pembeda tunggal yang dapat memberikan perlindungan bagi dinas militer, relawan pekerja pertolongan, korban konflik bersenjata merupakan salah satu tujuan utama dari sebuah komite lima orang pada tanggal 17 Februari 1863 mengadakan pertemuan mempelajari usulan Dunant. Komite inilah yang kemudian menjadi Komite Internasional palang Merah . Tanda pembeda (lambang) haruslah sederhana, mudah dikelanli dari jarak jauh, dikenal setiap orang, diakui teman dan musuh.
Konfrensi Jenewa tahun 1864 mengadopsi tanda palang merah di atas dasar putih yang merupakan kebalikan dari bendera Swiss. Dalam perang Rusia – Turki 1876-1878, kekaisaran Ottoman menyatakan akan menggunakan tanda bulan sabit merah sebagai lambangnya dan akan tetap menghormati lambang palng merah yang digunakan pihak musuh.
Satu Negara Satu Lambang Satu Gerakan Palang Merah Untuk Indonesia
22 Sep 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
PMI Cabang Batam merayakan ulang tahun PMI yang ke 66 di Hotel Melia Panorama pada hari Rabu 21 Septemebr 2011. Hadir Maaz Ismail dari Pemerintah Kota Batam, Manan Sasmita dari BP Kawasan Batam, Dr. Fahruddin Umar dari PMI Kepri, Sri Soedarsono Ketua PMI Cabang Batam, John Sulistiawan Wakil Ketua PMI Cabang Batam.
Acara ini diikuti ratusan peserta. Diawali tari persembahan, menyanyikan lagu mars PMI, sambutan pejabat dan panitia pelaksana dan ditutup acara pemberian penghargaan terhadap perusahaan yang telah terlibat kegiatan PMI di Batam.
Sri Soedarsono dalam sambutannya mengatakan bahwa PMI Cabang Batam telalah melakukan sejumlah aksi kemanusiaan, mendorong pemberdayaan masyarakat dalam koridor kenetralan. Sejak didirikan almarhum Soedarsono 21 tahun lalu, PMI Cabang Batam selalu siap jadi petugas sosial.
Sri Soedarsono mengatakan, saat ini ada 153 negara yang memakai lambang palang merah, 33 negara memakai lambang bulan sabit dan 1 negara memakai lambang kristal.
Lambang palang merah adalah netral. Palang merah dapat digunakan semua pihak mulai dari rumah sakit, militer, semua golongan tanpa mengenal suku, agama, rasa. Palang merah tidak boleh hanya diperuntukan hanya untuk golongan tertentu. Karena itu diharapkan kemurnian palang merah harus tetap dijaga. Tahun ini Palang Merah di Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke 66 dengan tema Satu Negara Satu Lambang Satu Gerakan Palang Merah Untuk Indonesia.
Juga disampaikan oleh Sri Soedarsono bahwa bank darah sebaiknya dimiliki oleh masing masing rumah sakit yang ada di Batam. Jadi pihak rumah sakit tidak seenaknya beli darah seperti membeli bakso. Diharapkan rumah sakit memiliki tempat penyimpanan darah (seperti lemari es). Hal yang tidak diinginkan adalah bila rumah sakit yang tidak memiliki bank darah saat membeli darah ditempat lain atau asing takut ada pihak yang tidak bertanggungjawab seperti memasukkan benda asing ke dalam kantong darah. Karena itu diharapkan pihak rumah sakit memiliki bank darah demi keamanan darah.
Sri Soedarsono juga mengatakan ucapan terim kasih pada Otorita Batam yang telah banyak membantu PMI Cabang Batam saat adanya bantuan asing untuk korban Tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Saat itu Batam menjadi Disaster internasional sehingga penerbangan internasional yang mengirimkan bantuan melalui udara dapat melewati bandara Hang Nadim dengan lancar dan cepat.
Ketua BP Kawasan Batam Manan Sasmita dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam rangka ulang tahun PMI yang ke 66 melihat adanya nilai nilai luhur warisan bangsa. PMI bangun dan berkembang sama usianya kemerdekaan negara Republik Indonesia.
Usai sambutan ketua PMI Cabang Batam memberikan penghargaan kepada PT Tunaskarya Indoswasta sebagai perusahaan yang telah aktif memberikan pembinaan terhadap pekerja di Kawasan Industri Batamindo sehingga melahirkan pengurus KSR PMI yang berkualitas selama 18 tahun. Penghargaan juga diberikan kepada pengurus KSR PMI Batamindo sebagai KSR teraktif di Pulau Batam, pemberian penghargaan kepada puluhan perusahaan yang telah menyukseskan kegiatan donor darah. Dan yang terakhir adalah pengukuhan pengurus angkatan pertaama KSR PMI Universitas Riau Batam.
TOT PIK Pekerja Muda Batamindo
19 Sep 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Bagaimana caranya agar remaja peduli terhadap resiko atau bahaya pergaulan bebas,HIV AIDS, free sex, drugs, trafficking? Jawabya tentu banyak. Nah salah satu upaya Biro Pemberdayaan Perempuan Provinsi Kepulauan Riau, BKKBN Prov Kepri dan CDD PT Tunaskarya Indoswata adalah melakukan program TOT atau Training Of Trainer terhadap pekerja Batamindo. Dilaksanakan selama dua hari Sabtu dan Minggu, 17 dan 18 September 2011. Bertempat di Pantai Khasanah Melayu Barelang.
Kegiatan ini adalah lanjutan program sebelumnya. Tahun 2010 sudah diadakan seminar mengenai PIK atau Pusat Informasi dan Konseling Remaja di Batamindo yang dihadiri pekerja dari berbagai perwakilan perusahaan. Objective kegiatan pada saat itu adalah pembentukan lembaga PIK di sejumlah perusahaan swasta yang ada di Kompleks Industri Batamindo.
Tahun ini pengembangan PIK di Batamindo tetap diteruskan. Setelah melakukan brainstorming akhirnya dipilih program pelatihan konselor remaja. Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Prov Kepri Dra Pudji Astuti, MT mendukung program ini. Pudji Astuti bahkan memberikan bantuan buku untuk perpustakaan PIK Pekerja Muda Batamindo. Pudji mengatakan bahwa kegiatan TOT yang dilaksanakan oleh Biro Pemberdayaan Perempuan Prov Kepri dan CDD PT Tunaskarya Indoswasta adalah sangat bermanfaat. Peserta tidak hanya paham akan mengenai persoalan seputar HIV AIDS, Drugs, Free Sex dan trafficking namun juga akan menjadi pekerja muda yang memiliki percaya diri yang tinggi, memiliki keahlian sebagai seorang pembicara publik, bisa menjadi seorang trainer. Minimal dapat menjadi MC di lingkungannya.
Ada 55 orang peserta TOT. Berasal dari pengurus Unit kegiatan yang ada di Batamindo (BMC, KSR PMI, Pramuka, Siaga Yudha Conversation English Club, Pencinta Alam Cumfire, Teater Obor) Perwakilan dari pekerja, perwakilan dari RT dan RW. Trainer berasal dari konsultan PT Tunaskarya Indoswasta (M. Rusli, Wallid, Aan Pandelan, Yoga, Agus, Andre) dari Biro PP Prov Kepri (Ibu Rozaleni) dan nara sumber dari BKKBN Prov Kepri (Ibu Nita).
Diawali di Blok A5 Dormitory ada upacara singkat, Pemberian buku sumbangan dari Biro PP Prov Kepri ke Perwakilan PT Tunaskarya. Lalu peserta TOT menuju Community Center menaiki bus berkapasitas 55 orang dan seterusnya menuju Pantai Khasanah Melayu Barelang. Tiba di lokasi pukul 17.00. Peserta TOT membentuk barisan sebagai upacara pembukaan. Sambutan dari ibu Rozaleni. Kemudian diteruskan pembentukan tim yang dipandu oleh Andre dan Aji dari PT Tunaskarya Indoswasta.
Usai sholat isya dan makan malam. Peserta TOT berkumpul di panggung utama pelatihan. Peserta yang sudah diberikan hand out dan alat tulis berkumpul dengan rapi mengikuti pemaparan materi TOT. Materi pertama adalah teori teori dasar sebagai seorang trainer dibawakan oleh Yoga. Materi kedua adalah penyajian materi power point yang dapat menghipnosis audience. Dibawakan oleh Aan Pandelan. Materi ketiga adalah Teknik NLP mengatasi kecemasan dibawakan oleh Agus dan Materi keempat adalah membuat Silabus oleh M. Rusli.
Hari kedua pelatihan diteruskan dengan materi yang lebih menekankan pada aspek peraktek. Pada sesi hari kedua peserta belajar teknik olah vokal yang dipandu oleh Andre yang juga pemain Teater Obor, usai latihan vokal diteruskan dengan olahraga pemanasan. Usai sarapan pagi peserta dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok didampingi masing masing 3 supervior lapangan.
Keempat tim diberi tugas untuk membuat silabur, simulai, ice breker atau game dan membuat bahan presentasi. Topik yang dibawakan terdiri atas Trafficking, Free Sex, Drugs dan HIV AIDS. Peserta TOT diberi tugas selama satu setengah jam untuk melakukan persiapan.
Pukul 10.00 seluruh peserta berkumpul di panggung utama. Kelompok pertama yang tampil membawakan tema trafficking. Tim ini mengemas bahan training dengan sebuah simulai berkonsep wayang orang. seluruh anggota tim terlibat dan mendapat peran. Seluruh peserta diminta tampil maksimum. Untuk mendukung presentasi mereka segala alat pendukung properti bisa digunakan seperti musik, kayu, balon, kertas, tali.
Kelompok satu yang membawakan wayang mengangkat cerita tentang perdagangan perempuan antar negara Indonesia dan Malaysia. Ceritanya tentang kebutuhan tenaga kerja wanita yang akan dipekerjakan di Malaysia sebagai pegawai di restoran. Ada pencari kerja turun di pelosok daerah yang miskin dan berpendidikan rendah lalu meniming imingi calon pekerja dengan gaji tinggi. Ada agen yang bertugas mengatur korban hingga ke luar negeri. Kemudian si korban di jerumuskan sebagai pekerja di dunia malam. Setelah itu ada malaikat penolong yang membebaskan korban dari praktek trafficking. Pementasan kelompok satu mampu meyakinkan audience. Setelah membawakan simulai , kelompok ini mempresentasikan permasalahan seputar traffiking dalam teori dan data secara sistimatis dan menarik.
Kelompok kedua tampil dengan konsep yang tak kalah dengan kelompok sebelumnya. Kelompok kedua membawakan simulai musik accustik yang dipadukan dengan teater. Kelompok ini tampil segar dan kocak. Cerita yang dibawakan mengenai free sex. Seluruh peserta ada yang menjadi aktor, penyanyi dan penari. Kisah teater yang dibawakan adalah pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan. Simulasi ini berlangsung menarik. Begitu juga dengan presentasi yang dibawakan sarat dengan data pendukung, serta saran dan rekomendasi agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas.
Kelompok ke tiga membawakan konsep pameran. Tema yang diangkat adalah HIV AIDS. Masing masing peserta berperan sebagai slide berjalan yang berisi data tentang HIV AIDS.
Kelompok keempat membawakan konsep Pantomim. Tema yang diangkat adalah Drugs. Masing anggota tim pada kelompok ini juga tampil maksimum.
Seluruh tim peserta TOT sukses membawakan tugas mereka. penampilan terbaik satu hingga empat mendapat apresiasi dari panitia pelaksana berupa buku. Di akhir acara Ibu Nita dari BKKBN Prov Kepri memperkaya pengetahuan peserta TOT tentang peran dan tanggungjawab sebagai anggota PIK. Seluruh rangkaian acara berakhir pada pukul 14.30. Sesaat kemudian tim trainer dan peserta balik ke Batam dan Tanjung Pinang.



































Komentar Terakhir